Limit Transaksi Gadai Emas Maksimal 250 Juta Rupiah

Bank Indonesia segera mengeluarkan surat edaran tentang batas maksimal atau limit transaksi gadai emas di perbankan syariah yaitu maksimal 250 juta rupiah. Pembatasan itu diharapkan bisa mencegah dimanfaatkannya produk tersebut sebagai ajang spekulasi.

“Sudah selesai, sekarang lagi legal review sama Direktorat Hukum. Kalau selesai, tinggal diteken,” kata Direktur Direktorat Perbankan Syariah, Bank Indonesia, Mulya Siregar, di Jakarta, pekan lalu.

Dia menjelaskan, bank syariah hanya boleh memberikan plafon maksimal 250 juta rupiah dari draf sebelumnya hanya 100 juta rupiah. Selain itu, BI akan menerbitkan surat edaran terkait gadai emas yang dilakukan bank syariah. Surat edaran itu salah satunya membahas mengenai besaran pemberian kredit terhadap nilai barang (loan to value/LTV).

Menurut Mulya, loan to value produk gadai emas tidak boleh lebih dari 80 persen dari plafon yang ditentukan. Hal itu bertujuan untuk menghindari adanya spekulasi dalam produk gadai emas.

Berkaitan dengan besaran plafon, beberapa bank memberikan usulan berbeda. BRI Syariah mengusulkan limit transaksi gadai emas sebesar 500 juta rupiah. Namun, pada saat itu, Bank Indonesia masih menginginkan limit transaksi hanya sekitar 100 juta rupiah.

“Jadi, kalau transaksi 100 juta rupiah, volumenya akan turun. Tapi, kalau bisa lebih dari itu bisa terjaga,” kata Direktur Bisnis BRI Syariah, Ari Purwandono, beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Mulya mengatakan, hal diatur di dalam surat edaran antara lain, pembatasan jumlah pembiayaan maksimal ke nasabah, atau loan to value (LTV) maksimal 80 persen, harga taksiran terhadap emas yang digadaikan, serta keharusan nasabah mencantumkan tujuan penggunaan dari gadai emas tersebut.

“Inti aturan itu adalah mengembalikan bisnis gadai emas ke asalnya, yaitu pinjaman mendesak untuk masyarakat yang membutuhkan dana,” kata Mulya.

Informasi Debitor

Mulya mengatakan, alasan mengatur kembali gadai emas, karena selama ini layanan itu kerap digunakan sebagai aksi spekulasi seiring dengan kenaikan harga emas. Untuk membedakan spekulan dan nasabah yang membutuhkan uang, bank syariah bisa menggunakan sistem informasi debitor.

Dari verifikasi itu akan terlihat rekam jejak nasabah yang hendak melakukan gadai, apakah memiliki tanggungan emas di bank lain yang belum dia tebus sehingga bank tidak bisa beralasan tidak tahu kalau dimanfaatkan nasabah spekulan. Dengan demikian, penerbitan SE lebih pada mencegah spekulan yang selama ini masuk berinvestasi ke gadai syariah.

Berdasarkan catatan BI, dari total 6,1 triliun rupiah pembiayaan gadai emas hingga September 2011, sebanyak 3,6 triliun rupiah lebih berasal dari pembiayaan di atas 100 juta rupiah. Sedangkan 2,4 triliun rupiah berasal dari pembiayaan kurang dari 100 juta rupiah.

“Namun persentasenya adalah 4 persen untuk orang di atas 100 juta rupiah dan 96 persen di bawah 100 juta rupiah. Jadi aturan ini sebenarnya untuk membatasi nasabah yang 4 persen atau sekitar empat ribuan yang diduga spekulan,” kata Mulya.

Sumber : KORAN-JAKARTA.COM

About these ads

Posted on February 20, 2012, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,140 other followers

%d bloggers like this: