BBM naik, kemana rupiah akan bergerak?

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali marak terdengar sejak akhir tahun lalu. Alasan pemerintah untuk melakukan opsi ini karena terdesak anggaran subsidi yang membengkak. Ditambah lagi dengan faktor eksternal di mana harga minyak dunia yang kian menanjak dalam beberapa bulan belakangan. Alhasil, beban yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.

Terkait hal itu, pemerintah memang sudah mengajukan sejumlah opsi kenaikan harga BBM subsidi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ada dua opsi yang diusulkan pemerintah, yakni menaikkan harga premium dan solar sebesar Rp 1.500 per liter dan membatasi subsidi sebesar Rp 2.000 per liter.

Keputusan pemerintah ini memicu kecemasan lain, yakni potensi melonjaknya tingkat inflasi pasca kenaikan BBM. “Jika tingkat inflasi tinggi pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, hal itu bisa mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate),” jelas Jimmy Dimas Wahyu, pengamat pasar modal. Dia meyakini, kenaikan BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter bakal mengerek angka inflasi hingga akhir tahun di atas perhitungan awal BI, yakni 5,5%.

Kendati begitu, Bank Indonesia (BI) masih yakin lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM hanya bersifat temporer. Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan, lonjakan inflasi yang terjadi akan mereda dalam jangka waktu tiga hingga empat bulan.

Dalam perhitungan BI, bila kenaikan harga BBM ditetapkan Rp 1.500 per liter, maka inflasi yang terjadi sampai akhir 2012 bisa mencapai 6,8%. Namun, bila keputusan yang diambil pemerintah adalah opsi subsidi tetap Rp 2.000 per liter, maka inflasi bisa berada pada kisaran 7%-7,1%. Kendati demikian, BI optimistis pada 2013 inflasi akan kembali ke level yang ditargetkan pemerintah, yakni di kisaran 4,5% plus/minus 1%.

“Kami tahu bahwa inflasi akan naik dalam waktu dekat, harga BBM berubah. Namun itu tidak berlangsung lama. One time shock saja. Oleh karena itu BI rate tidak perlu diubah,” ungkap Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, Jumat (8/3).

Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75%. Bank Indonesia menilai penahanan besaran suku bunga acuan ini masih konsisten dengan tekanan inflasi dari sisi fundamental.

Bukan hanya itu, bank sentral juga berpendapat, suku bunga acuan sebesar 5,75% masih kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak penurunan kinerja perekonomian dunia. “Terhadap rencana kebijakan pemerintah terkait bahan bakar minyak (BBM), BI memperkirakan dampak pada inflasi bersifat temporer dan inflasi akan kembali menurun sesuai kondisi fundamental perekonomian,” ungkap Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah, Kamis (8/3).

Kenaikan BBM berdampak positif

Executive Director dan Senior Economist UBS ASEAN Edward Teather juga sepakat kenaikan harga BBM subsidi akan memberi beban inflasi untuk jangka pendek. Namun secara jangka panjang, kenaikan harga BBM itu justru berdampak positif bagi Indonesia.

Edward beralasan, alokasi anggaran subsidi BBM bisa dimanfaatkan untuk mendanai pembangunan infrastruktur. “Bila harga BBM terlalu murah maka masyarakat mengonsumsi terlalu banyak bensin. Artinya Indonesia harus mengimpor lebih banyak minyak. Padahal lebih baik memperbesar belanja modal untuk jangka panjang,” ungkapnya dalam UBS Indonesia Conference 2012, Selasa (6/3).

UBS melihat ada kecenderungan inflasi naik pasca kenaikan harga BBM. Hanya saja, Edward menyatakan, kenaikan tersebut tak lantas berdampak buruk pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, UBS menilai saat ini perekonomian Indonesia sedang kuat dan kondisi kredit juga sedang bagus.

Begitu pula minat investor untuk berbisnis di Indonesia pun tetap tinggi. “Bila diminta memilih antara insentif pajak atau infrastruktur maka investor akan memilih infrastruktur sebagai insentif untuk melakukan bisnis di Indonesia,” kata Edward.

Fitch Ratings juga menyambut baik rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Lembaga pemeringkat rating ini menilai, bila kebijakan itu terealisasi akan berdampak positif pada peringkat surat utang Indonesia.

Dalam siaran persnya, Fitch megungkapkan, kebijakan itu akan membatasi dampak fiskal akibat naiknya harga minyak mentah dunia. Selain itu, Fitch menyatakan, kebijakan itu akan meningkatkan fleksibilitas fiskal. Fitch menyadari kebijakan pembatasan subsidi ini akan memicu inflasi. Namun, lembaga ini menilai laju inflasi hanya berdampak pada sementara waktu saja.

Namun, Fitch mengatakan, Indonesia harus menguatkan dana cadangannya untuk mengatasi capital outflows sejak pasar modalnya melemah. Catatan saja, cadangan devisa melorot US$ 0,9 miliar pada Januari 2012 lalu.

Tertekan untuk jangka pendek

Sementara, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Anton Gunawan berpendapat, tingkat inflasi tahun ini akan naik tinggi. “Kami memperkirakan akhir tahun inflasi akan berada di luar range BI, yakni hampir 7,9%. BI kalau masih konsisten dengan target menjaga inflasi, dugaan kami BI rate naik,” kata Anton.

Menurut Anton, besaran kenaikan BI rate antara 25 bps – 50 bps bergantung pada dampak inflasi yang terlihat pasca pemberlakuan kenaikan harga BBM subsidi April mendatang. “Jadi momen menaikkan (BI rate) kemungkinan terjadi pada Mei setelah kita melihat tingkat inflasi seperti apa,” lanjutnya.

Bagaimana nasib BI rate ke depannya secara langsung akan mempengaruhi pergerakan rupiah. Jimmy menjelaskan, jika BI rate dinaikkan, tentu dengan harapan bisa menekan laju inflasi. Nantinya, hal ini akan berdampak pada minimnya jumlah mata uang rupiah yang beredar di masyarakat sehingga mendorong penguatan mata uang Garuda.

“Kondisi ini juga berlaku sebaliknya, di mana, jika BI rate diturunkan, tingkat konsumsi akan meningkat sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Ujung-ujungnya, rupiah akan melemah,” papar Jimmy.

Jimmy meramal, pasca BBM dinaikkan, rupiah akan melemah untuk jangka pendek. “Saya memperkirakan hal ini berdasarkan sejarah kenaikan BBM di Indonesia pada 2005 dan 2008 lalu,” imbuhnya. Dia memprediksi, pelemahan rupiah untuk jangka pendek akan berada di kisaran 8.800-9.400.

Dealer Forex BAnk Rakyat Indonesia (BRI), Putu Andi Wijaya sependapat dengan Jimmy. Menurut Andi, rupiah akan tertekan untuk jangka pendek di kisaran 9.100-9.200. “Namun, pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama. Sebab, secara fundamental kondisi perekonomian Indonesia masih sangat baik,” jelas Andi.

Andi memprediksi, pasca kenaikan BBM per 1 April mendatang, BI akan mempelajari dulu bagaimana perkembangan inflasi tanah air. “Jika inflasi tinggi, besar kemungkinan BI akan menahan suku bunga acuannya di posisi 5,75%,” ungkapnya. Hingga akhir tahun, Andi memprediksi, pergerakan rupiah akan berada di kisaran 9.000-9.200.

Namun, Pengamat ekonomi, Tony Prasetiantono berbeda pendapat mengenai hal itu. Menurut Tony, tren penurunan BI rate yang cepat akhir tahun lalu menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah beberapa hari terakhir. BI rate berada di level 6,5% pada Oktober, dan menjadi 6% pada November.

“Inflasi rendah, BI rate turun. Tapi mereka lupa kalau ke depan inflasi akan naik. Padahal, BI rate ikut menyangga modal asing, daya tarik investasi asing. Dengan penurunan itu, lem kita kurang kuat jadinya bagi investor,” kata Tony, Rabu (14/3).

Tony juga bilang, dengan target inflasi maksimal akhir tahun 7%, posisi BI rate saat ini di 5,75% terlalu kecil. Level ini tepat diterapkan ketika inflasi di kisaran 3,65%. “Kalau kuartal kedua inflasi naik lagi. Apalagi dengan BBM akan naik. Rupiah masih sulit menguat. Belum ada sentimen yang membuat rupiah menguat. Tapi ada harapan Eropa membaik,” kata Tony.

Angka asumsi pertumbuhan ekonomi tahun ini juga dinilai menjadi pendorong investor melepas rupiah. Dalam asumsi makro yang disepakati pemerintah dan komisi XI DPR, target pertumbuhan ekonomi di kisaran 6,3% – 6,7%. Menurut Tony, angka tersebut tidak realistis dan justru mengundang keraguan pasar, sehingga mereka melepas rupiah. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi kita 6,5%.

Selain dipengaruhi sentimen dalam negeri, sentimen luar negeri juga turut mempengaruhi gerak rupiah. Harapan masih ada bagi penguatan rupiah jika kondisi Eropa membaik. Namun, bila di dalam negeri sentimen negatif akibat kenaikan BBM muncul, rupiah bisa kembali melemah.

“BI harus banyak melakukan intervensi. Sampai akhir tahun, saya perkirakan rupiah akan bergerak di Rp 9.000 – Rp 9.200 per dolar AS,” kata Tony.

 

Sumber : kontan.co.id

Posted on March 15, 2012, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,140 other followers

%d bloggers like this: