Blog Archives
Krisis Eropa Berlanjut, Pasar Finansial Indonesia Terancam
Guncangan ketidakpastian dari stabilitas Eropa, terutama memburuknya ekonomi Yunani, masih berlanjut. Investor akan terus melakukan aksi jual dan lebih memilih aset dalam bentuk dolar AS dan ini bisa mengancam pasar finansial Indonesia.
Analis Independen Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti) Yanuar Rizky mengatakan ancaman bagi pasar financial dan pasar modal Indonesia ini disebabkan kepemilikan asing terhadap underlying di Indonesia khususnya dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) cukup besar.
Apalagi diketahui akhir pekan lalu, Fitch Ratings menurunkan satu tingkat rating kredit Yunani. Ini berangkat dari keprihatinan negara tersebut yang tak dapat mengumpulkan dukungan politik yang dibutuhkan untuk mempertahankan keanggotaan Yunani di wilayah euro sebagai pemimpin. Ini juga menyangkut musim kampanye di Yunani menjelang pemilu nasional kedua dalam enam pekan ke depan atau sekitar Juni 2012.
Di waktu yang sama, Moody’s Investor Service juga menurunkan kembali peringkat 16 bank di Spanyol. Di antaranya adalah Banco Santander (SAN) SA dan Banco Bilbao Vizcaya Argentaria SA yang merupakan bank pemberi pinjaman terbesar di Spanyol. Keduanya dipotong tiga level lebih rendah menjadi A3.
“Investor akan melakukan aksi jual saham, dan rupiahnya untuk membeli mata uang dollar AS. Akhirnya saham dan rupiah akan kembali melorot,” ujarnya, Sabtu (19/5).
Read the rest of this entry
BBM naik, kemana rupiah akan bergerak?
Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali marak terdengar sejak akhir tahun lalu. Alasan pemerintah untuk melakukan opsi ini karena terdesak anggaran subsidi yang membengkak. Ditambah lagi dengan faktor eksternal di mana harga minyak dunia yang kian menanjak dalam beberapa bulan belakangan. Alhasil, beban yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.
Terkait hal itu, pemerintah memang sudah mengajukan sejumlah opsi kenaikan harga BBM subsidi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ada dua opsi yang diusulkan pemerintah, yakni menaikkan harga premium dan solar sebesar Rp 1.500 per liter dan membatasi subsidi sebesar Rp 2.000 per liter.
Keputusan pemerintah ini memicu kecemasan lain, yakni potensi melonjaknya tingkat inflasi pasca kenaikan BBM. “Jika tingkat inflasi tinggi pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, hal itu bisa mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate),” jelas Jimmy Dimas Wahyu, pengamat pasar modal. Dia meyakini, kenaikan BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter bakal mengerek angka inflasi hingga akhir tahun di atas perhitungan awal BI, yakni 5,5%.
Kendati begitu, Bank Indonesia (BI) masih yakin lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM hanya bersifat temporer. Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan, lonjakan inflasi yang terjadi akan mereda dalam jangka waktu tiga hingga empat bulan.
Dalam perhitungan BI, bila kenaikan harga BBM ditetapkan Rp 1.500 per liter, maka inflasi yang terjadi sampai akhir 2012 bisa mencapai 6,8%. Namun, bila keputusan yang diambil pemerintah adalah opsi subsidi tetap Rp 2.000 per liter, maka inflasi bisa berada pada kisaran 7%-7,1%. Kendati demikian, BI optimistis pada 2013 inflasi akan kembali ke level yang ditargetkan pemerintah, yakni di kisaran 4,5% plus/minus 1%.
Read the rest of this entry
Rupiah Selasa Siang Dekati Rp. 8.900 / Dolar
JAKARTA- Nilai tukar rupiah Selasa siang (1/11) turun mendekati angka Rp8.900 per dolar karena intervensi Jepang untuk menekan yen mendorong dolar AS menguat terhadap semua mata uang utama Asia, termasuk rupiah.
Rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, turun 40 poin menjadi Rp8.893 per dolar dari sebelumnya Rp8.850.
Analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan di Jakarta, Selasa mengatakan, pemerintah Jepang khawatir dengan kenaikan yen yang berlanjut terhadap dolar AS, maka produknya di pasar ekspor tidak akan dapat bersaing.