Defisit Bengkak, BBM Bersubsidi Tak Perlu Naik

Pemerintah memastikan, tak akan menaikkan harga BBM bersubsidi 2011 ini. Tapi, pemerintah diminta bekerja keras memenuhi target lifting 970 ribu barel per hari. Jika tidak, defisit semakin bengkak.

Eric Alexander Sugandi, ekonom Standard Chartered Bank mengatakan, melambungnya harga minyak mentah dunia tidak serta merta mengharuskan pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Apalagi, jika pemerintah bisa menaikkan lifting minyak.


Berdasarkan analisis sensitivitas Kementerian Keuangan, kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel, bisa menggerus defisit anggaran US$0-0,03 miliar. Jika pemerintah gagal memenuhi target liftingnya, 970 ribu barel, budget defisit bisa membengkak US$0-0,3 miliar setiap 10 ribu barel.

“Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak RI cenderung turun,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (9/3). Karena itu, lanjut Eric, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal BKF Bambang Brodjonegoro mengatakan, defisit anggaran bisa naik mencapai 2% dari target 1,8% dari GDP (Gross Domestic Product).

“Tapi, meski defisit naik, harga BBM bersubsidi belum tentu naik,” timpal Eric. Pasalnya, kondisi saat ini, berbeda dengan 2008 silam. Saat itu, belum ada konversi dari minyak tanah ke gas sehingga beban subsidi sangat besar. “Sekarang, pengguna minyak tanah sudah banyak beralih ke gas,” ucap Eric.

Sumber : INILAH.COM

Posted on March 10, 2011, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: