Monthly Archives: May 2011

Lepas Kepemilikan, Saham HRUM Melorot

Saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) langsung merosot setelah munculnya kabar pelepasan saham milik Kiki Barki sebesar 10%. Saham HRUM merosot di tengah pergerakan saham lain yang stabil.

Pada perdagangan Senin (30/5/2011) pukul 11.00 waktu JATS, saham HRUM tercatat turun Rp 300 (3,14%) ke level Rp 9.250, dengan volume transaksi mencapai Rp 21,4 miliar. Sementara IHSG tercatat turun 3,925 poin (0,10%) ke level 3.828,453.

Sejak mengawali perdagangan, saham HRUM langsung merosot. Hal itu terjadi setelah Kiki Barki dikabarkan melepas 10% saham HRUM atau setara dengan 270 juta lembar saham senilai US$ 301,7 juta.

Kiki Barki yang kini tercatat sebagai orang terkaya ke 595 di dunia versi majalah Forbes itu, kabarnya akan melepas saham HRUM di level 9.050-9.550 per lembarnya. Saat ini, Kiki Barki melalui Karunia Bara menguasai sebanyak 79,72% saham di emiten berkode HRUM itu.

HRUM merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar Indonesia. Pada tahun 2010, HRUM berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp Rp 823,94 miliar, naik 7,36% dari periode 2009 yang sebesar Rp 767,47 miliar. Laba ditopang oleh hasil dari perusahaan asosiasi yang mencapai Rp 131,94 miliar.

Sumber: detikcom

Advertisements

Borneo Lumbung Energi (BORN) 25 Mei 2011

Krisis di Eropa yang belum kunjung usai menjadi pemicu turunnya IHSG yang cukup dalam pada hari Senin, namun seiring dengan harga minyak yang terus mendekati $100 perbarel membuat saham BORN dapat pulih dari keterpurukannya.

Setelah mencapai harga terendah di level 1.430 maka secara perkasa untuk 2 hari berturut-turut bangkit dan ditutup pada level 1.530. Apabila resisten di level 1.560 dapat ditembus maka saham BORN akan berpotensi menuju level 1.620 didukung oleh indikator Stochastic yang telah golden cross serta indikator MACD yang mulai mengarah positif.

S : 1.480 — R : 1.560

Krisis Eropa Meluas, Bursa Asia Terhempas

Pasar saham di kawasan Asia kemarin terguncang. Pemicu utamanya adalah krisis utang negara Eropa yang berpotensi meluas.

Indeks Shanghai memimpin kejatuhan bursa saham Asia dengan penurunan 2,90%, diikuti Kospi terpangkas 2,64%. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 2,44%, Hang Seng turun 2,11%, indeks Straits Times terkoreksi 1,83%, dan BSE Bombay menyusut 1,82%. Sementara indeks Nikkei menurun 1,52%.
Read the rest of this entry

INDF Mengalami Penurunan Terbesar Dalam 7 Bulan Terakhir

Saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF) pagi ini mengalami penurunan terbesar dalam tujuh bulan terakhir. Pada pukul 11.20, saham INDF anjlok 5,3% menjadi Rp 5.350. Ini merupakan penurunan paling besar sejak 7 Oktober 2010 lalu.

Anjloknya saham INDF terkait dengan penetapan harga initial public offering PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) yang ditetapkan sebesar Rp 1.100. Harga tersebut berada di level rendah dari kisaran harga yang ditetapkan yakni Rp 1.060 hingga Rp 1.700.

Catatan saja, PT SIMP merupakan anak usaha INDF.

Sumber : KONTAN.CO.ID

Indo Tambang Raya Megah (ITMG) 20 Mei 2011

IHSG yang telah memecahkan rekor pada bulan Mei ini akan rawan koreksi kedepannya, namun penurunan yang dalam masih dapat dicegah apabila harga minyak masih bertengger di atas $100 dan saham-saham batubara dapat kembali pada pola uptrend.

Saham ITMG sebagai leader untuk saham batubara saat ini telah ditutup hijau untuk 3x berturut-turut, dan trend jangka panjang downtrend sudah mulai berbalik arah menjadi sideways. Kuncinya adalah bila dalam beberapa hari kedepan saham ITMG dapat menembus level resisten 48.000 maka akan membuat saham ITMG uptrend kembali, didukung oleh indikator MACD yang telah golden cross dan positif kembali.

S : 46.300 — R : 48.000

Ikuti BI Rate, LPS Tahan Bunga Penjaminan

Rapat Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sepakat menahan tingkat suku bunga penjaminan simpanan nasabah di bank umum di level 7,25% untuk periode 15 Mei-14 September 2011, mengikuti BI Rate yang bertahan di 6,75%.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris LPS M. Iman Pinuji kepada detikFinance, Jumat (13/5/2011).

Read the rest of this entry

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 11 Mei 2011

Menjelang pengumuman BI Rate maka saham BBRI telah rebound dan mulai menunjukkan kekuatannya sebagai saham bank papan atas. Ditunjang oleh pembagian dividen sebesar Rp. 70 pada tanggal 27 Mei 2011 maka saham BBRI akan kembali pada area uptrend dengan target harga terdekat adalah Rp. 6.450.

Indikator Stochastic telah golden cross dan indikator MACD perlahan-lahan mulai menanjak keatas, sehingga bila saham BBRI dapat bermain diatas level MA20 akan membuat saham BBRI berada digaris uptrend kembali.

S : 6.050 — R : 6.450

Adaro Energy (ADRO) 06 Mei 2011

Koreksi tajam pada harga komoditas minyak yang turun kembali ke level dibawah $100 membuat saham-saham batubara tertekan. Namun dengan kenaikan tinggi pada tanggal 05 Mei 2011 yang disertai volume untuk saham ADRO dan juga INDY memberikan peluang emas untuk mengoleksi saham-saham ini, selain karena faktor krisis di Afrika Utara yang memang belum kunjung usai.

Saham ADRO telah melewati resisten kuat di level 2.250 dan berpotensi untuk terus melanjutkan penguatannya ke level 2.400, didukung oleh indikator MACD yang telah golden cross.

S : 2.275 — R : 2.375

Harga Minyak Melorot Dibawah 100 Dolar

Kontrak harga minyak jatuh ke bawah level 100 dollar AS per barrel. Penyebabnya, harga komoditas mengalami penurunan terbesar dalam dua tahun terakhir akibat kecemasan bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan melambat dan dollar menguat atas euro.

Harga minyak anjlok 8,6 persen setelah Departemen Tenaga Kerja merilis data bahwa aplikasi pengajuan klaim pengangguran di AS naik ke level tertinggi sejak Agustus.
Read the rest of this entry

NJOP Tidak Kena Pajak Dinaikkan Maksimal Rp. 2 Juta

Menteri Keuangan Agus Martowardojo melakukan penyesuaian terhadap besaran Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) PBB. Besaran NJOPTKP dinaikkan dari maksimal Rp 12 juta menjadi Rp 24 juta.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Humas Kemenkeu Yudi Pramadi dalam siaran pers, Rabu (4/5/2011).

“Penyesuaian besaran NJOPTKP ini dilakukan seiring dengan perkembangan, ekonomi, moneter, dan harga umum objek pajak,” jelas Yudi.

Read the rest of this entry