Monthly Archives: December 2011

Ingin Sukses Investasi Emas? Jangan Ngutang!

Harga emas dunia saat ini terus naik turun karena dampak krisis ekonomi dunia. Untuk anda yang ingin berinvestasi emas batangan tak perlu khawatir membeli emas. Asalkan investasi ini diperoleh tidak dengan berutang.

Marketing Manajer Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Bambang Wijanarko mengatakan, investasi di produk emas batangan merupakan investasi untuk jangka panjang yang tujuannya adalah untuk memproteksi nilai dan kekayaan kita dari pelemahan daya beli uang atau yang biasa kita bahasakan dengan istilah inflasi.

“Itu sebabnya sangat tidak disarankan untuk melakukan investasi emas dalam jangka waktu yang singkat dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga emas, apalagi investasi tersebut dilakukan dengan cara berutang,” jelas Bambang kepada detikFinance, Senin (26/12/2011).
Read the rest of this entry

Advertisements

Ironis, euro justru dinyatakan proyek gagal oleh penggagasnya

Euro mengalami masa jaya setelah peluncurannya di 1999. Uni Eropa menggadang-gadang mata uang ini mampu menciptakan perekonomian Benua Biru yang lebih perkasa di mata dunia.

Sebenarnya, siapa penggagas mata uang tunggal euro? mari kita bernostalgia, salah satu negara yang memiliki ide integrasi ini adalah Belanda. Awal 1990-an, wacana penyatuan mata uang gencar di bicarakan.

Integrasi pasar Eropa diusulkan oleh Belanda yang merupakan negara paling berpengaruh dengan mengusung ekonomi terbuka dan berbasis pada sistem perdagangan bebas. Dengan ukuran dua kali lipat dari New Jersey, negara tersebut menempati urutan ke 16 negara terbesar di dunia. Secara fiskal, Negeri Kompeni ini lebih sehat dibanding Jerman.

Bahkan, karena sangat dipandang, Belanda telah menyumbang presiden pertama European Central Bank (ECB). Willem Frederik “Wim” Duisenberg, mengawal kinerja Bank Sentral Eropa sejak 1 Juli 1998 hingga 31 Oktober 2003.

Read the rest of this entry

Berapakah target koreksi harga emas beberapa bulan kedepan?

“Gold is absolute objectivity. It is blind, like justice. It has no politics and ideology, no likes or dislikes, no friends or enemies. All it recognizes is its possessor, whom it serves faithfully so long as he has it.”

-British historian Paul Johnson quoting Charles de Gaulle-

Harga emas mengalami penguatan sebesar 22% pada kuartal ketiga lalu, yang tercatat sebagai kenaikan kuartalan terpesat sejak 1986. Namun belakangan ini pergerakan pasar emas cenderung lesu dimana harganya mengalami penurunan terbesar mingguannya sejak September.

Oleh karena itu, banyak investor mulai mempertanyakan apakah pasar emas masih bullish atau malah telah berbalik arah dan menjadi bearish.  Selain itu saya juga berulangkali bertemu orang yang ingin tahu seberapa dalam emas bisa jatuh, apabila terjadi koreksi yang lumayan besar.  Maka saya memutuskan untuk menulis artikel mengenai emas terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pembahasan mengenai krisis hutang di Eropa maupun Amerika Serikat.

Secara garis besar ada 4 faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas pada saat ini, yaitu penguatan US dollar, pelemahan bursa saham dunia, technical selling dan tingkat inflasi yang menurun.  Mari kita melihat satu per satu berikut ini:

1) Menurut hemat saya, dolar AS yang makin perkasa akhir-akhir ini akan merupakan faktor utama yang dapat menekan harga emas dalam beberapa bulan kedepan.  Sebagai buktinya, korelasi antara emas dan US dollar misalnya meningkat ke -0.5, level terketatnya selama lebih dari 6 bulan, menyusul investor cenderung mencari perlindungan kedalam dolar dan obligasi AS ketimbang emas.  Sebelumnya di tahun ini, emas dan dolar AS justru bergerak searah ketika pasar diguncang oleh buruknya kondisi ekonomi dan politik di kawasan Eropa.

Read the rest of this entry

Beli Rumah di Atas Rp 500 Juta Wajib Dilaporkan ke PPATK

Mulai 20 Maret 2012, para konsumen yang membeli properti seperti rumah mewah diatas Rp 500 juta wajib dilaporkan ke Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Para pengembang bertugas melaporkan transaksi tersebut ke PPATK untuk mencegah adanya praktek pencucian uang.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan adanya regulasi baru tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang khususnya terkait dengan pertumbuhan transaksi properti komersial tahun depan. Ia sendiri mengaku ada kekhawatiran namun sebagai pengusaha, anggota REI akan mendukung ketentuan ini.

“Penjualan (properti) komersial masih bagus tahun ini, tapi yang kita khawatirkan soal PPATK, terkait melaporkan transaksi Rp 500 juta harus dilaporkan,” kata Setyo kepada detikFinance, Senin (12/12/2011)
Read the rest of this entry

ETF di Asia Tawarkan Potensi Investasi

Direktur Russel Investment kawasan Asia Pacific Ariff Sulthan berpendapat produk ETF menawarkan investasi yang potensial. Pertumbuhan dana kelolaan ETF global tahun 2009 sebesar 45,7 persen. Asia Pacific sendiri berkontribusi hingga 62,1% dari total pertumbuhan ETF global yang berasal dari pasar Jepang.

Ariff mengungkapkan hal tersebut dalam acara peluncuran kembali (Relaunching) ETF LQ45 yang diterbitkan oleh PT Indo Premier Securities , Kamis (8/12/2011) di Jakarta.

Menurut Ariff, ETF di Asia Pacific bertumbuh secara eksponensial. Sayangnya, lanjut dia, di Asia dan Pasific investor institusi kurang berminat terhadap produk ETF dibandingkan dengan di kawasan negara-negara Barat. Hal itu ditandai dengan kecilnya market ETF Asia Pacific yang hanya 6% dibandingkan dengan pasar global. “ETF yang sangat popular dari sisi aset hanya terkonsentrasi di 2 hingga 3 negara Asia saja,” ujarnya.

Agar ETF bisa berkembang sukses, Ariff berpendapat pelaku pasar perlu memperbesar skala produk. Diakui Ariff, market ETF Asia masih belum berkembang. “Kunci suksesnya tergantung kepada kemana dan bagaimana mendistribusikan produk tersebut,” tambahnya.
Read the rest of this entry

Inilah Alasan Krisis Lebih Buruk Dari 2008

Kondisi krisis global saat ini yang dipicu krisis utang Eropa dinilai lebih buruk dari kondisi krisis 2008.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Destry Damayanti di Jakarta, Rabu (7/12). “Krisis global akan lebih dalam dari 2008,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi krisis saat ini dipicu oleh hal-hal yang jauh berbeda dengan krisis 2008 dimana krisis bermula dari lebih satu negara di Eropa. Sementara pada 2008, hanya disebabkan kredit macet dari pembiayaan rumah atau subprime mortgage di AS.
“Karena dari 2008 bottom up mortgage, penyebabnya single country yaitu AS. Sehingga penanganannya lebih mudah. Walau recovery-nya hingga kini berjalan lamban,” tuturnya.
“Di euro zone penyebabnya top down. Disebabkan utang pemerintah di zona itu besar dan tidak disiplinnya mereka dalam menjalankan kewajiban. Krisis saat ini, negara yang terlibat multy countries,” tambahnya.

Manfaat Berinvestasi ETF

ETF (exchange-traded funds) pertama kali digulirkan oleh State Street Global Advisors pada 1993 dengan memperkenalkan indeks Standard & Poor’s 500 (SPDR). Sejak itu popularitas ETF terus tumbuh dan mengumpulkan aset dengan kecepatan yang tinggi. Cara termudah untuk memahami ETF adalah membayangkannya sebagai reksadana yang diperdagangkan seperti saham. Cara bertransaksi  yang seperti saham itu adalah salah satu dari banyak fitur yang membuat ETF menjadi begitu populer, terutama di kalangan investor profesional dan individual yang rajin bertransaksi.

Manfaat bertransaksi seperti saham
Cara termudah untuk menyoroti manfaat perdagangan ETF yang seperti saham adalah untuk membandingkannya dengan perdagangan reksadana. Pembentukan harga reksadana terjadi sehari sekali, menjelang penutupan bursa. Siapapun yang membeli reksadana pada hari itu mendapatkan harga yang sama, tak peduli pada jam berapa mereka melakukan pembelian pada hari itu.

Karena ETF dapat ditransaksikan sepanjang jam buka bursa (intraday) – seperti halnya saham dan obligasi tradisional – maka memberi kesempatan kepada investor untuk berspekulasi dengan memanfaatkan pergerakan pasar jangka pendek melalui transaksi efek tunggal. Sebagai contoh, jika S&P 500 mengalami lonjakan kenaikan harga  pada hari itu, investor dapat mencoba untuk mengambil keuntungan dari kenaikan ini dengan membeli ETF yang mencerminkan indeks (seperti SPDR). Investor juga dapat menahannya untuk beberapa jam selama harga terus naik dan menjualnya dengan mengambil untung sebelum bursa tutup. Investor reksadana yang mengacu pada S&P 500 tidak mempunyai kemampuan itu – sifat dasar cara perdagangan reksadana tidak memungkinkan investor spekulatif untuk mengambil keuntungan dari fluktuasi harian sekeranjang efek.

Read the rest of this entry

Lebih Aman Mana, Obligasi atau Saham?

Banyak investor, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, terjebak dengan pernyataan bahwa berinvestasi di obligasi lebih aman daripada saham. Hal ini tidak sepenuhnya benar.

Perencana Keuangan Benjamin Graham mengatakan, seharusnya para bertanya dulu, “tergantung kondisi dan harganya juga,” sebelum menyatakan mana yang lebih aman.

Sebuah contoh akan memberikan gambaran mengenai konsep ini. Bayangkan anda punya dua pilihan untuk berinvestasi. Pertama, surat utang alias obligasi korporasi dengan bunga 8,5% per tahun. Jika perusahaannya bangkrut, anda berada di baris ketiga yang akan menerima kembali uang anda, setelah para kreditur dan pemegang saham mendapatkan bagian hasil likuidasi aset.

Dalam situasi kebangkrutan seperti ini, biasanya dana para pemegang saham pengendali lebih diutamakan, setelah itu pemegang saham minoritas terakhir baru para kreditur, termasuk pemegang obligasi. Tetapi tiap perusahaan bisa juga menerapkan hal yang berbeda.

Sebaiknya, anda benar-benar menghindari adanya situasi bangkrut seperti ini karena sangat kompleks dan banyak investor baru yang belum sepenuhnya tahu mengenai tata cara kebangkrutan dalam situasi seperti di atas.

Pilihan kedua, adalah saham di sebuah perusahaan yang sama sekali tidak punya utang yang diperdagangkan pada p/e rasio 10, dengan imbal hasil 10%. Manajemennya bagus, penjualan stabil dan tumbuh lebih tinggi dari inflasi. Jika terjadi sesuatu terhadap perusahaan, maka para pemegang saham menjadi yang pertama dilayani karena tidak punya utang apalagi pemegang obligasi.

Read the rest of this entry