ETF di Asia Tawarkan Potensi Investasi

Direktur Russel Investment kawasan Asia Pacific Ariff Sulthan berpendapat produk ETF menawarkan investasi yang potensial. Pertumbuhan dana kelolaan ETF global tahun 2009 sebesar 45,7 persen. Asia Pacific sendiri berkontribusi hingga 62,1% dari total pertumbuhan ETF global yang berasal dari pasar Jepang.

Ariff mengungkapkan hal tersebut dalam acara peluncuran kembali (Relaunching) ETF LQ45 yang diterbitkan oleh PT Indo Premier Securities , Kamis (8/12/2011) di Jakarta.

Menurut Ariff, ETF di Asia Pacific bertumbuh secara eksponensial. Sayangnya, lanjut dia, di Asia dan Pasific investor institusi kurang berminat terhadap produk ETF dibandingkan dengan di kawasan negara-negara Barat. Hal itu ditandai dengan kecilnya market ETF Asia Pacific yang hanya 6% dibandingkan dengan pasar global. “ETF yang sangat popular dari sisi aset hanya terkonsentrasi di 2 hingga 3 negara Asia saja,” ujarnya.

Agar ETF bisa berkembang sukses, Ariff berpendapat pelaku pasar perlu memperbesar skala produk. Diakui Ariff, market ETF Asia masih belum berkembang. “Kunci suksesnya tergantung kepada kemana dan bagaimana mendistribusikan produk tersebut,” tambahnya.

Nikmati GDP
Sementara itu Presiden Direktur PT Indo Premier Investment Management (IPIM), John D Item mengungkapkan, investor domestik bisa memetik manfaat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui produk investasi Premier ETF LQ-45. Mengingat produk berbentuk Reksa Dana ini mampu mengurangi risiko fluktuasi saham individual, karena sudah terdiversifikasi secara optimal.

“Produk ETF LQ-45 lebih cocok dengan kondisi pasar yang bergejolak. Hanya dengan satu klik (order), investor bisa membeli 45 saham dalam waktu dua detik. Secara tidak langsung, investor telah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata John pada acara Re-launching Premier ETF LQ-45 di Hotel Shangri-la Jakarta, Kamis (8/12).

Di tengah membaiknya pertumbuhan ekonomi dan menguatnya fundamental ekonomi di dalam negeri, kata John, sudah sepatutnya investor lokal bisa memanfaatkan momentum ini untuk ikut mengambil keuntungan melalui investasi di ETF LQ-45. “Kami memperkirakan, ke depannya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 6,5 persen sampai 8 persen,” ucapnya.

John memaparkan, produk ETF LQ-45 lebih banyak memiliki keunggulan ketimbang produk reksa dana pada umumnya. Selain bisa mngurangi risiko fluktuasi saham individual, kata dia, ETF juga terbilang lebih fleksibel, karena nilai aktiva bersihnya (NAB) dievaluasi setiap saat.

“Investor juga memiliki keleluasaan bertransaksi setiap saat, karena produk ini diperdagangkan di bursa. Melalui ETF, investor bisa mengambil keuntungan lebih cepat dan mampu menghindari kerugian yang lebih besar hanya dengan satu klik, karena ETF sudah mewakili 45 saham berkapitalisasi besar dan paling likuid” tutur John.

Ia menjelaskan, ETF LQ-45 yang diperdagangkan di lantai bursa dengan kode saham R-LQ45X bisa dibeli melalui layanan Indo Premier Online Trading (IPOT) atau melalui broker di pasar sekunder. Menurut John, satu paket ETF yang terdiri dari 45 saham hanya membutuhkan nilai investasi sebesar Rp66 juta rupiah. “ETF ini juga bisa dibeli dalam satuan lot dengan nilai investasi sekitar Rp350 ribu,” ucapnya.

Guna menghindari kerugian bagi investor, kata John, produk ETF telah terlebih dahulu melakukan langkah antisipatif sebelum investor menanamkan modal. Pasalnya, sebanyak 45 saham di ETF LQ-45 merupakan milik perusahaan-perusahaan besar yang memiliki saham dengan tingkat likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi.

“Penetapan 45 saham ini dilakukan oleh BEI (Bursa Efek Indonesia) yang akan dipantau setiap enam bulan sekali. Jika ada saham  yang tingkat likuiditasnya melemah dan kapitalisasinya menurun, maka secara otomatis akan keluar dari basket ETF LQ-45 dan digantikan oleh saham baru yang memenuhi kriteria,” paparnya.

Jamin Likuiditas
Di sisi lain Direktur PT Indo Premier Securities Noviono Darmosusilo memastikan pihaknya akan bertindak sebagai participants dealer dalam transaksi produk ETF LQ45. Menurut Noviono, investor yang berminat membeli produk ETF LQ45 dapat memanfaatkan sistem teknologi online trading yang sudah dikembangkan oleh Indo Premier Securities. “Transaksi dapat dilakukan secara real time,” terangnya.

Lebih lanjut kata dia, produk ETF LQ45 dapat diperoleh di pasar primer dan pasar sekunder. Satuan unit penyertaan saat ini sudah dipecah lebih kecil agar transaksi lebih likuid. Ia menjelaskan kini unit terkecil di pasar primer dapat dibeli dengan harga Rp 67 juta per 1 unit kreasi yang setara dengan 1 juta unit penyertaan.

Tetap Positif
Analis CIMB Securities, Erwan Teguh memperkirakan bahwa hingga 2013 laju inflasi global akan terus mengalami kenaikan, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal menyentuh angka 7 persen. Kondisi ini tentunya akan menguntungkan perekonomian domestik, karena baik investor lokal maupun asing akan mengupayakan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Namun demikian, menurut Erwan, indikator yang tidak kalah pentingnya untuk mengundang investor adalah kekuatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. “Investor asing yang mau masuk ke Indonesia, selalu melihat nilai tukar rupiah terlebih dahulu,” kata Erwan saat menjadi pembicara pada acara Re-launching Premier ETF LQ-45 di Hotel Shangri-la Jakarta, Kamis (8/12).

Erwan menilai, sepanjang 2012 sampai 2013 perekonomian Indonesia relatif tidak menerima ancaman serius dari krisis ekonomi global. “Kalau ekspektasi bahwa Indonesia tidak akan terdampak (krisis), dipastikan investor domestik maupun asing akan lebih intensif menanamkan investasinya di sini,” tuturnya.

Namun demikian, lanjut Erwan, fluktuasi nilai tukar rupiah yang dipengaruh dollar Amerika Serikat (AS) tidak terlampau memberi dampak besar pada kenaikan angka inflasi. “Sampai 2013, diperkirakan fluktuasi yang dipengaruhi dollar Amerika belum akan stabil,” ucapnya.

Erwan menambahkan, sekalipun pada tahun mendatang pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), tetapi angka inflasi masih tetap bagus bagi kegiatan ekonomi domestik. “Pada 2008, kenaikan harga BBM tidak terlalu mempengaruhi inflasi. Namun, pada 2010 harga cabai yang mempengaruhi inflasi,” ucapnya.

Lebih lanjut Erwan mengatakan, upaya redenominasi nilai tukar rupiah yang tengah direncanakan Bank Indonesia (BI) juga tidak akan berpengaruh terhadap inflasi. “Mungkin rencana redenominasi ini hanya mengikuti negara-negara maju yang mata uangnya memiliki angka nol sedikit,” tutupnya.

Terkait kondisi market saham, Erwan memandang indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) naik dibandingkan dengan negara-negara lain. Jika dihitung sejak tahun 2009, market saham Indonesia baru naik lagi pada tahun 2003. Sementara kalau dihitung dari tahun tersebut, kenaikan indeks di BEI sudah melaju sampai 300 persen.

Menurut Erwan, kenaikan indeks di pasar saham Indonesia tersebut ditandai dengan naiknya PBV yang dalam jangka panjang terus bertumbuh. Kenaikan PBV terjadi pada perusahaan-perusahaan menengah dengan kualitas yang lebih menarik. Dalam jangka panjang strategi yang pas adalah buy dan hold. Saat ini, kata Erwan, sektor konsumer merupakan sektor yang cukup positif karena terkait dengan konsumsi domestik. Ia memberi saran kalau ingin masuk ke pasar saham pada 2012 dapat dimulai pada quarter kedua.

Minat Dana Pensiun
Produk ETF LQ45 tersebut ternyata mampu menarik perhatian kalangan pengelola dana pensiun. Investment & Membership Director Perhutani Pension Fund Sri Murtiningsih tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan investasi di produk ETF LQ45.

Sri mengatakan pihaknya membeli produk ETFLQ45 pada saat indeks LQ45 masih berada di level 602. Sedangkan saat ini indeks LQ45 sudah ke posisi 667. “Kita pernah hanya dalam 2 jam mendapat gain Rp 30 juta,” ujarnya kepada ipotnews.

Menurut Sri Dana Pensiun Perum Perhutani mengalokasikan investasi Rp 3 miliar di produk ETFLQ45. Jumlah tersebut setara dengan 20 basket (unit kreasi). Ia mengaku tertarik ETFLQ45 karena tak perlu pusing-pusing memikirkan pergerakan harga saham. Selain itu produk tersebut tidak memberi beban redemption fee dan management fee karena persentasenya sangat rendah.

Lebih lanjut Sri menyatakan total dana investasi Perum Perhutani Rp 800 miliar. Dana tersebut disebar dalam beberapa instrumen investasi seperti obligasi korporasi 10 persen, obligasi negara 10%  dan juga deposito serta reksadana. Sebagian besar investasi di instrumen saham yang persentasenya mencapai 50 persen.

Sumber : ipotnews.com

Posted on December 8, 2011, in Ekonomi Dan Investasi and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: