Berapakah target koreksi harga emas beberapa bulan kedepan?

“Gold is absolute objectivity. It is blind, like justice. It has no politics and ideology, no likes or dislikes, no friends or enemies. All it recognizes is its possessor, whom it serves faithfully so long as he has it.”

-British historian Paul Johnson quoting Charles de Gaulle-

Harga emas mengalami penguatan sebesar 22% pada kuartal ketiga lalu, yang tercatat sebagai kenaikan kuartalan terpesat sejak 1986. Namun belakangan ini pergerakan pasar emas cenderung lesu dimana harganya mengalami penurunan terbesar mingguannya sejak September.

Oleh karena itu, banyak investor mulai mempertanyakan apakah pasar emas masih bullish atau malah telah berbalik arah dan menjadi bearish.  Selain itu saya juga berulangkali bertemu orang yang ingin tahu seberapa dalam emas bisa jatuh, apabila terjadi koreksi yang lumayan besar.  Maka saya memutuskan untuk menulis artikel mengenai emas terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pembahasan mengenai krisis hutang di Eropa maupun Amerika Serikat.

Secara garis besar ada 4 faktor yang mempengaruhi pergerakan harga emas pada saat ini, yaitu penguatan US dollar, pelemahan bursa saham dunia, technical selling dan tingkat inflasi yang menurun.  Mari kita melihat satu per satu berikut ini:

1) Menurut hemat saya, dolar AS yang makin perkasa akhir-akhir ini akan merupakan faktor utama yang dapat menekan harga emas dalam beberapa bulan kedepan.  Sebagai buktinya, korelasi antara emas dan US dollar misalnya meningkat ke -0.5, level terketatnya selama lebih dari 6 bulan, menyusul investor cenderung mencari perlindungan kedalam dolar dan obligasi AS ketimbang emas.  Sebelumnya di tahun ini, emas dan dolar AS justru bergerak searah ketika pasar diguncang oleh buruknya kondisi ekonomi dan politik di kawasan Eropa.

Seperti dapat Anda lihat pada weekly chart dari dollar index diatas ini, dolar AS mulai beranjak naik terhadap mata uang utama dunia pada bulan September, ketika harga emas anjlok dari $1,920.30/oz ke $1,534.49/oz.  Untuk saat ini indeks dolar AS memang hanya berhasil menguat sampai 38.2% fibonacci retracement yang berada di sekitar 78.8, tetapi apabila level tersebut berhasil dipecahkan, bukan tidak mungkin dollar index akan makin naik dan menuju ke kisaran antara 80.7 dan 82.6, yang masing-masing merupakan 50% dan 61.8% fibonacci retracement dari penurunan sebelumnya.

Lalu kalau kita meneliti grafik bulanan dari dollar index dibawah ini, kita bisa menemukan beberapa hal yang sangat menarik.  Pertama-tama pola segitiga yang simetris atau symmetrical triangle mencolok sekali.  Pola ini telah terbentuk sejak tahun 2005 dan perlu diperhatikan dengan seksama, karena jika suatu saat indeks dolar bisa keluar darinya, pergerakan selanjutnya akan sangat berarti dan menentukan nasib dolar AS terhadap mata uang lainnya.  Namun selama masih “terjebak” didalamnya, dollar index tetap akan bergerak antara support dan resistance yang makin dekat dari tahun ke tahun.

Kemudian kita juga dapat menyimpulkan bahwa US dollar dalam fase penguatan pada saat ini, setelah mampu bertahan di atas support pada level 72.7.  Dan … boleh jadi dalam beberapa bulan kedepan indeks dolar akan kembali menuju ke resistance, yang kini terletak di sekitar 87.  Inipun didukung oleh MACD atau Moving Average Convergence Divergence yang baru saja memberikan suatu sinyal untuk membeli, jadi probabilitas lebih besar bahwa dolar AS akan menguat ketimbang melemah pada 2 hingga 3 kuartal mendatang.

Dengan kata lain apabila kita menyaksikan sebuah kepanikan global lagi pada semester pertama tahun depan, jangan heran ataupun terkejut dolar AS makin menguat dan pelaku pasar memilih untuk menghindar dari mayoritas aset, termasuk emas.  Oleh karena itu, saya berpendapat pasar emas kemungkinan akan mencapai level terendahnya dari koreksi, yang telah mulai pada awal bulan September lalu, pada tahun 2012 dan menawarkan peluang yang menggiurkan untuk membeli emas di harga yang jauh lebih rendah dari yang Anda bayangkan!

2) Seperti saya menulis dalam artikel sebelumnya dengan judul “Is it time to BUY or … SELL?”, saya memperkirakan bursa saham dunia akan anjlok tahun depan seiring dengan pelambatan perekonomian dunia dan gelembung hutang publik yang terancam meledak.  Apabila kita mengacu kepada apa yang terjadi selama sell-off di tahun 2008, kita sebaiknya mempersiapkan diri untuk menghadapi pelemahan yang signifikan di pasar emas pada tahun yang akan datang.  Hanya sebagai informasi (untuk orang yang sudah lupa), pada waktu itu harga emas turun dari level tertingginya di $1,030.80/oz ke level terendahnya di $680.80/oz atau tertekan sebesar 34%.

3) Setelah harga emas tidak bisa bertahan di atas trend line yang mulai terbentuk sejak pertengahan bulan Oktober, pasar dilanda technical selling dimana logam mulia ini telah kehilangan 6 persen hanya dalam 4 hari perdagangan (lihat gambar dibawah ini).  Di samping itu kekhawatiran mengenai hutang global pun telah mendorong hedge funds maupun investor institusi lainnya untuk membukukan keuntungan sebelum akhir tahun, dan memaksa sebagian diantaranya melikuidasi posisi untuk menutupi margin call di luar pasar emas.

Kali ini sinyal jual terpampang dengan jelas, jadi seharusnya sama sekali tidak ada keraguan untuk menjual emas pada saat MACD membentuk sebuah dead cross dan harganya ditutup di bawah garis tren.  Lagipula perpotongan signal line dengan MACD line terjadi di atas garis 0, maka sinyalnya makin valid atau kuat.

4) Akhirnya kita juga selalu perlu mengingat bahwa banyak orang membeli emas untuk mempertahankan kekayaannya terhadap INFLASI, sebab emas dianggap sebagai inflation hedge yang bagus.  Namun dalam kuartal keempat ini, tingkat inflasi justru diperkirakan akan turun menyusul harga makanan dan base metals mulai turun maupun konsumen cenderung mengurangi pembelanjaannya seiring dengan kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.

Sebagai contohnya, CPI atau Consumer Price Inflation di Cina pada bulan Oktober turun dari 6,1% bulan sebelumnya ke 5,5% YoY.  Kemudian baik di Amerika Serikat maupun Inggris tingkat inflasi dalam basis tahunan pun menurun masing-masing dari 3,9% ke 3,5% dan dari 5,2% ke 5%.  Sementara di Eropa inflasi bertahan di 3% namun hampir dipastikan akan turun juga menyusul pelemahan ekonomi zona euro dalam setahun kedepan.

Maka bukan hal yang aneh apabila untuk sementara waktu emas kehilangan daya tariknya bagai sebuah pengaman terhadap inflasi, dan ikut dilepas oleh investor bersamaan dengan aset lainnya yang dikhawatirkan akan terdepresiasi nilainya.

Itulah keempat faktor yang kemungkinan besar akan menahan penguatan selanjutnya dari emas.  Oleh karena itu, saya menyarankan investor untuk bersabar hati dan menunggu saat yang tepat jika ingin membelinya, sedangkan traders tentunya bisa memanfaatkan koreksi dalam jangka menengah untuk memperoleh keuntungan lewat transaksi jual.

Kondisi teknikal terkini

“The modern mind dislikes gold because it blurts out unpleasant truths”

-Joseph Alois Schumpeter-

Mari kita melihat grafik harian dibawah ini terlebih dahulu untuk menentukan tren dalam jangka pendek.  Setelah harga emas naik ke $1,802.60/oz pada 8 November lalu, ternyata terjadi koreksi (karena RSI atau Relative Strength Index menunjukkan pasar telah overbought) dimana harganya menuju ke sekitar $1,680/oz. Level tersebut merupakan LEVEL KUNCI dalam beberapa hari mendatang sebab sekarang menjadi support setelah sebelumnya berlaku sebagai resistance yang cukup kuat pada bulan Oktober.

Artinya apabila emas tidak bisa bertahan di atas $1,680/oz, harganya akan anjlok lebih dalam.  Lalu target koreksi yang berikutnya adalah sekitar $1,600/oz dan $1,535/oz, yang masing-masing merupakan harga rata-rata dalam 200 hari perdagangan terakhir (SMA-200) dan harga terendah sebelumnya di bulan September lalu.

Coba saja meneliti daily chart dibawah ini, yang memperlihatkan bahwa emas mungkin dapat kembali menguji coba SMA-200.  Hanya pertanyaan sekarang adalah: “Apakah tes kedua ini akan menghentikan pelemahan emas, seperti pada bulan September, atau harganya malahan akan makin terperosok?”

Kemudian kita juga perlu melihat hubungan antara EMA-50 dan SMA-200, karena kedua level itu akan ikut menentukan arah pergerakan selanjutnya.  Secara sederhana EMA-50 menunjukkan tren dalam jangka menengah, sementara SMA-200 memperlihatkan tren jangka panjang.  Level mereka masing-masing kini tidak terlalu penting. Yang jauh lebih penting sekarang adalah apakah EMA-50 tetap akan bertahan diatas SMA-200, atau justru menembus SMA-200 ke bawah.

Apabila sebuah dead cross terbentuk kedepan, atau EMA-50 lebih rendah daripada SMA-200, berarti tren dalam jangka menengah-panjang akan menjadi bearish. Maka perhatikan kedua moving average ini dengan seksama, terutama EMA-50 yang terancam makin turun dan mendekati SMA-200.

Akhirnya jangan abaikan indikator ROC atau Rate of Change yang kini berada di persimpangan jalan, dan bertengger di sekitar garis tengah atau the zero line. Jika momentum tidak bisa berbalik arah ke atas dengan cepat, dikhawatirkan pelemahannya bisa lebih dalam.

Dan … untuk menutupi artikel ini, saya telah menyimpan dua chart yang terbaik untuk terakhir.  Grafik bulanan pertama dibawah ini memperlihatkan trend line yang terbentuk mulai pada akhir 2008 dan belum berhasil dipecahkan sampai saat ini.

Garis tren ini harus bertahan untuk memastikan tren tetap bullish dalam jangka menengah-panjang.  Akhirnya penembusan dari trend line tersebut akan menyebabkan peralihan arah tren dari bullish menjadi bearish, maupun membuka ruang untuk penurunan yang jauh lebih dalam.

Tetapi seberapa jauhkah?  Apabila kita menggunakan fibonacci retracements, kita akan segera menemukan jawabannya pada grafik bulanan kedua dibawah ini.

Setelah harga emas naik dari $680.80/oz ke $1,920.30/oz, koreksi yang wajar terletak antara sekitar $1,300/oz dan $1,155/oz, yang masing-masing merupakan fibonacci retracement sebesar 50% dan 61,8%.  Lalu jika emas kembali terkoreksi 34% dari level tertingginya, seperti pada tahun 2008, harganya dapat menuju ke $1,267/oz yang juga hampir sama dengan target koreksi yang diperoleh tadi.

Kemudian apabila kita misalnya telah menyelesaikan primary wave 3, menurut Elliot Wave Theory, kita seharusnya menyaksikan primary wave 4. Wave ini bersifat korektif dan bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

Maka boleh disimpulkan bahwa investor yang biasanya membeli emas dalam bentuk fisik sebaiknya menahan diri, sementara traders dapat mencari peluang untuk menjual emas ketika mengalami sebuah rally yang besar dan/atau overbought.

Selamat berinvestasi di pasar emas, dan semoga sehat dan sukses selalu!

Sumber : kontan.co.id

Posted on December 13, 2011, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: