Imbas harga BBM bagi para emiten

Pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai 1 April 2012. Tentu, kenaikan harga BBM bakal berdampak bagi kinerja para emiten. Ada yang kecipratan untung, tapi ada pula yang bakal buntung.

Emiten di sektor konsumsi termasuk yang akan terkena sawab kenaikan harga BBM. Bisnis konsumsi memang berkaitan langsung dengan daya beli. Setelah harga BBM naik, harga jual kebutuhan pokok akan ikut naik sehingga biaya operasional membengkak. Ujung-ujungnya, kinerja emiten akan ikut tertekan.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) [4,850 -25 (-0,5%)] bisa dijadikan contoh emiten yang akan mungkin tersandung kenaikan harga BBM. Analis meramal, margin laba usaha INDF [4,850 -25 (-0,5%)] akan tertekan. Meski, Willy Gunawan, analis Andalan Artha Advisindo Sekuritas, menilai, INDF [4,850 -25 (-0,5%)] masih tertolong oleh ekspansi di kebun sawit. “Margin sektor perkebunan lumayan tinggi, sekitar 25%,” ujarnya.

Sektor otomotif dan pembiayaan kendaraan seperti PT Astra International Tbk (ASII) [68,250 -2600 (-3,7%)] juga kena imbas negatif. Selain menjual kendaraan, emiten ini memiliki anak usaha yang bergerak di bidang pembiayaan otomotif dan alat berat seperti PT Federal International Finance (FIF) dan PT Astra Auto Finance.

Selain daya beli pembeli otomotif terancam melemah, di lain sisi, biaya cicilan kendaraan bermotor juga akan naik. Analis Mandiri Sekuritas, Hariyanto Wijaya, melihat, jika harga BBM bersubsidi naik hingga Rp 1.500 per liter, dampaknya akan signifikan. “Ini akan berdampak pada kinerja perusahaan otomotif dalam tiga hingga empat bulan setelah harga naik,” ujar dia.

Dalam hitungan Bank Indonesia (BI), jika harga BBM bersubsidi naik lebih dari Rp 1.000 per liter, laju inflasi tahun bisa mendahului proyeksi maksimal awal BI, yaitu 5,5%.

Beralih ke batubara

Sementara, para emiten di sektor komoditas, seperti perusahaan sawit dan batubara bisa memanfaatkan momen ini untuk mengerek kinerja.

“Momen kenaikan BBM bersubsidi bisa dimanfaatkan oleh emiten di sektor tersebut untuk menaikkan harga jual produk yang berbasis minyak,” tutur Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada.

PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) [3,450 -25 (-0,7%)] misalnya. “Prospek kinerja SGRO [3,450 -25 (-0,7%)] bagus di tahun ini, apalagi SGRO [3,450 -25 (-0,7%)] mampu menjaga keberlanjutan produksi sawitnya,” kata Willy.

Sedang, Reza melihat, emiten batubara seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) [20,750 -50 (-0,2%)] akan meraih berkah dari potensi kenaikan permintaan. “Pabrik yang beralih memakai bahan bakar batubara akan naik,” ujar Reza. Meski, dampaknya tidak akan terlalu signifikan jika hanya harga BBM bersubsidi yang dinaikkan. “Karena industri menggunakan harga jual yang berbeda,” ujar Reza.

Berikut ulasan para analis terhadap empat saham yang terimbas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Sumber : KONTAN.CO.ID

Posted on February 27, 2012, in Pasar Saham and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: