Monthly Archives: March 2012

BBM naik, kemana rupiah akan bergerak?

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali marak terdengar sejak akhir tahun lalu. Alasan pemerintah untuk melakukan opsi ini karena terdesak anggaran subsidi yang membengkak. Ditambah lagi dengan faktor eksternal di mana harga minyak dunia yang kian menanjak dalam beberapa bulan belakangan. Alhasil, beban yang harus ditanggung pemerintah semakin besar.

Terkait hal itu, pemerintah memang sudah mengajukan sejumlah opsi kenaikan harga BBM subsidi kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ada dua opsi yang diusulkan pemerintah, yakni menaikkan harga premium dan solar sebesar Rp 1.500 per liter dan membatasi subsidi sebesar Rp 2.000 per liter.

Keputusan pemerintah ini memicu kecemasan lain, yakni potensi melonjaknya tingkat inflasi pasca kenaikan BBM. “Jika tingkat inflasi tinggi pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, hal itu bisa mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate),” jelas Jimmy Dimas Wahyu, pengamat pasar modal. Dia meyakini, kenaikan BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter bakal mengerek angka inflasi hingga akhir tahun di atas perhitungan awal BI, yakni 5,5%.

Kendati begitu, Bank Indonesia (BI) masih yakin lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM hanya bersifat temporer. Gubernur BI Darmin Nasution mengungkapkan, lonjakan inflasi yang terjadi akan mereda dalam jangka waktu tiga hingga empat bulan.

Dalam perhitungan BI, bila kenaikan harga BBM ditetapkan Rp 1.500 per liter, maka inflasi yang terjadi sampai akhir 2012 bisa mencapai 6,8%. Namun, bila keputusan yang diambil pemerintah adalah opsi subsidi tetap Rp 2.000 per liter, maka inflasi bisa berada pada kisaran 7%-7,1%. Kendati demikian, BI optimistis pada 2013 inflasi akan kembali ke level yang ditargetkan pemerintah, yakni di kisaran 4,5% plus/minus 1%.
Read the rest of this entry

Advertisements

Astra International (ASII) 09 Maret 2012

Ditengah rencana kenaikan BBM, maka saham yang kinerjanya akan terpengaruh adalah leader IHSG yaitu saham ASII. Namun seiring dengan perkiraan harga yang mulai diprediksi oleh pelaku pasar maka saham ASII ini mulai kembali dikumpulkan oleh broker-broker asing secara perlahan.

Terlihat dari indikator MACD yang sudah golden cross, maka saham ASII walaupun masih downtrend namun untuk pelaku saham retail maka boleh mulai mengumpulkan saham leader IHSG ini.

S : 67.050 — R : 74.500

Komentar Bernanke Hancurkan Emas

Emas berjangka anjlok lebih dari US$77 per ons, Rabu (29/2), dan mencatat penurunan hingga 1,7% selama Februari. Apa pemicunya?

Ternyata rontoknya harga emas ini gara-gara pernyataan Chairman Federal Reserve Ben Bernanke yang tidak mengindikasikan rencana penerapan paket stimulus berikutnya (quantitative easing/QE), sehingga mendongkrak dolar AS dan memberikan tekanan pada komoditas yang berdenominasi dolar, termasuk emas.

Emas untuk pengiriman April ditutup di level US$1.711,30 per ons, merosot US$77,10, atau 4,3%, di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange setelah sempat anjlok hingga level US$1.704,50.

Itu merupakan level penutupan terendah bagi emas sejak 25 Januari dan persentase penurunan terbesar dalam satu hari perdagangan sejak medio Desember lalu.
Read the rest of this entry