Barclays: Harga Batubara dan Pembatasan Saham Penyebab Anjloknya Rupiah

Turunnya harga batubara, kebijakan pembatasan kepemilihan saham asing di perusahaan pertambangan, serta rencana Bank Indonesia membatasi kepemilihan saham tunggal di perbankan di bawah 50 persen dinilai menjadi faktor yang mempengaruhi tekanan terhadap rupiah saat ini.

Rupiah sejak awal tahun ini terus dalam tekanan, anjlok hampir 4 persen seiring kecenderungan investor menghindari aset dari negara emerging market. Ke depan, sejumlah analis mengingatkan penurunan lebih lanjut, bahkan ada yang menyatakan bahwa jatuhnya harga batubara merupakan ancaman terbesar bagi rupiah.

Seperti ditulis cnbc.com, Selasa (29/5), Indonesia merupakan eksportir terbesar batubara thermal yang terutama diekspor ke sejumlah negara Asia. Namun, dengan perlambatan ekonomi China akan memperberat batubara Indonesia, di mana harga batubara Newcastle turun di bawah USD10 per ton sejak Maret.

Mengutip laporan Barclays, hal itu memicu situasi sulit bagi Indonesia. “Kami memperkirakan untuk setiap penurunan harga batubara di bawah USD10 per ton setara dengan penurunan 0,1 persen PDB Indonesia. Untuk 2012, kami memproyeksikan defisit transaksi berjalan sebesar 0,5 persen dari PDB,” ujar laporan itu.

Masih menurut laman tersebut, mengutip laporan Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar untuk dua kuartal berturut-turut pada tiga bulan pertama tahun ini menjadi USD2,89 miliar, terutama karena penurunan tajam pendapatan ekspor. Sementara saat ini batubara tercatat 14 persen dari total ekspor Indonesia.

Posisi tersebut, tegas Barclays, telah membebani rupiah. Barclays juga telah menurunkan target nilai rupiah terhadap dolar AS dari sebelumnya 8.800 menjadi 9.000.

Selain soal turunnya harga batubara, bank investasi tersebut juga menunjuk pada kebijakan pembatasan kepemilikan asing di perusahaan pertambangan serta rencana Bank Indonesia membatasi saham tunggal di bank dari 99 persen menjadi di bawah 50 persen, sebagai pembeban investasi langsung asing yang pada gilirannya merugikan posisi rupiah.

Nizam Idris, Head of Strategy, Fixed Income, dan Currencies pada Macquarie kepada CNBC menyatakan bahwa arus dana keluar dari Indonesia mungkin akan meningkat dan dia akan menjauh dari rupiah untuk jangka pendek.

“Kita tak pernah melihat masifnya arus dana keluar sebesar pekan lalu, ketika dana keluar sepekan setara dengan dana masuk bersih sepanjang tahun. Jadi bagi saya ini baru permulaan untuk menunjukkan sejumlah kepanikan dan masih ada banyak ketidakpastian,” paparnya.

 

Sumber : ipotnews.com

Posted on May 29, 2012, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: