Monthly Archives: June 2012

Jerman Mengalah, KTT Brussels Sepakati “Terobosan Penting” Atasi Krisis

Para pemimpin dari 17 negara anggota kawasan mata uang euro (Zona Euro) akhirnya mencapai kata sepakat terhadap langkah darurat untuk mencegah berlarutnya krisis di Italia dan Spanyol, sekaligus mendorong perekonomian. Pada pertemuan yang berlangsung hingga dinihari, Jerman akhirnya setuju penggunaan dana talangan Eropa tanpa harus melalui pembukuan utang negara pengguna dana talangan tersebut.

Seperti diberitakan AFP, pada perundingan dramatis yang berakhir pada Jumat (29/6) dinihari di Brussels, Presiden Uni Eropa Herman Van Rompuy menegaskan kegembiraannya atas apa yang ia sebut “terobosan nyata” untuk menenangkan pasar keuangan dan membentuk ulang Zona Euro untuk mencegah krisis di masa mendatang.

Kegembiraan yang sama disampaikan Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso yang menilai pembicaraan di KTT Uni Eropa tersebut telah menghasilkan “keputusan yang sangat ambisius yang sekali lagi menunjukkan komitmen dari negara-negara anggota”.

Menurut AFP, kesepakatan itu membuka jalan bagi dana talangan Zona Euro yang senilai 500 miliar euro untuk secara langsung menalangi rekapitalisasi perbankan di negara-negara anggota, tanpa harus melalui pembukuan di anggaran nasional yang akan menambah gunungan utang negara bersangkutan.

Namun, hal itu hanya akan dilakukan setelah seluruh badan pengawas perbankan di negara-negara anggota diatur ulang, dan hal ini ditargetkan akan selesai pada akhir tahun ini.

Hal penting lain yang disepakati, bahwa dana bailout Zona Euro akan digunakan dengan cara yang fleksibel dan efisien dalam rangka menstabilkan pasar. Hal ini memungkinkan dana tersebut digunakan untuk membeli obligasi negara anggota, dengan tujuan menurunkan bunga pinjaman yang dalam beberapa pekan terakhir telah melumpuhkan Spanyol dan Italia di pasar keuangan.
Read the rest of this entry

Advertisements

Ketika Emas Menanti The Fed

Fokus dunia kini tertuju pada hasil pertemuan The Federal Reserve, terutama mengenai keputusan negara besar itu atas kebijakan moneternya. Tak terkecuali dengan emas.

Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, perhatian pelaku pasar saat ini berpusat pada potensi penerbitan kebijakan stimulus oleh bank sentral AS (The Fed), “Pelemahan dolar AS terjadi sepanjang hari kemarin akibat sentimen ini,” ujarnya.

Menurutnya, bila stimulus dilakukan sesuai ekspektasi pasar, maka harga emas akan terdongkrak naik pada perdagangan Kamis (21/6) dan mencoba menembus resisten 1.633 dolar AS per troy ons. “Namun bila tidak, hal sebaliknya mungkin akan terjadi, yakni koreksi dalam menuju level 1.580 dolar AS,” katanya.

Dini hari tadi, harga emas untuk pengiriman Agustus berakhir melemah US$ 3.80 atau 0,2% menjadi US$ 1.623,20 per ons, setelah meragu sepanjang sesi.

Namun, spot emas sedikit berubah pada US$ 1.620,55 per ons pukul 12:24 pm di Singapura. Holdings di SPDR Gold Trust, produk bursa terbesar yang diperdagangkan dalam emas, tidak berubah di level satu bulan tertinggi di 1.281,62 metrik ton kemarin.

Emas naik pada Rabu, didorong ekspektasi Federal Reserve AS dapat berbuat lebih banyak untuk mendorong perekonomian terbesar dunia, sebuah langkah yang akan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

“Emas saat ini berada di harga US$ 1.620, US$ 1.630 per ons dan semua orang menunggu untuk melihat apa komentar Federal Reserve, “kata James Cordier, manajer portofolio di Optionsellers.com, Florida.

Emas pun berpotensi rebound, setelah turun pertama kalinya dalam delapan sesi, dipicu spekulasi bahwa Federal Reserve AS berpotensi mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan perekonomian di tengah tanda-tanda goyahnya pertumbuhan dan kenaikan permintaan untuk aset aman.

Read the rest of this entry

Inilah 3 Skenario Pemilu Yunani

PemilihYunanimenghadapi jajak pendapat akhir pekan ini, untuk kedua kalinya dalam hampir dua bulan. Apa saja potensi dan dampak langsung bagi pasar keuangan?

Ahli strategi Bank of America Merrill Lynch memaparkan beberapa kemungkinan yang bisa dijadikan “lembar contekan” bagi investor, tentang hasil pemilu Yunani dan dampaknya terhadap pasar keuangan. Terutama bagi mereka yang bingung dengan politik dari negara tempat kelahiran demokrasi ini.

Pertama, hasil jajak pendapat yang dianggap paling mungkin terjadi (high probability), yakni Yunani membentuk pemerintahan yang pro-Uni Eropa dan tidak keluar dariUni Eropa. Bila ini terjadi,maka Yunani akan mendapat respon positif yang terbatas dari Bank Sentral Eropa.

Dalam skenario ini, indeks Standard & Poor500menjadi flat cenderung menguat,euro terangkat dan imbal hasil pada Treasurynote 10 tahun naik menjadi 1,75%.

Read the rest of this entry

Suku Bunga Penjaminan LPS Tetap 5,5 Persen

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengumumkan suku bunga penjaminan simpanan di bank umum dalam rupiah tetap sebesar 5,5 persen, dan bunga penjaminan dalam valas sebesar 1 persen. Sedangkan penjaminan untuk suku bunga simpanan di BPR dalam rupiah tetap sebesar maksimal delapan persen.

Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS Mirza Mochtar di Jakarta, Rabu (13/6), mengatakan suku bunga penjaminan ini berlaku untuk periode 15 Juni sampai dengan 14 September.

Mirza Mochtar mengatakan, seperti diberitakan Antara, keputusan untuk mempertahankan tingkat bunga penjaminan ini didasari kinerja perekonomian domestik yang stabil terlihat dari tingkat inflasi bulan ke bulan sebesar 0,07 persen pada Mei lalu. Selain itu, kondisi likuiditas di pasar uang domestik yang cukup baik ditunjukkan masih rendahnya yield instrumen investasi jangka menengah dan panjang maupun di Pasar Uang Antar Bank.
Read the rest of this entry

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 08 Juni 2012

Pengaruh dari krisis Eropa yang masih belum reda telah membuat saham-saham dunia rontok termasuk di Indonesia. Pada awal bulan Juni ini, mata dunia masih menantikan hasil pemilu di Yunani pada tanggal 17 Juni 2012.

Saat ini bursa saham sedang mulai rebound dengan kecenderungan ketidakpastian yang masih cukup besar, sehingga kita sebagai investor harus pandai-pandai memanfaatkan kondisi ini untuk berinvestasi pada saham yang mempunyai fundamental kuat.

Bank BRI (BBRI) mempunyai peringkat AAA dan termasuk dalam 200 perusahaan besar dunia versi Forbes sehingga dengan menggunakan Money Management yang tepat maka saham BBRI layak untuk dikoleksi oleh investor untuk jangka panjang dengan target harga Rp. 8.000.

Walau kondisi saham BBRI masih downtrend namun telah menunjukkan perlawanan yang kuat, indikator Stochastic telah mengarah keatas dan indikator MACD telah golden cross.

S : 5.450 — R : 6.600

Soros: Hanya Tersisa Tiga Bulan Untuk Selesaikan Krisis Eropa

Investor global George Soros mengingatkan para pemimpin Eropa bahwa mereka hanya memiliki waktu tersisa selama tiga bulan untuk menyelamatkan zona euro. Menurut dia, para pemimpin Eropa tidak paham masalah yang dihadapi sehingga hanya fokus pada jumlah utang yang menggunung.

Seperti diberitakan myfinances.co.uk, Senin (4/6), Soros mengaku yakin bahwa rakyat Yunani akan memilih sebuah pemerintah yang akan mamatuhi program penghematan (pro bailout) pada pemilu 17 Juni mendatang. Namun, menurut dia, kesepakatan Yunani dan Eropa butuh waktu beberapa pekan sebab ia melihat pelemahan ekonomi Jerman yang membuat pemerintahan Kanselir Angela Merkel sulit menyediakan dukungan lebih lanjut bagi Yunani.

Saat berbicara pada sebuah konferensi di Italia, Soros menyatakan bahwa para pemimpin Eropa tidak memahami masalah yang dihadapi sehingga memberi “obat” yang salah.

Dijelaskannya, para pemimpin Eropa selama ini selalu fokus pada level utang ketika krisis justru dikarenakan bermasalahnya perbankan dan menurunnya daya saing. Karena fokus pada tingkat penghematan dan penurunan utang, pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa makin melambat. Padahal, laju pertumbuhan adalah satu-satunya cara untuk menemukan solusi realistis dari masalah yang membelenggu Eropa saat ini.
Read the rest of this entry

Ketika Emas Alami Krisis Identitas

Emas tampaknya makin kehilangan potensinya sebagai aset investasi yang aman. Terlebih karena telah anjlok hingga 6% selama Mei.

Emas berjangka mengakhiri Mei dengan kerugian 6%, koreksi bulanan untuk logam empat kali berturut-turut. “Kita berada di tengah-tengah krisis dana tunai secara global, karena masalah perbankan di Eropa,” kata Vedant Mimani, manajer portofolio utama dari Atyant Capital Global Opportunities Fund, dana yang berfokus pada logam mulia di Miami.

Menurutnya, setiap kali likuiditas menjadi masalah, aset akan dijual rugi untuk menutup pinjaman dan margin call, selain memulihkan akun, “Itulah mengapa kita melihat emas dijual bersama aset berisiko lainnya,” katanya.

Saat ini, investasi apapun tampaknya berisiko. Investor pun sulit menemukan keamanan dalam aset apapun, kendati dolar AS dan obligasi Treasury telah menarik perhatian lebih.”Orang-orang memburu obligasi, terutama Treasury, yang mendorong dolar AS menguat dan emas tertekan,” kata Chris Mayer, editor Capital & Crisis.

Sementara itu, emas telah mengikuti pergerakan pasar saham global. Demikian juga aset berisiko lainnya yang juga melemah.”Kami baru saja melewati masa, di mana segala sesuatu bergerak bersamaan dan penggeraknya adalah kebijakan moneter The Fed. Tapi hal itu tidak berlanjut selamanya,” kata Mayer.

Ia menuturkan, saat ini ada beberapa investor menganggap Treasurys AS sebagai safe haven, namun justru itu mungkin aset paling berisiko dari semua, “Dengan pemiliknya siap untuk mengalami kerugian yang cukup besar, bila ada lompatan kecil dalam suku bunga,” kata Mayer.

Namun, karena ancaman krisis euro, investor melihat obligasi Treasury dan dolar sebagai aset yang lebih aman sekarang, dengan mengorbankan emas.

Read the rest of this entry