Ketika Emas Alami Krisis Identitas

Emas tampaknya makin kehilangan potensinya sebagai aset investasi yang aman. Terlebih karena telah anjlok hingga 6% selama Mei.

Emas berjangka mengakhiri Mei dengan kerugian 6%, koreksi bulanan untuk logam empat kali berturut-turut. “Kita berada di tengah-tengah krisis dana tunai secara global, karena masalah perbankan di Eropa,” kata Vedant Mimani, manajer portofolio utama dari Atyant Capital Global Opportunities Fund, dana yang berfokus pada logam mulia di Miami.

Menurutnya, setiap kali likuiditas menjadi masalah, aset akan dijual rugi untuk menutup pinjaman dan margin call, selain memulihkan akun, “Itulah mengapa kita melihat emas dijual bersama aset berisiko lainnya,” katanya.

Saat ini, investasi apapun tampaknya berisiko. Investor pun sulit menemukan keamanan dalam aset apapun, kendati dolar AS dan obligasi Treasury telah menarik perhatian lebih.”Orang-orang memburu obligasi, terutama Treasury, yang mendorong dolar AS menguat dan emas tertekan,” kata Chris Mayer, editor Capital & Crisis.

Sementara itu, emas telah mengikuti pergerakan pasar saham global. Demikian juga aset berisiko lainnya yang juga melemah.”Kami baru saja melewati masa, di mana segala sesuatu bergerak bersamaan dan penggeraknya adalah kebijakan moneter The Fed. Tapi hal itu tidak berlanjut selamanya,” kata Mayer.

Ia menuturkan, saat ini ada beberapa investor menganggap Treasurys AS sebagai safe haven, namun justru itu mungkin aset paling berisiko dari semua, “Dengan pemiliknya siap untuk mengalami kerugian yang cukup besar, bila ada lompatan kecil dalam suku bunga,” kata Mayer.

Namun, karena ancaman krisis euro, investor melihat obligasi Treasury dan dolar sebagai aset yang lebih aman sekarang, dengan mengorbankan emas.

Harga obligasi pemerintah AS telah naik, dengan yield notes 10 tahun yang terkorelasi terbalik terhadap harga, menetapkan intraday rekor terendah.

Indeks dolar ICE, yang melacak kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik 5% pada Mei. Sebaliknya, euro turun 6,6% terhadap dolar.

Jangka panjang, banyak analis masih melihat logam sebagai perlindungan bagi investor.”Emas adalah tempat yang aman secara akademis dan secara historis terbukti untuk jangka panjang,” kata Mark O’Byrne, direktur eksekutif di GoldCore.

Dan Peter Grant, kepala analis pasar di USAGOLD mengatakan, gagasan bahwa jatuhnya emas, atau tidak diminatinya emas dari aset safe haven adalah tidak benar.

Data World Gold Council menunjukkan kenaikan lebih dari empat kali lipat untuk investasi ritel emas batang dan koin pada 2011 dari 2002. “Jangan salah. Pembelian emas fisik masih ada dan sehat,” kata Grant.

“Memang, emas adalah tempat perlindungan yang aman, bahkan ketika harga emas di level rendah pada US$ 35 per ons selama hampir 40 tahun.”

Namun, lanjut O’Byrne, emas untuk jangka pendek, memang ada korelasi terbukti sebagai aset berisiko. Itu karena pelaku pasar lebih spekulatif, sering menutup posisi bila ada volatilitas dan harga saham serta komoditas jatuh.

“Sejak akhir April, emas berjangka dan Dow Jones Industrial Average kebanyakan bergerak ke arah yang sama, meskipun berbanding terbalik dengan dolar AS,”ujarnya.

Edmond Bugos, direktur keuangan penambangan di Strategic Metals Research & Capital mengakui, emas memang mengalami sedikit krisis identitas dari hari ke hari. Tapi itu masuk akal, karena ada lebih banyak investor di emas beberapa tahun terakhir, ketimbang yang benar-benar memahaminya.

Hal ini menjelaskan bahwa banyak orang secara harafiah ‘takut’ berinvestasi di emas tahun lalu, dan pasar telah melakukan konsolidasi untuk menyesuaikan diri. “Emas naik 10% tahun lalu, kenaikan ke 11 beruturt-turut, menurut data Riset FactSet.

Bahkan dengan track record, beberapa analis tidak cukup mencirikan emas sebagai safe haven.”Uang melompat dari sektor ke sektor dengan berbagai alasan,” kata Darin Newsom, analis senior di DTN Telvent. “Kini adalah tentang kebangkitan indeks dolar AS, goyahnya euro dan keluar dari komoditas. Tiga aset besar, yakni emas, minyak mentah dan jagung, semuanya telah melesat pada 2012.”

Berburu dana tunai

Saat ini, investor berpaling ke dana tunai. Ketidakpastian dalam euro telah menciptakan permintaan dalam dolar untuk jangka pendek, karena perusahaan Eropa yang keluar euro.

“Namun, dolar masih merupakan mata uang cadangan dunia, sehingga terlihat sebagai safe haven, meskipun memiliki fundamental yang buruk,”kata James Carrillo, penasihat portofolio senior untuk perusahaan investasi logam mulia Swiss Amerika Trading Corp.

Julian Phillips, editor di GoldForecaster.com melihat emas tidak bisa cukup bersaing dengan dolar atau pasar obligasi. Menurutnya, pasar emas terlalu kecil untuk mengakomodasi modal yang melarikan diri dari Eropa,”Emas tidak dilihat dalam kategori yang sama untuk likuiditas atau ukuran, sehingga tidak bersaing di bagian ini.”ujarnya.

Carillo menambahkan, emas mungkin siap untuk penurunan lebih lanjut ke level US$ 1.200. Semua digerakkan oleh utang dan kewajiban. “Sementara emas tidak memiliki hutang atau kewajiban yang melekat padanya.”

 

Sumber : inilah.com

Posted on June 3, 2012, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: