Monthly Archives: August 2012

Ini Dia Si Raja Gain di Lantai Bursa

Dalam kondisi bursa yang masih sulit ditebak seperti sekarang, saham sektor properti ternyata masih mendapat rekomendasi positif dari para analis.

Alasannya, hingga pertengahan Agustus 2012, sektor ini rata-rata mampu memberikan gain 33,8%. Lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, termasuk saham perbankan yang rata-rata memberikan gain 17,2%.

Rendahnya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) serta kodisi makro ekonomi Indonesia yang masih terjaga, juga menjadi angin baik bagi saham-saham emiten properti. Tak heran bila sejumlah analis berpendapat bahwa prospek industri properti di semester II masih akan cerah. Sekadar informasi saja, sepanjang semester I-2012 penjualan properti berhasil mencatat pertumbuhan 25-30%.

Di antara sejumlah saham properti yang beredar di lantai bursa, beberapa analis menjagokan PT Ciputra Development (CTRA) [620 10 (+1,6%)], PT Modernland Realty (MDLN) [480 0 (+0,0%)], PT Bumi Serpong Damai (BSDE) [1,060 0 (+0,0%)], PT Agung Podomoro Land (APLN) [320 -5 (-1,5%)], PT Lippo Karawaci (LPKR) [910 0 (+0,0%)], serta PT Sentul City (BKSL) [200 0 (+0,0%)]. Maklum, kinerja mereka sepanjang semester I yang baru lalu begitu mengkilap.
Read the rest of this entry

Advertisements

Harga Emas Di Persimpangan, Bearish Atau Bullish?

Sulit menebak bagaimana arah pergerakan harga emas saat ini. Krisis utang Benua Biru yang semakin memburuk serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar dunia menyebabkan emas kehilangan statusnya sebagai instrumen investasi safe haven. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis global, rupanya investor cenderung melakukan likuidasi investasi emas dan memilih menyimpan dollar AS.

Hal ini berbeda dengan kondisi tahun lalu, di mana investor ramai-ramai mengoleksi emas untuk melindungi kekayaannya dari gejolak perekonomian Eropa dan Amerika Serikat. Tak pelak, harga si kuning pada tahun lalu beberapa kali berhasil memecahkan rekor tertingginya. Tepatnya, pada 6 September 2011, harga emas bertengger di level US$ 1.920,30 per troy ounce, tertinggi sepanjang sejarah.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai arah harga emas ke depannya, mari kita lihat pergerakan harga emas sepanjang tahun ini hingga 7 Agustus lalu.

Wakil Kepala Riset Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere mengungkapkan, sepanjang tahun 2012 berjalan ini, harga emas telah naik 1,5% setelah terjadi tekanan signifikan sejak Januari saat emas mengalami lonjakan 15% pasca pernyataan the Federal Reserve yang menyatakan akan mempertahankan suku bunga nol persennya setidaknya hingga akhir tahun 2014.

“Rilis yang mengecewakan pada data nonfarm payrolls AS dan indikasi lemahnya perekonomian global meningkatkan kekhawatiran bahwa deflasi akan menekan harga emas dengan tajam. Ini mengingatkan pada situasi di tahun 2008, di mana harga emas merosot seketika hingga lebih dari 30% saat terjadinya krisis ekonomi global,” jelas Nico.

Read the rest of this entry

Rilis Data AS, Emas Ditutup di Level Terendah

Emas berjangka berakhir melemah pada Rabu (15/8/2012) dini hari tadi, setelah data AS menunjukkan kenaikan penjualan ritel dan inflasi yang belum cukup untuk memberikan dorongan pada logam.

Emas berjangka untuk pengiriman Desember turun US$ 10,20 atau 0,6%, ke level US$ 1.602,40 per ons di divisi Comex New York Mercantile Exchange, harga terendah dalam lebih dari sepekan.

Stephen Platt, analis Archer Financial Service di Chicago mengatakan, pasar emas berada di bawah tekanan jual setelah menguat sebelumnya, “Ada penurunan yang berlanjut, terutama karena dolar AS telah menunjukkan stabilitasnya,” tambahnya.

Emas naik tiga hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya, di tengah volume rendah, kurang bagusnya data ekonomi makro, dan kerugian pada saham serta komoditas.

Kementrian Perdagangan melaporkan peningkatan 0,8% dalam penjualan ritel untuk Juli, kenaikan terbesar dalam penjualan sejak Februari dan mengalahkan ekspektasi bahwa analis. Read the rest of this entry

Rally Harga Saham Global Menuju Kolaps Yang Lebih Besar (?)

Rally harga saham-saham global selama beberapa pekan ini, perlu disikapi dengan berhati-hati. Beberapa ahli strategi memperingatkan, rally tak akan bertahan seterusnya, dan investor perlu tetap waspada.

“Saya pikir kita berada dalam gelombang air yang berkelanjutan. Kita harus tetap ingat untuk menjual jika mempunyai saham yang diperdagangkan di pasar,” ujar Charlie Morris, Head of Absolute Return HSBC Global Asset Management. Menurut Morris, berita buruk dalam perekonomian global pada tahun lalu, adalah pasar `berusaha untuk kolaps`, namun karena banyak investor yang melakukan short selling, kondisi tersebut tidak terjadi. Namun kondisi tersebut akan  berubah setelah rally yang berlangsung pada akhir-akhir ini berakhir.

“Anda perlu bermain di pasar untuk mengalami kolaps yang sebenarnya. Anda mungkin perlu mempersiapkannya dengan rally, membuat semua orang tertarik dan kemudian pasar bisa ambruk,” kata Morris. “Risiko pasar yang sangat negatif akan datang setelah rally ini berakhir,” imbuhnya seperti dikutip cnbc.com.
Read the rest of this entry

IHSG Cukup Kuat, Akumulasi 4 Saham Berkapitalisasi Besar

Senior Research HD Capital Yuganur Wijanarko, mengatakan performa IHSG sepekan ke depan akan terus melaju meskipun dibayangi oleh sentimen negatif yang mungkin dapat terjadi. Laporan keuangan emiten semester pertama 2012 masih akan menjadi sentimen positif.

Menurut Yuganur, hasil laporan keuangan semester pertama 2012 yang relatif cukup baik dan kenaikan laba bersih di beberapa emiten akan melawan sentimen negatif dari melebarnya defisit perdagangan dan fluktuatifnya bursa regional yang membuat IHSG secara mingguan berhasil ditutup di atas harga tertinggi selama 5 pekan terakhir. Selama sepekan ke depan IHSG masih memiliki potensi menguat meski investor perlu mewaspadai aksi akumulasi keuntungan yang terjadi di pasar (profit taking).

“Bila dilihat dari grafik teknikal mingguan, rentang pergerakan IHSG selama sepekan ke depan harusnya berada di level 4.080 poin – 4.175 poin. Masih ada beberapa pilihan saham berkapitalisasi besar yang layak diakumulasi investor untuk mendapatkan keuntungan,” tambah Yuganur dalam risetnya, Senin (6/8/2012).

Saham-saham tersebut adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk [TLKM 8,950 50 (+0,6%)] dengan target harga di Rp 9.250 per saham dan harus cut loss apabila melemah hingga ke level di Rp 8.650 per saham, PT Astra International Tbk [ASII 7,000 0 (+0,0%)] dengan target Rp 7.250 per saham dan cut loss point di Rp 6.750 per saham.

Selain itu ada saham [UNTR 21,300 900 (+4,4%)] dengan target harga di Rp 22.500 per saham dan cut loss point di Rp 19.850 per saham, dan saham PT Gudang Garam Tbk [GGRM 51,000 150 (+0,3%)] dengan target harga di Rp 55.000 per saham dan cut loss poin di Rp 48.500 per saham.
Read the rest of this entry