Rupiah Kritis

KRISIS di Eropa benar-benar tak boleh dianggap enteng. Bayangkan, krisis yang sudah berjalan hampir dua tahun, ternyata virusnya masih menjadi hantu yang menakutkan bagi investor. Kini, mereka harus menghitung dan menimbang-nimbang kembali, mata uang mana yang paling aman untuk dikepit. Salah satunya, ya dolar AS.

Itulah mengapa, hari-hari belakangan ini mata uang dolar AS begitu berotot, terutama terhadap rupiah. Para investor dan spekulan ramai-ramai melepas rupiah, lalu memburu dolar AS. Lihat saja selama lima hari berturut-turut pekan lalu, rupiah terus bercokol di atas angka Rp 9.700. Dan, puncaknya terjadi pada Jumat pekan lalu saat rupiah ditutup Rp 9.880 per dolar AS. Inilah pelemahan terendah dalam tiga tahun terakhir.

Rupiah memang semakin mendekati Rp 10.000 per dolar AS. Pemantauan InilahREVIEW di beberapa money changer menunjukkan hal itu. Lihat saja di tempat penukaran RMC, nilai beli dolar AS berada pada angka Rp 9.910 dan jual Rp 9.750. Sementara di money changer Tri Tunggal di Blok M Plaza, posisi beli Rp 9.850 dan jual Rp 9.865 per dolar AS. “Kalau dibiarkan terus, rupiah bisa tembus Rp 10.000 per dolar AS,” kata Yohanes Budi, pemilik Tri Tunggal kepada InilahREVIEW.

Tak hanya di money changer. Pelemahan rupiah juga terlihat pada nilai kurs rupiah terhadap dolar AS di sejumlah bank. Di Bank Central Asia, misalnya, kurs beli berada di posisi 9.680 dan jual di posisi 9.980. Tak jauh beda di Bank Mandiri. Nilai beli berada di posisi 9.810 dan jual di 9.900.

Defisit Perdagangan

Pendek kata, dolar AS semakin perkasa, sedangkan rupiah dalam kondisi kritis. Tak ada yang bisa disalahkan kalau investor memegang dolar AS untuk berjaga-jaga. Kami kan berusaha menghindari kerugian selisih kurs,” kata seorang investor.

Kalau mau menengok ke belakang, sebenarnya pelemahan rupiah tak hanya terjadi sekarang ini. Sepanjang tahun 2012 lalu, kurs tengah yang tercatat di Bank Indonesia melemah 5,9%. Contohnya, awal Januari 2012 kurs rupiah masih Rp 9.125 per dolar AS, tapi akhir Desember 2012 menjadi Rp 9.670 per dolar AS.

Hanya saja, tertekannya rupiah, semata-mata tak hanya karena krisis di Eropa. Melemahnya rupiah juga lantaran importir banyak membutuhkan dolar AS untuk membeli barang modal dan bahan baku guna kegiatan investasinya. Akibatnya, neraca perdagangan menjadi jomplang. Lihat saja selama Januari-Oktober 2012, nilai impor mencapai US$ 159,18 miliar, sedangkan ekspor US$ 158,66 miliar.

PT Mandiri Sekuritas memprediksi, defisit neraca perdagangan Indonesia kemungkinan akan melampaui 2,4% dari Produk Domestik Bruto yang dipatok bank sentral. Sedangkan Barclays Plc meramal defisit neraca perdagangan Indonesia Desember 2012 akan berada di level 2,5%. “Ada tekanan yang besar sehingga memungkinkan rupiah mencapai level Rp 10.000 per dolar AS,” kata Taufan Tito, foreign-exchange dealer PT Bank Rakyat Indonesia.

Taufan tak salah. Banyak kalangan memang meramal, tekanan terhadap rupiah akan terus berlangsung di hari-hari mendatang berbarengan dengan tingginya pertumbuhan domestik dan naiknya investasi.

Asal tahu saja, sepanjang Januari-September 2012, realisasi investasi dari investor asing dan lokal di Indonesia mencapai Rp 229,9 triliun atau setara 81,1% dari target 2012. Ini merupakan rekor terbesar sepanjang sejarah.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri optimistis total investasi pada tahun 2012 bisa mencapai Rp 321,66 triliun tumbuh sekitar 28% dibanding realisasi investasi tahun 2011 yang mencapai Rp 251,3 triliun.

Berbarengan dengan itu, Pertamina juga harus mengimpor minyak lantaran pasokan bahan bakar minyak (BBM) terus menipis. Lihat saja, selama Januari-Oktober 2012 impor migas mencapai US$ 34,79 miliar atau naik 3,53% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 33,60 miliar.

Tentu saja, semua kegiatan itu makin menambah tekanan terhadap rupiah. Bahkan, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang menilai, tekanan terhadap rupiah akan berlangsung cukup lama sepanjang BBM bersubsidi tidak dinaikkan. Sebab, kondisi ini akan membuat defisit transaksi berjalan tambah membengkak, dan buntutnya bisa memengaruhi sentimen investor di pasar modal.

“Ketidakberanian pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi berpotensi menjadi ‘api dalam sekam’. Dan, ini bisa dengan mudah digunakan para spekulan untuk terus menggoyang rupiah,” ujar Edwin.

Rugi Kurs

Yang jelas, banyak pihak menderita rugi akibat selisih kurs antara dolar AS dengan rupiah. Salah satunya, emiten yang punya eksposur dolar AS tinggi. Ambil contoh, PT Indosat Tbk (ISAT), per kuartal III tahun lalu rugi selisih kurs Rp 616,33 miliar. Begitu pula, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga mengalami rugi selisih kurs hingga Rp 297 miliar. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pun bernasib sama. Cuma, rugi selisih kurs UNVR terbilang minim, yakni hanya Rp 1,58 miliar.

Tak hanya itu. Para penggila gadget, juga harus rela menerima kenaikan harga. Maklum, proporsi komponen barang elektronik yang diperdagangkan sekitar 70% adalah mata uang dolar AS.

Kendati begitu, para pedagang barang elektronik, terutama ponsel, tak mau begitu saja menaikkan harga. Mereka mengatur strategi. “Kami tahan stok baru, habiskan dulu yang lama,” kata Edy dari Toko Karunia Cell di ITC Kuningan kepada InilahREVIEW.

Melemahnya rupiah juga membuat cemas pelaku usaha pariwisata. Golden Rama Tours & Travel, salah satu agen penyedia perjalanan wisata khawatir kehilangan pelanggan yang ingin berwisata ke luar negeri. Sebab, semakin rupiah melemah, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan pelanggannya. “Kami berharap rupiah bisa stabil dan tidak berada di level Rp 10.000 per dolar AS,” kata Anto Haditono, Presiden Direktur Golden Rama Tours & Travel.

Hanya saja, melemahnya rupiah bikin gembira kalangan eksportir. Bahkan, mereka berharap rupiah bisa mencapai posisi Rp 10.500 per dolar AS. “Dengan posisi lemah, maka keuntungan eksportir lebih maksimal. Ini menjadi stimulus bagi mereka untuk terus mendorong ekspor,” kata Ambar Tjahyono, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia.

Menurut Ambar, pelemahan rupiah juga menjadi kompensasi eksportir yang terkena dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan upah minimum provinsi (UMP). Sebab, kenaikan TDL dan UMP telah membuat beban biaya produksi membengkak sehinggakeuntungan pengusaha tergerus.

Namun, Bank Indonesia (BI) tak mau rupiah terus dalam kondisi kritis, apalagi sampai kolaps. “BI akan menjaga agar nilai kursnya ada di sekitar nilai fundamentalnya,” kata Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI kepada InilahREVIEW.

Itu artinya, intervensi BI ke pasar uang akan berlanjut.

Sumber : inilah.com

Posted on January 14, 2013, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: