Nasib Investor, Setelah Emiten Ditendang

Setelah saham PT Amstelco Indonesia (INCF), ada enam emiten yang terancam ditendang dari papan bursa. Mereka adalah PT Indo Setu Bara Resources (CPDW), PT Panasia Filament Inti (PAFI), PT Central Proteinaprima (CPRO), PT Siwani Makmur alias SIMA, Panca Wiratama Sakti (PWSI) dan Berlian Laju Tanker (BLTA).

Lantas bagaimana nasib saham yang dipegang puluhan bahkan mungkin ratusan ribu investor yang membeli dari bursa? Kalau saja, pemodal mendapat penggantian sesuai dengan harga saham terakhir, para pemilik saham Amstelco Indonesia (dulu Indocitra Finanace) bisa bersuka-cita. Sebab, ketika disuspen pertama kali (20 Januari 2011), saham berkode INCF ini harganya berada di level tertinggi yakni Rp3.150.

Tapi lain halnya dengan pemegang saham lainnya. Jika penggantian didasarkan harga terakhir, maka investor akan mengalami rugi besar. CPRO, misalnya, sebelum perdagangannya dihentikan dan menclok di level Rp53, sempat berada di level Rp200-an.

Bahkan tak sedikit pemodal yang mengoleksi saham ini di harga Rp245. Walhasil, kalau memakai angka terakhir, investor akan mengalami rugi hingga 78%. Belum rugi bunga karena suspensi berlangsung selama tahunan.

Sementara pemegang BLTA tidak akan mengalami rugi terlalu besar, jika aturan,main yang sama diterapkan. Sebab, sebelum disuspen pada Januari 2012, harganya tak jauh dari yang terbentuk saat ini yakni Rp190-an. Kecuali investor mengoleksi kertika harganya tinggi. Misalnya membeli pada Mei 2011 waktu harganya berada di level Rp 420.

Menurut beberapa analis yang di wawancarai INILAH.COM, kerugian yang ditanggung investor sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Sebab hal seperti ini merupakan salah satu risiko dari investasi.

Namun kendati begitu, ada baiknya otoritas bursa mengatur hal-hal seperti ini. Soalnya, persoalan ini menyangkut hajat hidup orang banyak sekaligus memengaruhi kepercayaan investor. “Mestinya, otoritas mengatur mulai dari tata cara buy back hingga harga yang pantas diterima investor,” kata seorang direktur sekuritas asing.

Asal tahu saja, saham Amstelco yang dikuasai publik mencapai 21,7%, lantas di CPRO saham yang dikuasai publii mencapai 51,07% dan di BLTA 62,01%. Jadi, jumlah dan nilainya sangat besar. Nah, apakah mereka akan dikorbankan begitu saja?

Sumber : inilah.com

Posted on January 21, 2013, in Pasar Saham. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: