Pasar Melihat Positif Penguatan Euro

IHSG dan rupiah kompak mendarat pada teritori positif. Pasar melihat penguatan euro sebagai barometer pulihnya ekonomi zona euro meski butuh konfirmasi dari ECB dan BoE.

Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, penguatan rupiah hari ini terbawa arus penguatan yen Jepang dan euro seiring pasar yang menantikan keputusan dari Rapat Dewan Gubernur European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) nanti malam. Padahal, pasar Asia secara umum mengalami koreksi.

Yen juga mengalami penguatan hari ini terhadap dolar AS ke 93,77 yen per dolar AS dari posisi sebelumnya 94,06. “Karena itu, rupiah ditutup di level terkuatnya 9.690 setelah sempat melemah ke 9.725 dari posisi pembukaan 9.710 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (7/2/2013).

Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (7/2/2013) ditutup menguat 15 poin (0,15%) ke 9.690/9.695 dari posisi kemarin 9.705/9.710.

Menurut Daru, penguatan yen Jepang memiliki korelasi positif dengan rupiah. Begitu juga jika dolar AS menguat terhadap yen. Sebab, Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia. “Saat dolar AS terhadap yen menguat, rupiah juga turut melemah, begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Sementara itu, ECB sudah diekspektasikan mempertahankan suku bunga rendahnya di 0,75% dan suku bunga BoE di level 0,5%. “Hanya saja, yang dinantikan pasar adalah pernyataan dari Presiden ECB Mario Draghi sehubungan dengan prospek ekonomi zona euro setelah mata uang euro menguat dan cenderung tajam dalam beberapa pekan terakhir,” tuturnya.

Menurut Daru, pasar ingin melihat, penguatan euro bisa berpengaruh pada fundamental ekonomi atau tidak. Jika euro menguat, beberapa pondasi ekonomi pada lini tertentu juga menguat. “pakah penguatan euro merupakan sinyal pemulihan ekonomi kawasan tersebut karena mata uang euro menjadi barometer kekuatan ekonomi. Ini juga turut mendukung penguatan rupiah,” timpal dia.

Hanya saja, Daru menggarisbawah, meski menguat, rupiah sebenarnya masih berada di level emah seiring lesunya transaksi di Indonesia khususnya soal investasi. “Akibatnya, penukaran terhadap mata uang rupiah sangat minim,” ungkap dia.

Dia menegaskan, orang masih cenderung memegang dolar AS. “Artinya, aliran dana investasi belum terlalu besar masuk ke Indonesia,” tuturnya. Secara historis, laju investasi pada kuartal pertama setiap tahun memang cenderung lemah.

Selain itu, faktor cuaca juga turut menentukan laju rupiha. “Pada musim hujan, banyak perusahaan di sektor ritel yang masih minim berproduksi akibat terhambatnya bahan baku akibat tingginya curah hujan. Akibatnya, inflasi tinggi dan memperlemah nilai tukar rupiah,” imbuhnya.

Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melelmah ke 79,59 dari sebelumnya 79,75. “Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3565 dari posisi sebelumnya US$1,3523 per euro,” imbuh Daru.

Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, ‘Si Komo’ benar-benar membuat pasar macet. “Saham PT Vale Indonesia (INCO) [2,925 -125 (-4,1%)], bahkah seperti perkiraan tadi pagi, kenaikan kemarin memang hanya penembusan palsu (false break),” kata dia. “Seperti yang sudah sering terjadi pada saham ini.”

Keberuntungan, kata dia, memang ada pada pemodal yang mengambil posisi contrarian. “IHSG sendiri terlihat masih kuat. Memang, indeks gagal membuat rekor baru. Tapi, indeks masih ditutup positif,” ujarnya.

Pada perdagangan Kamis (7/2/2013) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat tipis 4,17 poin (0,09%) ke angka 4.503,148.

Yang tampak lemah, kata dia, adalah Hang Seng Index (HSI) karena kembali tutup di bawah low spinning kemarin. “Signal jelek seperti ini yang biasanya bikin males punya posisi,” ungkap dia.

Satrio sendiri mengaku masih tetap dalam posisi wait and see. “Tadi pagi, saya hanya testing market. Saham PT Gudang Garam (GGRM) [50,400 250 (+0,5%)] seperti mau menembus resistance. Beli di Rp50.300. Karena bisa tutup di atas 50.400 hari ini, signalnya masih positif,” ungkap dia.

Hanya saja, dengan posisi Hang Seng Index (HSI) seperti ini, menurut dia, sepertinya tidak nyaman untuk disuruh pegang saham. “Saya mau lihat di post close trading session, kondisinya seperti apa,” imbuh Satrio.

Sumber : inilah.com

Posted on February 7, 2013, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: