Monthly Archives: March 2013

Gejolak di Eropa Menekan Wall Street

Saham-saham di Wall Street terkena koreksi setelah munculnya kembali kekhawatiran atas krisis Uni Eropa (UE) menjelang penyelamatan Republik Siprus oleh UE dan IMF.

Pelaku pasar masih fokus kepada perkembangan di Eropa, tidak hanya situasi di Siprus, tapi juga ditambah situasi politik di Italia yang tidak stabil.

“Gejolak yang terjadi di Italia menjadi kekhawatiran terbaru, berbagai komentar dari Italia tidak membuat orang merasa lebih baik dan memberi solusi dalam waktu dekat,” kata Art Hogan dari Lazard Capital Markets dikutip AFP, Kamis (28/3/2013).
Read the rest of this entry

Advertisements

Raup Laba Rp 1,4 Triliun, BTN Bagi-bagi Dividen Rp 409 Miliar

PT Bank Tabungan Negara (BTN) sepakat untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp 409 miliar atau 30% diambil dari perolehan laba bersih perseroan tahun buku 2012 sebesar Rp 1,4 triliun.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) telah menyetujui penggunaan 30% dari laba bersih perseroan atau sekitar Rp 409 miliar akan dibagikan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham.

“Perseroan juga menyetujui untuk tidak mengalokasikan dana untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dari Laba,” kata dia usai acara RUPST, di Menara BTN, Jakarta, Rabu (27/3/13).

Dia menyebutkan, perseroan akan mencadangkan 1,5% atau sekitar Rp 20 miliar untuk tanggung jawab sosial Perusahaan (corporate social responsibility). RUPST juga menyetujui Perseroan untuk menetapkan limit Hapus Tagih yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyelesaian piutang macet perseroan.
Read the rest of this entry

Rencana Kenaikan BBM Berpengaruh Positif Ke Empat Sektor Saham

Rencana pemerintah untuk meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan berpengaruh positif terhadap empat saham sektoral. Saham sektor agrisbisnis, pertambangan, barang konsumsi dan infrastruktur akan menjadi pilihan investor untuk dikoleksi di tahun ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) saham sektor agribisnis secara tahunan (year-to-date) memang masih minus 3,92%, sektor pertambangan menguat 2,85%, saham sektor barang konsumsi positif 8,19%, dan saham sektor infrastruktur plus 8,64%. Saham sektor properti, keuangan dan perdagangan dan jasa menjadi tiga saham dengan kenaikan tertinggi yakni masing-masing 32,5%, 18,05% dan 12,98%.

Analis PT AM Capital, Viviet S Puteri, mengatakan kenaikan BBM memang tidak berkorelasi langsung terhadap saham emiten produsen minyak dan gas. Akan tetapi dengan adanya kenaikan BBM maka rencana pemerintah untuk mengurangi pasokan BBM bersubsidi ke industri – khususnya untuk pembangkit listrik tenaga minyak bumi – dapat terealisasi.

“Alhasil dengan naiknya harga BBM maka pelaku industri akan mengalihkan penggunaan sumber daya alam ke gas dan batubara. Walaupun memang sampai dengan saat ini pasokan gas bagi pelaku industri masih kurang karena distribusi gas yang tidak merata sehingga permintaan gas nasional akan meningkat,” ujar Viviet, Senin (18/3).

Untuk perusahaan pertambangan, lanjut Viviet, saat ini penggunaan minyak untuk pengeboran di mulut tambang sudah mulai terganti dengan tenaga uap. Dengan meningkatnya harga BBM bersubsidi maka kemungkinan pemerintah akan lebih mendorong perusahaan tambang dan migas untuk terus mengurangi permintaan BBM bersubsidi untuk industri dan menggunakan energi alternatif lainnya.

“Sehingga dampaknya akan terjadi efisiensi biaya operasional pada perusahaan pertambangan. Hal ini membuat prospek industri pertambangan akan menjadi lebih baik,” tambah Viviet.

Sedangkan saham agribisnis, papar Viviet, kebijakan pemerintah saat ini yang mengharuskan perusahaan perkebunan untuk membangun industri hilir dan pengolahannya akan meningkatkan harga jual kelapa sawit (crude palm oil/CPO). Sehingga akan terjadi penguatan terhadap saham emiten produsen CPO dalam jangka panjang.

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Haryajid Ramelan, mengatakan akan terjadi perputaran rotasi sektoral jika kenaikan harga BBM teralisasi. Sektor yang kini menjadi unggulan seperti properti, dan keuangan berpotensi terkoreksi.
Read the rest of this entry

Krisis Siprus : bank tutup hingga Kamis

Bank-bank Siprus tutup sampai Kamis, kata pejabat Bank Sentral negara itu kepada kantor berita AFP.

Kebijakan itu dilakukan pada saat kekhawatiran pelarian dana oleh para nasabah yang terkena pajak atas deposito mereka.

Pajak atas deposito itu dikenakan berdasarkan kesepakatan dana talangan (bailout) Uni Eropa.

Para menteri keuangan zona euro dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Sabtu menyetujui kesepakatan dana talangan 10 miliar euro (13 miliar dolar AS) untuk Siprus. Negara itu menjadi negara kelima dari anggota zona euro  yang diselamatkan dari kebangkrutan.
Read the rest of this entry

China Perlihatkan Gejala Krisis Finansial: Ekonom

Setelah kekhawatiran akan terjadinya hard landing di China memudar, ekonom Nomura memperingatkan akan adanya gejala mengkhawatirkan yang dapat memicu krisis finansial seperti pada 2008. Menurut ekonom Nomura, Zhiwei Zhang dan Wendy Chen, rasio kucuran kredit terhadap produk domestik bruto (leverage) yang cepat, penurunan potensi pertumbuhan, dan kenaikan harga properti, merupakan pertanda yang tak boleh diabaikan.

“China menghadapi kenaikan risiko krisis keuangan sistemik dan kebutuhan pemerintah untuk segera bertindak mengatasi risiko tersebut. Kami yakin perluasan risiko finansial di China tidak diapresiasi sepenuhnya oleh investor,” tulis Zhang dan Chen dalam laporan yang dirilis akhir pekan lalu.

Menurut mereka,  jika China mempertahankan kebijakan yang longgar pada tahun ini maka akan meningkatkan risiko krisis keuangan pada 2014. Kebijakan moneter yang longgar berisiko mendorong inflasi dalam perekonomian. “Ini benar-benar pilihan berbahaya, tapi kita tak dapat  mengesampingkannya dengan adanya tekanan politik untuk mempertahankan pertumbuhan yang kuat,” papar laporan Nomura yang dikutip cnbc.com (18/3).
Read the rest of this entry

Laba PGN Meningkat 30,39%

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,950 150 (+3,1%)] mencatat pertumbuhan laba tahun berjalan 2012 sekitar 30,39% menjadi US$915,256 juta, dibanding dengan tahun sebelumnya US$701,9 juta.

Menurut Direktur Utama Hendi Prio Santoso, pencapaian kinerja 2012 didukung oleh keuntungan kurs yang diperoleh perusahaan sebesar US$49,757 juta dari rugi kurs sekitar US$26,49 juta periode 2011. Selain itu, beban keuangan berhasil diturunkan 22,13% menjadi US$21,576 juta.

BUMN distribusi gas ini turut mencatat peningkatan pendapatan sebesar 15,51% dari US$2,230 miliar pada 2011 menjadi US$2,576 miliar sepanjang 2012. Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban pokok turut bertambah menjadi US$1,104 miliar, naik 24,32% dari US$888,467 juta pada 2011.
Read the rest of this entry

Tahun 2012, Laba Bersih Astra Rp 19,4 Triliun

PT Astra International Tbk (ASII) mencetak laba bersih sepanjang 2012 sebesar Rp 19,4 triliun atau naik 9 persen dibanding pencapaian 2011 sebesar Rp 17,8 triliun.

Kenaikan laba karena operasional perseroan. Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan kinerja grup Astra ini terutama didukung oleh tingginya penjualan mobil sehingga menyebabkan pendapatan bersih perseroan naik 16 persen dari Rp 162,6 triliun menjadi Rp 188,1 triliun.

“Namun menurunnya permintaan di sektor alat berat yang disebabkan oleh melemahnya harga batu bara serta turunnya harga CPO meskipun produksinya meningkat, telah mempengaruhi tingkat keuntungan perseroan,” kata Prijono dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/2/2013). Read the rest of this entry