China Perlihatkan Gejala Krisis Finansial: Ekonom

Setelah kekhawatiran akan terjadinya hard landing di China memudar, ekonom Nomura memperingatkan akan adanya gejala mengkhawatirkan yang dapat memicu krisis finansial seperti pada 2008. Menurut ekonom Nomura, Zhiwei Zhang dan Wendy Chen, rasio kucuran kredit terhadap produk domestik bruto (leverage) yang cepat, penurunan potensi pertumbuhan, dan kenaikan harga properti, merupakan pertanda yang tak boleh diabaikan.

“China menghadapi kenaikan risiko krisis keuangan sistemik dan kebutuhan pemerintah untuk segera bertindak mengatasi risiko tersebut. Kami yakin perluasan risiko finansial di China tidak diapresiasi sepenuhnya oleh investor,” tulis Zhang dan Chen dalam laporan yang dirilis akhir pekan lalu.

Menurut mereka,  jika China mempertahankan kebijakan yang longgar pada tahun ini maka akan meningkatkan risiko krisis keuangan pada 2014. Kebijakan moneter yang longgar berisiko mendorong inflasi dalam perekonomian. “Ini benar-benar pilihan berbahaya, tapi kita tak dapat  mengesampingkannya dengan adanya tekanan politik untuk mempertahankan pertumbuhan yang kuat,” papar laporan Nomura yang dikutip cnbc.com (18/3).

Leverage, indikator penentu ketegangan finansial yang diukur dengan rasio  kredit domestik terhadap produk domestik bruto (PDB), telah mencapai level tertinggi sejak dimulainya pencatatan pada 1978. Rasio ini berada pada level 121 persen sebelum krisis finansial 2008, dan meningkat menjadi 155 persen pada 2012, sebagai dampak dari kebijakan fiskal dan moneter pemerintah untuk mendukung pertumbuhan.

“Leverage China tumbuh 34 persen dalam lima tahun – sinyal mengkhawatirkan secara historis,” imbuh Zhang dan Chen. Mereka mengacu pada kenaikan leverage AS sekitar 30 persen,  lima tahun sebelum memasuki krisis. Selain itu, beberapa bulan terakhir ini, pemerintah China dinilai telah mengirimkan sejumlah sinyal “kuat yang tak biasanya” yang berkaitan dengan krisis finansial dalam perekonomiannya.

Dalam pertemuan komite kebijakan moneter kuartal keempat bank sentral China, disebutkan bahwa “pengendalian risiko” merupakan sasaran kebijakan tertinggi. Pekan lalu, Gubernur Bank Rakyat China Zhou Xiaochuan mengatakan, perbankan sebaiknya tidak mengabaikan risiko pinjaman pemerintah daerah. Dia menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pinjaman yang dikucurkan untuk mendanai kegiatan pemerintah daerah merupakan pinjaman berisiko.

Menurut banyak ekonom, China menghadapi penurunan potensi pertumbuhan, yang disebabkan oleh penurunan pertumbuhan angkatan kerja dan produktivitas. Menurut Nomura, populasi usia kerja China mulai menurun pada 2012. Tahun lalu, ekonomi China tumbuh 7,8 persen, laju pertumbuhan terendah dalam 13 tahun. Pada 2013, Beijing menentapkan targe pertumbuhan sebesar 7,5 persen.

Inflasi harga properti yang tinggi adalah sinyal peringatan terakhir dalam perekonomian  China. Zhang dan Chen mengatakan, kenaikan harga-harga aset yang tinggi pada umumnya mengawali krisis perbankan. Data resmi menunjukkan harga rumah telah meningkat 113 persen sejak 2004 hingga 2012 di kota-kota utama China.

Sumber : ipotnews.com

Posted on March 18, 2013, in Ekonomi Dan Investasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: