Kejatuhan Harga Emas Sinyal Untuk Melepas Saham (?)

Rontoknya harga emas akhir-akhir ini mencerminkan hilangnya keampuhan kebijakan pelonggaran kuantitatif bank sentral di negara-negara Barat. Menurut Dhiren Sarin, kepala strategi teknikal Barclay, kelompok aset berikutnya yang rentan mengalami penjualan besar-besaran adalah ekuitas.

“Keruntuhan harga emas dalam euro dan dolar AS menunjukkan kepada kita bahwa keyakinan kepada upaya-upaya pelonggaran kuantitaif sudah memudar, dan kebijakan bank sentral tidak mengalir ke investor. Kelompok aset yang paling rentan untuk mengalami aksi jual setelah komoditas kemungkinan besar adalah ekuitas,” ujar Sarin dalam wawancara dengan CNBC, Senin (22/4). Ia memperkirakan saham-saham Eropa dan AS adalah yang paling berisiko.

Pekan lalu, harga emas mengalami kejatuhan harga terbesar dalam sehari selama 30 tahun terakhir, hingga mencapai US$1.339 per ounce. Kendati setelah penurunan tajam itu, pada awal pekan ini harga emas kembali menguat 1,2 persen menjadi US$1,421 per ounce.

“Kejatuhan dramatis (pada emas) akhir-akhir ini, bertepatan dengan penurunan terbesar harga tembaga secara mingguan sejak 2011, dan penurunan terbesar secara tahunan. Oleh karena itu, kami yakin ini akan berisiko membahayakan sentimen (investor),” imbuh Sarin seperti dikutip cnbc.com.

Pekan lalu harga saham-saham AS membukukan penurunan mingguan terburuk pada tahun ini, dengan penurunan Dow Jones Industrial Average sebesar 2,1 persen. Surat-surat berharga Eropa juga terperangkap dalam penurunan, dengan kemunduran pada indeks bursa saham Jerman, DAX Index ke empat bulan lalu, atau melorot 3,7 persen.

“Pergerakan harga saham yang lebih rendah belum berakhir, titik terendah DAX yang baru adalah sinyal untuk kondisi bearish,” papar Sarin. Ia meramalkan akan terjadi penurunan 4-6 persen di pasar pada akhir Mei nanti. Sedangkan untuk saham-saham AS, Samin menambahkan, jika indeks S&P 500 jatuh hingga 1535, atau 1,3 persen lebih rendah dari leval saat ini, maka hal ini akan menjadi sinyal negatif.

“Selama satu setengah tahun ini, kita telah menghadapi tiga kali penjualan besar-besaran yang masing-masing sebesar 10 persen. Berdasarkan hal ini, dengan skenario yang agresif, kita hanya bisa naik 7 persen dari level saat ini,” ungkapnya.

Ketika saham-saham AS dan Eropa mendapat pukulan dari kejatuhan harga emas, saham-saham Jepang bertahan dengan baik dengan kebijakan pelonggaran kuantitatif radikal dari Bank of Japan untuk mengembalikan kembali perekonomian. “Jepang adalah pengecualian. Ada permintaan yang melekat dengan semua hal yang bertentangan dengan yen sehingga dapat mendukung Nikkei,” kata Sarin dengan mengacu pada hubungan terbalik antara yen dan indeks acuan.

Sumber : ipotnews.com

Posted on April 23, 2013, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: