Monthly Archives: June 2013

Gudang Garam Sebar Dividen Rp 1,3 Triliun ke Pemegang Saham

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) [50,600 2300 (+4,8%)] memutuskan membagi dividen kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 1,3 triliun, dari hasil laba perseroan tahun lalu yang mencapai Rp 4,09 triliun.

Demikian hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) Gudang Garam yang diadakan di Hotel Grand Surya, Kediri, Sabtu (29/6/2013).

Lewat keputusan ini, berarti dividen untuk per lembar saham adalah Rp 800., menurun 20% dibanding tahun lalu Rp 1.000/lembar saham.

Menurut Direktur Gudang Garam Heru Budiman, penurunan nilai dividen tersebut akibat turunnya keuntungan perusahaan dari Rp 4,98 triliun di 2011, menjadi Rp 4,09 triliun di 2012.
Read the rest of this entry

Advertisements

Pasar Saham Sedang Muram, Inilah Rating Emiten Banking, Infrastructure dan Automotive

Apa saja sektor saham yang bakal tahan banting terhadap dampak kenaikan BBM? Sebaliknya saham-saham mana yang rentan terjungkal setelah harga bensin subsidi naik jadi Rp6500/liter dari Rp4500/liter.

Analis PT Indo Premier Securities Stephan Hajim dan Wendy Zhangs dalam risetnya yang dirilis Senin (24/6) menilai kenaikan harga bensin subsidi berdampak positif bagi makro ekonomi RI. “Emiten-emiten yang memiliki demand kuat cuma akan terkena dampak yang minim,” ujar kedua analis tersebut dalam dokumen risetnya.

Performa sektor bank berbasis corporate dan semen masih berpotensi positif. Sementara dampak buruk kenaikan harga BBM subsidi akan menerpa bank berbasis mass market, otomotif, dan emiten ritel.
Read the rest of this entry

Penurunan Emas Bisa Bertahun-Tahun

Harga emas berpotensi menurun hingga beberapa tahun ke depan selama pasar keuangan global mengalami krisis likuiditas.

Kepala ekonom RDN Associates, Roger Knightingale pelemahan harga emas tidak hanya berlangsung hingga kuartal terakhir tahun ini. “Saya pikir akan selama beberapa tahun atau beberapa dekade,” katanya seperti mengutip cnbc.com, Senin (24/6/2013).

Knightingale mengakui harga emas dapat menguat lagi dengan suntikan dana beberapa bank sentral di Eropa dan China. Namun pembelian emas berada di daftar paling bawah untuk pilihan investasi. “Dengan melihat perekomian dunia dalam kesulitan sehingga bukan waktunya untuk (investasi) komoditas,” tambahnya. Read the rest of this entry

Dolar Tembus Rp 10.000, What’s Next?

Belakangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menunjukkan pelemahan. Dolar AS tembus Rp 10.000 atau mencapai level tertingginya dalam 3 tahun terakhir. What’s next?

Pada dasarnya, nilai tukar rupiah yang berada di posisi Rp 10.000 per dolar AS bukanlah hal yang fantastis. Investor diminta untuk tidak panik melihat nilai tukar rupiah yang melemah dan dibarengi pula oleh anjloknya IHSG.

“Kita mengerti memang jika melihat kondisi pasar saat ini. Rupiah memang cukup tertekan akibat permintaan dolar yang tinggi,” jelas Chief Economist PT Bank Danamon Tbk Anton H Gunawan ketika berbincang dengan detikFinance, Rabu (12/6/2013).

Hal tersebut, lanjut Anton didasari oleh beberapa faktor. “Kita juga tahu bursa baru saja diramaikan oleh pembagian dividen. Dan kebanyakan asing mengambilnya dalam bentuk dolar. Kemudian ada lagi mengenai pembayaran utang jatuh tempo swasta dan pemerintah,” terangnya.

Sehingga, menurut Anton dolar bisa dibilang ‘sedikit’ langka di pasaran. Pada saat yang bersamaan, sambungnya, IHSG dalam beberapa bulan belakangan melonjak cukup tinggi.

“Alhasil, investor langsung profit taking untuk sementara. Banyak yang keluar,” tegasnya.

“Tetapi kita lihat juga upaya Bank Indonesia yang terus mensuplai dolar dalam jumlah besar. Tetapi memang harus dijaga juga agar cadangan devisanya tidak anjlok parah,” tuturnya.

Menurut Anton, BI sudah seharusnya sedikit melonggarkan keinginan ‘pasar’ dan membiarkan dolar AS hinggap di Rp 10.000. “Toh itu juga bukanlah hal yang mengejutkan dolar di Rp 10.000. Itu bukan hal yang tabu. Itu wajar kok masih,” tambahnya.

Sampai kapan?

Anton menjelaskan, jika nantinya kepastian BBM yang 90% saat ini sudah hampir pasti untuk dinaikkan maka investor sudah bisa kembali ke pasar.
Read the rest of this entry

Saham ASRI Layak Beli, Ini Target Harganya

Seiring longsornya IHSG, saham ASRI [800 -90 (-10,1%)] tak berkutik di zona merah. Tapi, harga saham properti ini dinilai layak beli di level Rp850. Inilah target harganya.

Pada perdagangan Selasa (11/6/2013) saham PT Alam Sutera Realty (ASRI) [800 -90 (-10,1%)] ditutup melemah Rp90 (10,11%) ke posisi Rp800 per saham. Intraday terendah di Rp800 dan tertinggi Rp890. Volume transaksi mencapai 176,7 juta unit saham senilai Rp149,5 miliar.

Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, setelah IHSG melemah tajam saham ASRI [800 -90 (-10,1%)] pun terbawa arus pelemahan tersebut. “Saya kira posisi saham ASRI [800 -90 (-10,1%)] saat ini sudah layak beli,” katanya kepada INILAH.COM.
Read the rest of this entry

Dai-ichi Pastikan Akuisisi 40% Saham Panin Life Seharga Rp3,3 Triliun

Perusahaan asuransi Jepang, Dai-ichi Life Insurance Co Ltd, Selasa (4/6), memastikan telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi 40 persen saham Panin Life Indonesia milik PT Panin Financial Tbk (PNLF) senilai USD336,5 juta (Rp3,3 triliun). Akuisisi ini merupakan bagian dari ekspansi Dai-ichi demi mengejar pertumbuhan di luar negeri, seiring jenuhnya pasar di Jepang.

“Investasi di Panin Life didasarkan pada strategi inti perusahaan untuk meningkatkan operasi asuransi jiwa di luar negeri di kawasan Asia Pasifik, menyusul bisnis di Vietnam, India, Thailand, dan Australia,” demikian pernyataan manajemen Dai-ichi seperti diberitakan Reuters.

Dai-ichi aktif mencari peluang akuisisi di Asia Tenggara karena masih rendahnya penetrasi perusahaan asuransi dan cepatnya pertumbuhan kelas menengah di kawasan ini. Menjadi satu-satunya asuransi jiwa yang listing di Bursa Tokyo, Dai-ichi sebelumnya menyatakan telah menyiapkan dana 300 miliar yen (hampir Rp30 triliun) untuk mendanai ekspansinya secara global hingga 2015. “Perusahaan akan terus memperkuat bisnis asuransi jiwa di berbagai negara,” tambah pernyataan itu.

Saham PT Panin Financial [PNLF 285 15 (+5,6%)] meroket 9,3 persen setelah pengumuman kesepakatan tersebut.
Read the rest of this entry