Duh… Rupiah

BEN BERNANKE hanyalah seorang gubernur bank sentral. Namun, lantaran dia Gubernur The Federal Reserve–bank sentral Amerika Serikat (AS)—ucapannya selalu menjadi pertimbangan dan keputusan investor.

Maka, ketika Bernanke bilang akan mempercepat penghentian stimulus bagi perekonomian AS, kontan investor di seluruh dunia dibuat panik. Sebab, dengan beleid ini, likuiditas di pasar uang pasti seret, karena Paman Sam selama ini menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia.

Karena itu, para pemilik modal dihadapkan pada suasana ketidakpastian yang begitu tebal. Sehingga, untuk mengamankan kekayaannya, para investor pun beramai-ramai melepas asetnya di berbagai instrumen investasi yang dianggap berisiko tinggi. Mereka lebih aman dan nyaman dengan menggenggam dolar AS.

Aksi lepas barang yang dilakukan investor terlihat jelas pada perdagangan saham di hampir seluruh bursa dunia, tak terkecuali di Bursa Efek Indonesia. Sejak bulan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tergerus. Dan, sejak itu pula, asing selalu mencatatkan net sell.

Lihat saja pada Juni 2013. Sepanjang bulan itu, ada Rp 20,7 triliun dana asing yang keluar (net sell) dari pasar modal. Lalu, dari awal Juli hingga pekan lalu, tercatat net sell asing sebesar Rp 4,5 triliun.

Posisi itu memperlihatkan, semua dana asing yang masuk ke Indonesia sejak Januari hingga minggu ketiga Juli 2013 sudah habis. Bahkan, posisi itu sudah mengambil sebagian porsi dana asing yang masuk tahun 2012 sebesar Rp 15,2 triliun.

Sudah bisa ditebak apa yang terjadi pada kondisi seperti ini. Kini, IHSG berkubang di level 4.600-an. Bahkan, beberapa kali sempat menyelinap ke bawah angka 4.600. Padahal sebelumnya, selama 2,5 bulan, IHSG anteng di atas 5.000.

Aksi jual oleh investor itulah, yang membuat nilai tukar rupiah terus merosot. Bahkan, sejak tanggal 12 Juli hingga 26 Juli 2013, rupiah sudah menembus Rp 10 ribu per dolar AS. Hari Kamis pekan lalu, rupiah sempat menyentuh Rp 10.301 per dolar AS. Ini merupakan level tertinggi sejak 8 September 2009. Beruntung sehari kemudian, rupiah menguat 0,3% menjadi Rp 10.270 per dolar AS. Inilah penguatan pertama yang terjadi sejak tanggal 12 Juli 2013.

Keadaan bertambah runyam, lantaran pemasukan devisa ekspor kalah besar dibandingkan impor. Inilah yang membuat neraca perdagangan menjadi jomplang. Lihat saja sepanjang tahun 2012, defisit mencapai US$ 1,6 miliar.

Angka defisit semakin membengkak memasuki tahun 2013. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), total defisit perdagangan pada lima bulan pertama tahun ini sebesar US$ 2,53 miliar.

Investor Tunggu Inflasi

Tak cuma neraca defisit yang membakar rupiah. Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi juga menyulut inflasi tinggi. Per Juni 2013 lalu, inflasi bulanan sudah menembus 1,03%.

Bank Indonesia (BI) memprediksi, inflasi di bulan Juli akan melonjak di level 2,3% akibat kenaikan harga BBM bersubsidi. Berikutnya, BI memprediksi inflasi Agustus sekitar 0,9%. “Ini akan membuat asing merasa tidak nyaman untuk menaruh dananya di Indonesia,” ujar Juniman, Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII).

BI bukannya berpangku tangan melihat kondisi ini. Berbagai cara sudah dilakukan agar rupiah tidak terus sempoyongan. Mulai dengan menaikkan suku bunga acuan (BI rate), mengerek bunga fasilitas diskonto (FasBI), hingga menerbitkan instrumen lindung nilai (hedging) FX Swap.

Tak berhenti sampai di sini. BI juga aktif mengguyur dolar AS ke pasar untuk mendongkrak rupiah. Lihat saja selama bulan Juni lalu, cadangan devisa BI terkuras sampai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 66 triliun. Berdasarkan data BI, sampai akhir Juni cadangan devisa yang tersimpan di BI tinggal US$ 98,1 miliar. Padahal, akhir Mei masih tercatat Rp 105,1 miliar.

Apa hasilnya? Belum banyak berubah. Mata uang Paman Sam terus saja mengamuk dan membuat rupiah tetap berada di jalur merah.

Namun, menurut Gubernur BI Agus Martowardojo, pergerakan rupiah yang terjadi sekarang ini masih dalam batas yang wajar. “Secara umum kondisi rupiah kita dalam beberapa hari ini mengarah ke equilibrium (titik keseimbangan) baru,” kata Agus kepada InilahREVIEW (lihat: Masyarakat Tidak Usah Panik).

Agus mengatakan, BI terus memantau ketersediaan valuta asing (valas) di pasar. Jika diperlukan, BI siap memasok valas secara terukur. “Pelaku pasar agar tetap tenang. BI mengutamakan stabilitas nilai tukar,” ujarnya.

Seperti halnya Agus, Menteri Keuangan Chatib Basri juga menyatakan, depresiasi rupiah hanya 3,4% dan ini masih sejalan dengan pergerakan kurs di kawasan. “Ini tidak lebih buruk dibanding, misalnya, terhadap rupee India atau yuan China,” kata Chatib.

Begitu pula halnya dengan IHSG. Menurut Chatib, secara year to date IHSG masih positif, yakni 9,8%. Ini lebih tinggi ketimbang Singapura dan Thailand. ”Jadi, sebetulnya tidak perlu ada kepanikan. Dan, dengan rupiah ke arah Rp 10.200, yield kita sudah mulai menurun dari 8,3% ke 7,8%. Bahkan, sempat di 7,4%. Artinya, asing sudah mulai masuk lagi,” ujarnya.

Betul, kepemilikan asing di surat utang negara (SUN) terus meningkat ketika rupiah bergerak di atas Rp 10 ribu per dolar AS. Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Negara, per 19 Juli 2013 dana asing tercatat Rp 284,66 triliun.

Meski total kepemilikan asing merangkak naik, porsi asing terhadap total SUN yang dapat diperdagangkan turun menjadi 31,39%. Porsi asing terus turun sejak angka tertinggi pada akhir April lalu.

Hanya saja, menurut ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, dana asing yang masuk lebih banyak berjangka pendek. Ditambah porsinya juga kecil, itu pertanda investor asing masih wait and see terhadap angka inflasi bulan Juli. “Investor akan menentukan langkah lanjutan setelah mengetahui angka inflasi. Pasca pengumuman inflasi, investor dapat menghitung berapa besar imbal hasil yang menarik,” kata Lana kepada Kontan.

Tapi, bila melihat prediksi yang dibuat oleh BI, investor tampaknya akan berpikir ulang masuk ke Indonesia. BI memperkirakan, akibat kenaikan harga BBM, inflasi di bulan Juli akan mencapai 2,3%. Angka ini naik cukup tinggi dibandingkan bulan Juni sebesar 1,03%.

Yang Rugi dan Untung

Begitulah kesehatan rupiah kita saat ini. Kalau dolar AS berotot, tapi rupiah loyo, tentu banyak pihak yang rugi. Di sektor industri, misalnya. Pengusaha yang selama ini bergantung pada bahan baku impor, harus mengeluarkan uang berlebih. Contohnya begini. Kalau sebelumnya mereka harus mengeluarkan Rp 9.300 per dolar AS untuk satu bahan baku impor, kini harus merogoh Rp 10.200 per dolar AS. Bayangkan saja kalau bahan baku impor itu mencapai jutaan dolar.

”Nilai tukar Rp 9.500 sampai Rp 9.700 masih bisa ditoleransi karena penurunan harga bahan baku belakangan cukup tinggi. Namun, kalau rupiah tembus Rp 10.000 atau lebih, industri plastik harus membeli bahan baku lebih mahal,” kata Budi Susanto Sadiman, Wakil Ketua Umum Pengembangan Bisnis Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia.

Begitu pula melemahnya rupiah dan menguatnya dolar AS, akan membuat jumlah utang luar negeri dalam mata uang dolar AS meningkat. Semakin kuat dolar AS, semakin besar utang yang harus dibayar oleh perusahaan swasta dan pemerintah.

Menurut catatan BI, jumlah utang luar negeri swasta hingga akhir Mei 2013 mencapai US$ 131,55 miliar. Dari jumlah ini, sebanyak 87,1% dalam bentuk dolar AS. Repotnya, sebesar US$ 36,28 miliar merupakan utang jangka pendek atau kurang dari satu tahun.

Namun, ada pengusaha yang untung dari melemahnya rupiah. Mereka adalah kalangan eksportir yang selama ini menggunakan bahan baku sepenuhnya lokal. Produk furnitur, buah-buahan olahan, akan semakin murah di kalangan pembeli di luar negeri.

Jadi, ada yang untung, ada pihak yang rugi. Tapi, yang rugi jauh lebih banyak. Duh…, rupiah…, rupiah….

Sumber : inilah.com

Posted on July 29, 2013, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: