Averaging down: Madu atau racun?

Seorang investor pasti pernah mengalami penurunan harga segera setelah ia membeli sebuah saham. Sebagian investor mendiamkan sahamnya, bersabar menunggu hingga harga naik kembali. Sebagian lagi tidak cukup sabar. Mereka ingin segera melihat posisi sahamnya berubah dari rugi menjadi untung.

Daniel Kahneman (pakar psikologi pemenang Nobel Ekonomi 2002) dan Amos Tversky berteori bahwa orang cenderung memilih keuntungan yang lebih pasti namun menjadi lebih spekulatif pada saat posisi rugi atau kalah (Prospect Theory, 1979).

Misalnya, jika diberi pilihan skenario A “pasti terima uang Rp 1 juta” atau skenario B “melempar mata uang: akan terima Rp 2 juta jika tebakan benar dan Rp 0 jika tebakan salah”, maka orang cenderung memilih skenario A. Namun, jika diberi pilihan skenario A “pasti rugi Rp1 juta”, atau skenario B “melempar mata uang: jika tebakan benar maka tidak rugi (Rp 0), jika tebakan salah maka rugi Rp 2 juta”, orang cenderung memilih skenario B.

Bukti empiris ternyata menunjukkan bahwa manajer dana cenderung terjangkit bias psikologis ini. Saat “menang” mereka segera merealisasi keuntungan. Saat “kalah” mereka cenderung meningkatkan dana investasi dan berperilaku spekulatif untuk memulihkan dana yang hilang (Brown, dkk, 2005, untuk data Australia dan “Weismann, 2002, untuk data AS).

Saat posisi saham merugi, salah satu strategi untuk mempercepat pemulihan dana adalah dengan membeli saham yang sama pada harga lebih rendah sehingga menurunkan rata-rata harga beli. Strategi ini disebut averaging down.

Misalnya, kita membeli 1 lot saham ASII pada harga Rp 7.000. Kemudian harga saham ASII turun jadi Rp 6.600. Jika kita membeli 1 lot saham ASII lagi pada harga tersebut, rata-rata harga pembelian kita turun jadi Rp 6.800. Jika saham ASII rebound ke Rp 6.800, maka ini sebuah strategi bagus. Namun, bagaimana jika saham ASII sedang berpakaian selam dan siap untuk ber-diving ria di lautan bursa yang terdalam? Kita dihadapkan pada dua pilihan: terus melakukan averaging down, atau menjual rugi (cut loss). Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah averaging down sebuah strategi yang baik atau buruk?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, harus ditentukan, kita seorang trader atau investor saham? Jika kita sedang trading, kita membeli atau menjual berdasarkan sejumlah indikator teknikal. Tujuan kita adalah memanfaatkan pergerakan harga dalam jangka waktu pendek. Kita tidak tertarik pada hal-hal fundamental perusahaan. Akibatnya, kita tidak tahu apakah penurunan harga saham bersifat sementara atau merupakan refleksi dari masalah fundamental perusahaan yang serius. Maka strategi averaging down tidak tepat untuk diterapkan pada trading saham.

Risikonya adalah kita ternyata melakukan averaging down pada saham perusahaan yang bermasalah, sehingga dana trading biasanya “nyangkut’ untuk jangka waktu yang lama. Bahkan tidak jarang trader saham terpaksa menjadi anggota “The Nyangkutters” seumur hidup. Misalnya, saham BNBR yang turun cepat dari Rp 500 menjadi Rp 50, lalu diam di harga tersebut selama bertahun-tahun.

Bagi trader saham, pilihan cut loss lebih bijaksana. Trader saham sebaiknya disiplin dalam melakukan cut loss. Misalnya, setiap kali kerugian mencapai angka tertentu, katakanlah 7%, jual saham tersebut dan pakai dananya untuk trading di saham lain. Tak jarang trader pemula terjebak menyimpan saham rugi atau bahkan melakukan averaging down, padahal ia tak tahu banyak mengenai fundamental saham yang ia pegang.

Lain hal jika kita adalah investor saham. Karena pola pikirnya adalah “membeli perusahaan”, investor saham akan melakukan analisis fundamental untuk mengetahui penyebab penurunan harga saham sebuah perusahaan. Diasumsikan kita memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perusahaan dan industrinya, sehingga bisa mengenali apakah sebuah penurunan harga bersifat sementara atau sinyal masalah serius fundamental perusahaan.

Jika kita yakin bahwa perusahaan tersebut bagus, maka strategi averaging down masuk akal untuk diterapkan karena kita ingin meningkatkan kepemilikan jangka panjang pada perusahaan tersebut. Meskipun demikian, kita harus hati-hati sebelum melakukan averaging down. Tekanan jual pada sebuah saham yang kita anggap bagus menimbulkan pertanyaan: “Jangan-jangan mereka tahu sesuatu yang saya tidak ketahui.”

Mereka itu, antara lain, manajer reksadana dan investor institusi yang dianggap memiliki informasi yang banyak. Berenang melawan arus sungai menawarkan keuntungan, namun tidak tertutup kemungkinan kita tersapu oleh banjir.

Untuk memperkecil risiko, averaging down sebaiknya diterapkan pada saham-saham blue chip atau saham-saham big cap (memiliki kapitalisasi pasar besar, misalnya lebih dari Rp 50 triliun). Harga saham-saham ini, pada umumnya, lebih cepat rebound jika kondisi bursa berubah dari bearish menjadi bullish.

Sumber : kontan.co.id

Posted on July 30, 2013, in Ekonomi Dan Investasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: