Monthly Archives: October 2013

Walau Rupiah Melemah, Laba ACES Tetap Berkibar

Kinerja emiten ritel PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) tetap menguat saat nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan mata uang asing lainnya terpuruk.

Selama periode Januari – September 2013, ACES berhasil mendapatkan pendapatan Rp 2,788 triliun, atau naik Rp 510,46 miliar atau menguat 22,4% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,277 triliun.

Penguatan pendapatan tersebut seiring dengan naiknya kerugian dari selisih nilai kurs selama sembilan bulan pertama  tahun ini. ACES mencatat rugi kurs Rp 3,45 miliar sampai dengan September. Read the rest of this entry

Advertisements

Aset Mandiri Tertinggi, Laba BCA Kian Wah

Kompetisi di industri perbankan Tanah Air semakin memanas. Dua bank papan atas saling menunjukkan kebolehannya masing-masing.

Tengok saja, Bank Mandiri yang tetap mempertahankan gelar sebagai bank dengan aset terbesar di seluruh Indonesia. Di akhir September 2013, total aset bank berlogo pita emas ini menyentuh angka Rp 700 triliun.

Jumlah ini tumbuh 19% dibandingkan posisi sebelumnya Rp 588,4 triliun di tahun lalu. “Pertumbuhan aset dilakukan dengan tetap menjaga rasio kredit bermasalah (NPL),” terang Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Mandiri Rabu (30/10).

Di akhir September, NPL nett Bank Mandiri bertengger di level 0,53%. Sejalan dengan pertumbuhan aset, laba bersih konsolidasi Bank Mandiri tumbuh 15,1%, yaitu dari

Rp 11,1 triliun menjadi Rp 12,8 triliun.
Read the rest of this entry

Pendapatan Naik, Laba SMGR Jadi Rp3,8 T

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) meraih pendapatan Rp17,3 triliun pada kuartal ketiga 2013 dan laba Rp3,8 triliun.

Pendapatan tersebut naik dari periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp13,6 triliun. Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Selasa (29/10/2013).

Namun beban pokok pendapatan mengalami kenaikan menjadi Rp9,5 triliun dari Rp7,2 triliun. Laba bruto perseroan mencapai Rp7,8 triliun dari Rp6,4 triliun.
Read the rest of this entry

Ini Rekomendasi Teknikal Saham PGAS

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bergerak positif pada transaksi hari ini (28/10). Pada penutupan sesi I, saham PGAS ditutup dengan lompatan 3% menjadi Rp 5.100.

Analis Indo Premier Securities Muhammad Wafi memberikan rekomendasi buy on weakness untuk saham ini. Dia menjelaskan, jika dilihat secara teknikal, grafik mingguan saham PGAS menunjukkan terjadinya penurunan harga yang cukup tajam dengan volume yang cukup tinggi sehingga membentuk candle berupa full black body. Selain itu, MACD negatif, stochastic mendekati oversold.
Read the rest of this entry

Capai Rp 2.570 Triliun, Utang Luar Negeri RI Makin Menggunung

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia sampai Agustus 2013 sebesar US$ 257,30 miliar atau mencapai Rp 2.570 triliun. Utang yang menggunung ini memang turun tipis 0,9% jika dibandingkan posisi Juli 2013 sebesar US$ 259,61 miliar atau Rp 2.590 triliun.

Namun pertumbuhan tahunan ULN pada Agustus 2013 tercatat mengalami pertumbuhan 6,6% (yoy).

Dikutip dari siaran pers Bank Indonesia, Selasa (22/10/2013), pertumbuhan ULN Indonesia pada periode laporan terutama disebabkan oleh pertumbuhan ULN Publik. ULN Publik pada Agustus 2013 tumbuh 2,5% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan Juli 2013 sebesar 5,1% (yoy), sehingga pada akhir Agustus 2013 tercatat sebesar US$ 122,07 miliar.

Sementara itu, ULN Swasta tumbuh 10,5% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan Juli 2013 sebesar 9,6% (yoy), sehingga pada akhir Agustus 2013 tercatat sebesar US$ 135,23 miliar.
Read the rest of this entry

Pajak Rokok Bikin Batuk Kinerja GGRM

Ada satu lagi tantangan yang harus dihadapi para produsen rokok. Mulai 1 Januari 2014, Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang pajak Daerah dan Retribusi Daerah merestui pemerintah provinsi memungut pajak rokok sebesar 10% dari tarif cukai rokok. Tak ayal, emiten produsen rokok seperti PT Gudang Garam Tbk (GGRM) bakal kena imbas.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, GGRM masih mempertahankan pertumbuhan kinerja. Tapi, GGRM tersandera kenaikan beban pokok penjualan. Hal itu membuat laba bersih GGRM hanya tumbuh tipis. Beban ini diprediksi akan terus membengkak, terutama di tahun depan karena beleid baru pajak rokok.

Joseph Pangaribuan, analis Samuel Sekuritas mengatakan, per semester I 2013, biaya cukai mencapai 55,5% dari total biaya pokok penjualan GGRM. Hitungan Joseph, kenaikan pajak rokok atas tarif cukai bisa mengerek beban GGRM menjadi 61% terhadap beban pokok penjualan. “Margin GGRM bisa tergerus dan memang trennya akan melambat di tahun depan,” jelasnya.

Pertumbuhan GGRM juga banyak dipengaruhi harga cengkih dan tembakau. Beban bahan baku ini juga menggerus margin laba GGRM. Read the rest of this entry

Pemerintahan AS Ditutup, Bagaimana Nasib Investor Saham?

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) baru saja ditutup memasuki Selasa 1 Oktober 2013 dini hari tadi gara-gara anggarannya tidak disepakati kongres. Akibatnya, banyak kantor pemerintahan dan fasilitas umum yang tutup.

Tapi lain halnya dengan pasar saham Wall Street. Perdagangan saham akan terus berlanjut meski Securities & Exchange Commission (SEC) diminta berhenti menyetop sebagian operasinya.

Wasit pasar modal AS itu diminta untuk menghentikan seluruh registrasi baru terkait pasar modal, seperti initial public offering (IPO), rights issue dan sebagainya. Nah, pada saat seperti ini bagaimana sebaiknya sikap investor, keluar atau masuk? Read the rest of this entry