Monthly Archives: November 2013

Mulailah Koleksi Saham SMGR

Sejak awal November harga saham PT Semen Gresik (SMGR) terus menukik, dari Rp14.350 (31/10/2013) ke Rp12.800-an. Itu berarti saham ini telah melemah lebih dari 10%.

Seorang analis mengatakan, kalau berminat, investor bisa mulai mengumpulkan saham ini. Diproyeksikan dalam jangka pendek sahamnya akan melejit ke Rp15.050. Soalnya, diperkirakan, laba bersih perusahaan akan melojak dibanding tahun lalu.

Jika pada 2012 keuntungan bersih SMGR mencapai Rp4,84 triliun, akhir tahun ini ditargetkan melebihi Rp5 triliun. Paling tidak kenaikannya bisa mencapai 10%, kata seorang analis.
Read the rest of this entry

Advertisements

Harga Batubara Terancam Amblas

Harga minyak bakal turun jika perundingan nulir Iran dengan Uni Eropa (UE) berjalan mulus. Harga batubara pun diperkirakan bakal babak belur.

Ini sebuah anomali. Di saat belahan bumi utara memasuki musim dingin, harga minyak justru terancam longsor. Di Nymex, harga minyak mentah (crude oil) untuk pengiriman Januari 2014 turun 1,18% menjadi US$ 93,72 per barel. Penurunan itu tak lepas dari kesepakatan awal antara Iran dengan enam negara terkait program nuklir.

Pada kesepakatan awal ini Uni Eropa memang belum mencabut embargo atas minyak Iran. Namun para pelaku pasar berspekulasi, pada akhirnya UE akan mencabut larangan ekspor minyak bagi Iran. Pencabutan ini akan memaksa para produsen minyak di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, menurunkan harga jual minyaknya.
Read the rest of this entry

Musim Berbelanja Bagi Grup Salim

Grup Salim benar-benar sedang gila belanja. Kini, hampir tiap bulan kita disodori kabar tentang akuisisi yang dilakukan oleh konglomerasi bisnis ini.

Catatan KONTAN, sejak awal tahun ini sampai dengan November 2013, Grup Salim sudah menghabiskan nyaris Rp 25 triliun. Dana tersebut untuk membiayai akuisisi dan ekspansi bisnis, mulai dari bisnis makanan dan minuman, hingga sektor otomotif.

Yang terbaru, anak usaha Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) membentuk perusahaan patungan dengan JC Comsa Corp asal Jepang.  Rencananya, perusahaan ini akan berdiri Januari 2014. Elly Putranti, Sekretaris Perusahaan ICBP, menyatakan, ICBP memegang 51% saham di perusahaan
patungan tersebut.

Read the rest of this entry

Bijak, Akumulasi Bertahap Saham Bank

Seiring kenaikan BI rate ke 7,5%, fundamental emiten-emiten bank mendapat tekanan negatif. Tapi, harga saham-sahamnya sudah terhitung murah. Saatnya akumulasi bertahap.

Raymond Budiman, analis PT Panin Sekuritas mengatakan hal itu. Secara umum, dia merekomendasikan akumulasi bertahan dengan pola buy on weakness pada saham BBRI, BBCA, BBNI, dan BBCA. Dia juga mematok target harganya hingga akhir 2013.

Dari sisi PER, saham-saham bank besar sudah murah di kisaran 9 kali di bawah 10 kali. Kalau dihitung murah ya murah, tapi belum ada katalis positif secara fundamental sehingga sektor saham ini dalam tekanan. “Lebih bijak kalau akumulasi saham-saham bank besar dilakukan secara bertahap,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (19/11/2013) saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) ditutup menguat Rp50 (0,64%) ke Rp7.800; PT Bank Mandiri (BMRI) melemah Rp150 (1,91%) ke Rp7.700; PT Bank Negara Indonesia (BBNI) stagnan di Rp4.475; dan PT Bank Central Asia (BBCA) melemah Rp100 (0,97%) ke Rp10.200 per saham. Berikut ini wawancara lengkapnya: Read the rest of this entry

Ini Peraturan Baru BEI Soal Perubahan Satuan Harga Saham

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menerbitkan peraturan baru, terkait perubahan satuan perdagangan dan fraksi harga yang berlaku pada 6 Januari 2014.

Peraturan ini tertuang dalam peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas (Lampiran Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia No.: Kep-00071/BEI/11-2013 perihal Perubahan Satuan Perdagangan dan Fraksi Harga tanggal 8 November 2013).

Dikutip dari keterangan resmi BEI, berikut hal pokok yang diatur dalam perubahan peraturan tersebut :

1. Perubahan satu satuan perdagangan (round lot). Awalnya diatur satu satuan perdagangan (round lot) Efek Bersifat Ekuitas ditetapkan 500 Efek Bersifat Ekuitas, diubah menjadi 100 Efek Bersifat Ekuitas.

2. Perubahan besaran fraksi harga di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, seperti :
Read the rest of this entry

BI Rate Naik 25 bps, Apa Pendapat Dari Ekonom?

Hari ini, (12//1) Bank Indonesia telah menaikkan tingkat suku bunga acuan perbankan atau BI rate sebesar 25 basis points (bps) dari 7,25% menjadi 7,50%. Ekonom menilai, kebijakan itu merupakan bentuk pengetatan moneter sampai tahun 2014 mendatang.

“Kenaikan BI rate yang tidak terduga ini dipercaya sebagai langkah pre-emptive (pencegahan) untuk merespons reaksi pasar terhadap data current account deficit yang diperkirakan akan berada di atas kisaran bank sentral,” kata ekonom Bahana Securities, Agra Samudro di Jakarta, Selasa (12/11).

Arga menambahkan, langkah BI menaikkan BI rate diharapkan bisa membantu memperbaiki neraca berjalan melalui pelemahan impor, akibat melambatnya pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Karena itu, kata Arga, Bahana Securities memproyeksikan, dampak kebijakan moneter itu akan membuat pertumbuhan PDB 2014 turun mencapai 5,5%. Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi seiring dengan perlambatan investasi yang bisa menekan impor di 2014. Read the rest of this entry