Monthly Archives: December 2013

Masalah Pokok Bursa Saham adalah UU Minerba

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, jika UU Minerba No 4 2009 tersebut dipaksa diterapkan, baru sekitar 30-40% yang siap dengan smelternya sehingga akan memicu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Karena itu, bahkan ditengarai tidak menutup kemungkinan terjadinya kerusuhan massal pula.

Akibatnya, ekspor pun akan menurun yang akan diiringi dengan peluang anjloknya nilai tukar rupiah yang juga berimbas negatif pada IHSG. Namun, kata dia, untuk investasi jangka panjang, tidak masalah belanja saham secara bertahap sekarang terutama untuk saham-saham non-komoditas karena sudah berada di bawah valuasi normalnya. “Untuk trading jangka pendek, tetap fokus pada saham-saham di sektor komoditas,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (20/12/2013), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36,42 poin (0,86%) ke posisi 4.195,556. Intraday terendah 4.180,812 dan tertinggi 4.230,606.

Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net sell. Berikut ini wawancara lengkapnya: Read the rest of this entry

Advertisements

Sinyal Kehancuran Ekonomi Rusia 1998, Terlihat di China

Dorongan untuk lebih membuka perekonomian China dengan mendorong perusahaan untuk go public, disambut baik oleh banyak pihak termasuk oleh Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley and Jefferies Geroup LLC, yang bulan lalu memprediksikan “kenaikan secara masif” harga saham China dalam beberapa tahun.

Namun ahli strategi ekuitas Deutsche Bank AG, John-Paul Smith tidak memperlihatkan antusiasme yang sama. Dia justru mengatakan, mendeteksi adanya sinyal kerontokan sistem keuangan yang membuatnya memprediksi kehancuran pasar saham Rusia pada 1998 sebulan sebelum terjadi.

Smith mengatakan, ekspansi China terutama didanai dengan gunungan utang korporasi berisiko tinggi yang perlu digantikan dengan langkah-langkah sejenis pasar bebas dan pemangkasan anggaran. Kondisi serupa juga terjadi pada pertumbuhan Rusia menjelang mengalami gagal bayar dan rontoknya indeks harga saham Micex sebesar 44 persen.
Read the rest of this entry

Mereka Yang Berkibar Saat IHSG Rontok

Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir pekan, Jumat (6/12) terperosok ke zona merah. Indeks acuan Indonesia itu turun 36.11 poin atau melemah 0,86%. Sembilan sektor berkubang ke zona merah, hanya satu sektor yang ada di zona hijau, yakni sektor perkebunan.

Sampai penutupan perdagangan, sektor perkebunan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat poin positif dengan kenaikan 1,71%. Kenaikan saham-saham yang ada di sektor perkebunan memperpanjang reli yang sudah tertoreh sejak November.

Dalam riset KONTAN, sektor perkebunan selama November telah menguat 14,60%. Penguatan saham sektor perkebunan terjadi saat posisi IHSG terperosok 7,31% di bulan yang sama.

Penguatan saham perkebunan disumbang oleh kenaikan saham-saham emiten kelapa sawit, diantaranya; PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) yang mencatat kenaikan 14,28% selama November menjadi Rp 1.840. Kemudian, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat 13,52% selama November menjadi Rp 22.250. Read the rest of this entry

Harga Logam Berlompatan Setelah RI Pastikan Larang Ekspor Mineral Mentah

Harga logam kembali berlompatan di bursa logam dunia setelah pemerintah Indonesia memastikan pelarangan ekspor mineral mentah pada Januari mendatang. Harga nikel  dan alumunium mencapai titik tertinggi selama lebih dri lima pekan.

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Rozik B. Soetjipto menyatakan, produksi tembaga dari tambang Freeport Indonesia kemungkinan akan melorot 30 hingga 40 persen dari kapasitas produksi maksimalnya. Freeport adalah penghasil tembaga terbesar kedua di dunia, dan Indonesia merupakan produsen hasil tambang nikel terbesar serta pengekspor timah terbanyak di diunia.

“Rupanya pelarangan ekspor itu semakin serius saja, untuk sejumlah besar hasil tambang logam – nikel, bauksit, dan bahkan mungkin tembaga. Pasar akan merasakan bahwa tembaga tak akan bergerak turun lagi,” kata Stephen Briggs, analis BNP Paribas SA, London seperti dikutip bloomberg.com.
Read the rest of this entry

Neraca Perdagangan Surplus US$ 42,4 Juta

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan pada bulan Oktober mengalami surplus sebesar US$ 42,4 juta.

Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, suprlus tersebut terjadi karena ekspor lebih tinggi dibandingkan impor dengan nilai ekspor US$ 15,72 miliar dan impor US$ 15,67 miliar. “Secara bulanan, ini surplus ketiga tahun 2013 setelah surplus di Maret dan Agustus,” ujar Suryamin di Jakarta, Senin (2/12).

Menurut Suryamin, untuk volume perdagangan pada Oktober tercatat surplus sebesar 44,79 juta ton. Surplus tersebut terbentuk atas ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor yakni masing-masing sebesar 56,88 juta ton dan 12,09 juta ton.
Read the rest of this entry