Sinyal Kehancuran Ekonomi Rusia 1998, Terlihat di China

Dorongan untuk lebih membuka perekonomian China dengan mendorong perusahaan untuk go public, disambut baik oleh banyak pihak termasuk oleh Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley and Jefferies Geroup LLC, yang bulan lalu memprediksikan “kenaikan secara masif” harga saham China dalam beberapa tahun.

Namun ahli strategi ekuitas Deutsche Bank AG, John-Paul Smith tidak memperlihatkan antusiasme yang sama. Dia justru mengatakan, mendeteksi adanya sinyal kerontokan sistem keuangan yang membuatnya memprediksi kehancuran pasar saham Rusia pada 1998 sebulan sebelum terjadi.

Smith mengatakan, ekspansi China terutama didanai dengan gunungan utang korporasi berisiko tinggi yang perlu digantikan dengan langkah-langkah sejenis pasar bebas dan pemangkasan anggaran. Kondisi serupa juga terjadi pada pertumbuhan Rusia menjelang mengalami gagal bayar dan rontoknya indeks harga saham Micex sebesar 44 persen.

“Ada potensi jebakan utang pada perusahaan industri yang dapat memicu krisis keuangan yang luas, secepatnya pada awal tahun depan,” ujar Smith, dalam wawancara dengan Bloomberg, pekan lalu. Dalam laporannya ia memperkirakan pelambatan di China akan menyebabkan 10 persen penurunan pada saham emerging-market pada tahun 2014. “Jika saya salah mengenai China, saya akan salah memprediksi semuanya,” imbuhnya, seperti dikutip bloomberg.com (23/12).

Untuk tahun 2013, perkiraan Smith yang menyebutkan penurunan sedikitnya 10 persen pada saham-saham negara berkembang, terbukti benar. Indeks MSCI Emerging Market tergelincir 6,1 persen. Indeks Shanghai Composite, tolok ukur perekonomian negara dengan besaran ekonomi kedua terbesar di dunia itu , melorot 7,7 persen mengarah pada penurunan tahunan ke tiga kalinya dalam empat tahun.

Morgan Stanley mengatakan, penerapan pasar bebas akan mendongkrak saham-saham konsumsi, teknologi, dan perawatan kesehatan. Sedangkan Jeffries Group mengatakanperusahaan-perusahaan dalam industri seperti otomotif dan asuransi akan menjadi yang terbaik dalam kondisi pasar yang tengah mengalami reli.

Sementara Goldman Sachs meningkatkan sebagian peringkat ekuitas China, lantaran adanya “komitmen untuk melakukan reformasi, yang kelihatannya cukup jelas.

Namun menurut Smith, ekonomi China berisiko tumbuh kurang dari 5 persen per tahun. Produk domestik bruto sudah tumbuh kurang dari 8 persen selama enam kuartal terakhir, turun dari 14 persen pada 2007. “Buktinya akan terlihat pada implementasi,” kata Smith, ahli strategi emerging market global di Frankfurt.

“Akan menjadi sangat menarik untuk diperhatikan jika mereka bebar-benar turun seperti ‘jalan berat ekonomi liberal’ yang ditempuh Rusia pada 1999 hingga musim gugur 2003. Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa mereka siap” untuk itu.

Sumber : ipotnews.com

Posted on December 24, 2013, in Ekonomi Dan Investasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: