Berinvestasi di Tengah Gejolak

Investor yang baru saja mengenal dunia investasi di pasar modal, tentu agak  kaget ketika melihat nilai investasinya di pasar modal menurun, yang ditandai dengan turunnya indeks saham selama sebulan terakhir.  Penurunan indeks saham juga mempengaruhi harga unit reksa dana saham yang menurun beberapa waktu terakhir.

Beberapa pertanyaan kerap muncul. Kalau mau memindahkan dana investasi dari saham atau reksa dana saham, lantas ke mana harus mengalihkannya? Apakah sebaiknya dipertahankan saja? Yang perlu diingat, pasar modal memang selalu berfluktuasi. Kadang turun, kadang naik. Bagi investor yang sudah terbiasa dengan produk pasar modal, turunnya pasar adalah saat yang tepat untuk mengoleksi atau membeli instrumen investasi. Karena jika fundamental pasar bagus, suatu saat pasar akan kembali pulih bahkan bisa lebih baik.

Sedangkan bagi investor yang masih belum mengenal instrumen pasar modal, investasi secara berkala lebih disarankan. Tidak peduli pasar sedang bearish (turun) maupun bullish (naik). Investasi rutin tiap bulan jangan ditinggalkan.  Investasi reguler harus terus dilakukan.

Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan faktor risiko, jangan selalu melihat return. Kalau mau aman dalam jangka pendek, reksa dana pasar uang dan obligasi ritel bisa jadi pilihan. Jadi alokasi dana rutin yang biasanya dialokasikan ke reksa dana saham, misalnya, bisa dibelikan reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap hingga kondisi pasar saham mulai membaik.

Investasi saham memang tetap memberikan peluang hasil yang paling tinggi dalam jangka panjang. Asalkan cermati dengan baik performa keuangan perusahaan dan fundamentalnya. Gejolak pasar modal saat ini bukan karena performa perusahaan publik yang buruk namun lebih pada akibat pengaruh ekonomi global, dan pengaruh inflasi di dalam negeri akibat penyesuaian kenaikan BBM dan menjelang hari Raya.  

Tips Berinvestasi Saat Pasar Bergejolak :

  1. Cermati tren pasar global. Pastikan investor mengetahui keterkaitan antara pasar dalam negeri dan dunia.
  2. Fokus pada tujuan investasi. Harus dibedakan investasi jangka panjang dan jangka pendek.
  3. Jika investor telah menerapkan pola investasi rutin secara berkala, jangan berhenti. Tetap terapkan investasi secara reguler.
  4. Diversifikasi portofolio. Misalnya dengan menanamkan uang tidak hanya pada satu saham saja, tapi menyebarnya dalam berbagai sektor. Karena bisa jadi salah satu sektor lesu, sektor lain bisa mengkompensasikannya.
  5. Investigasi sebelum berinvestasi. Lihat track record pengelola dana atau pelajari laporan keuangan perusahaan tempat Anda menaruh dana.
  6. Coba untuk berinvestasi di instrumen yang tidak mengharuskan investor membuat keputusan setiap saat. Contoh di pasar uang.

Sumber : okezone.com

Posted on January 8, 2014, in Ekonomi Dan Investasi and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: