Monthly Archives: February 2014

Inilah Target Harga Saham Perkebunan

Secara fundamental, saham-saham perkebunan dinilai prospektif seiring pemulihan ekonomi global. Hanya saja, untuk saat ini resistensinya sangat kuat. Seperti apa?

Pengamat pasar modal Sem Susilo mengatakan, dari sentimen fundamental, saham-saham perkebunan tetap masih prospektif. Sebab, pemulihan ekonomi global memacu kebutuhan komoditas yang angkanya semakin besar.

Hanya saja, kata Sem, untuk saat ini, resistensinya cukup kuat karena harga sahamnya sudah cukup tinggi. “Karena itu, saham-saham perkebunan kemungkinan akan mengalami proses konsolidasi terlebih dahulu,” katanya kepada INILAHCOM. Berikut ini penjelasan rinci dari Sem Susilo: Read the rest of this entry

Advertisements

Pagi Ini, Rupiah Menguat 101 Poin ke Rp11.800

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan penguatannya. Penguatan Rupiah terjadi setelah dolar AS melemah akibat serangkaian data ekonominya yang mengecewakan.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Jumat (14/2/2014), pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat hingga 101 poin atau 0,84 persen ke Rp11.879 per USD. Pagi ini, Rupiah bergerak dalam kisaran Rp11.840-Rp11.960 per USD.

Melemahnya dolar AS Terjadi lantaran hasil imbal hasil obligasi AS (US Treasury) jatuh. Anehnya, Wall Street malah ditutup lebih tinggi karena beberapa investor mampu melawan mengecewakan. Read the rest of this entry

Surplus Neraca Dagang Belum Kuat Angkat Rupiah

Neraca perdagangan bulan Desember 2013 memang mengalami surplus cukup tinggi, sebesar US$ 1,52 miliar. Namun hal ini belum cukup kuat untuk menopang pergefakan nilai tukar rupiah.

Ketika Badan Pusat Statiskik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan surplus, hari Senin (3/2), pada hari yang sama respons pasar malah negatif. Hal itu ditunjukan dari melemahnya nilai tukar rupiah pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) menjadi Rp 12.251 per Dollar AS.

Rupiah malah lebih lemah dibandingkan akhir pekan lalu yang berada di level Rp 12.226 per Dollar AS. Dengan kondisi ini terlihat kalau pasar masih belum cukup puas dengan surplus neraca perdagangan yang ditorehkan pada bulan Desember 2013.
Read the rest of this entry