Waspada, Harga Komoditas Bakal Terkoreksi Tajam

Sejumlah analis memperingatkan, terungkapnya praktek penggunaan komoditas sebagai jaminan kesepakatan keuangan di China bisa mengakibatkan kerugian besar pada sejumlah besar aset.

“Keuntungan dari skema [pendanaan dengan komoditas] semakin terkikis, dan otoritas sudah mengambil langkah untuk memberangus bentuk-bentuk bank gelap,” kata Caroline Bain, ekonomi komoditas senior di Capital Economics, dalam catatannya kepada klien.

Bentuk kesepakatan pendanaan komoditas di perusahaan-perusahaan China diperoleh dengan menggunakan letter of credit, yang digunakan untuk mengimpor komoditas tertentu – seperti tembaga. Komoditas tersebut kemudian dijual ke pasar lokal atau digunakan sebagai jaminan dan uangnya diinvestasikan ke aset-aset dengan imbal hasil lebih tinggi sebelum digunakan untuk melunasi pinjaman awalnya (letter of credit).

Praktek tersebut sebetulnya bukan hal baru, namun akhir-akhir ini menjadi perhatian setelah munculnya laporan bahwa kesepakatan seperti itu sudah mencapai sekitar sepertiga pertumbuhan pasokan uang China pada 2013. Pendanaan komoditas mendorong arus masuk uang panas yang bisa berdampak negatif terhadap perekonomian, menciptakan ledakan kredit dan mendorong inflasi. Sementara itu arus keluar dana pada akhir kesepakatan bisa menyebabkan deflasi tajam pada harga aset.

Kesepakatan tersebut dapat menciptakan cadangan tak resmi komoditas dalam jumlah besar di China sehingga secara artifisial membuat pasar terlihat ketat. Misalnya, menurut Capital Economics, stok tembaga tak resmi di China bisa mencapai 700.000 ton.

“Sebuah kesepakatan yang tidak terselesaikan dengan semestinya bisa menyebabkan penurunan tajam harga komoditas karena stok sudah memenuhi pasar,” kata Bain, seperti dikutip CNBC, (5/6).

Otoritas China mulai mengambil langkah pada Mei lalu, dengan keluarnya peringatan dari Komisi Regulasi Perbankan China kepada perbankan untuk memperketat kontrol terhadap letter of credit  untuk impor bijih besi. “Tampaknya hanya masalah waktu sebelum otoritas menyasar kesepakatan pendanaan tembaga, yang akan berakibat pada pelepasan stok tembaga,” Bain menambahkan.

Sejumlah ahli komoditas juga berpendapat bahwa proyeksi komoditas sangat suram karena semakin banyak kasus pendanaan yang terbongkar, apalagi permintaan China terhadap tembaga dunia mencapai 40 persen lebih.

“Boleh saja ada pasar lindung nilai komoditas yang bagus, tapi yang kita lihat kasus ini melibatkan sejumlah pasar utama impor, seperti bijih besi, maka menjadi memprihatinkan. Karena jika terjadi penyusutan tajam pada pinjaman komoditas maka komoditas tersebut cenderung dilepas,” kata Jonathan Barratt, chief investment officer Avers Alliance Securities, kepada CNBC.

Harga bijih besi pada Mei lalu turun 14 persen, atau turun 32 persen dibanding awal tahun lalu. Sementara itu harga tembaga pada Rabu lalu mencatatkan penurunan paling dalam selama tujuh pekan.

“Secara umum saya merasa bahwa kita akan melalui tahapan pelepasan stok. Persediaan di pelabuhan masih mencatat angka yang tinggi, produksi bijih besi yang keluar dari Australia juga masih mencatatkan rekor yang tinggi, sehingga saya pikir ini hanya akan berjalan searah. Jika kita tidak yakin pada perekonomian, saya cenderung berpikir setiap terjadi reli komoditas akan terjual dan penurunan stok akan berlanjut,” imbuhnya.

Sumber : ipotnews.com

http://cara-buat-website.com

Posted on June 10, 2014, in Ekonomi Dan Investasi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: