Monthly Archives: July 2014

Naik 15,4%, Laba Bersih BBNI Semester I Capai Rp4,94 Triliun

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat kenaikan laba bersih pada semester I  15,4 persen menjadi Rp4,94 triliun dari periode sama 2013 Rp4,28 triliun.

Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan bunga bersih sebesar 20,9 persen dari Rp8,9 triliun menjadi Rp10,8 triliun. “Meski perbankan nasional dihadapi pada permasalahan suku bunga yang tinggi, persaingan likuiditas yang ketat, dan pengetatan penyaluran kredit terutama kredit konsumer namun perseroan tetap membukukan kinerja keuangan yang positif di semester I 2014 ini,” kata Direktur Utama BNI [BBNI 5,000 25 (+0,5%)], Gatot Suwondo, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (24/7).

Sementara untuk pendapatan non bunga sebesar 5,4 persen dari Rp4,56 triliun menjadi Rp4,8 triliun pada semester I 2014. Sedangkan sisi pendapatan non bunga mengalami kenaikan recurring income sebesar 21,3 persen dari Rp2,59 triliun menjadi Rp3,14 triliun.

“Kedua faktor tersebut mampu mencatatkan pendapatan operasional sebesar Rp15,56 triliun di semester I 2014 atau lebih tinggi 15,6 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp13,45 triliun,” pungkasnya. Read the rest of this entry

Advertisements

AALI Catat Pendapatan Mencapai Rp5,89 Triliun

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) [26,250 100 (+0,4%)] mengumumkan sepanjang enam bulan pertama tahun ini berhasil catat pendapatan dari penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai Rp5,89 triliun, naik 18,04% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp4,99 triliun. Pendapatan CPO didukung meningkatnya harga di tengah menurunnya volume CPO.

Tercatat sejak Januari-Juni 2014, volume penjualan CPO AALI [26,250 100 (+0,4%)] menurun 10,3% menjadi 674.730 ton dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 752.202 ton. Peningkatan harga jual CPO ini merupakan dampak dari menguatnya harga CPO dunia pada tiga bulan pertama tahun 2014.

Laporan perseroan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/7) diebutkan, harga penjualan CPO AALI [26,250 100 (+0,4%)] hingga Juni melonjak 31,5% menjadi Rp8.728 per kilogram (kg) dibanding semester I tahun lalu Rp6.638 per kg.  Pada periode yang sama, volume penjualan komoditas kebun perseroan lainnya, yakni kernel mengalami kenaikan 8,1% menjadi 174.589 ton dibanding periode yang sama tahun lalu 161.555 ton. Adapun harga komoditas ini melonjak 98,8% menjadi Rp5.792 per kg dari Rp2.914 per kg.

Pendapatan perseroan dari penjualan kernel hingga Juni 2014 sebesar Rp1,01 triliun. Angka itu tumbuh signifikan 114,54% dibanding periode yang sama 2013 senilai Rp470,77 miliar. Jika pendapatan CPO dan kernel perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini digabung menjadi Rp6,9 triliun. Angka ini naik 26,37% dibanding penjualan CPO dan kernel perseroan pada periode yang sama 2013 senilai Rp5,45 triliun. Read the rest of this entry

Rupiah Berakhir Menguat di Rp11.572/USD

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan. Menjelang pengumuman hasil pemilihan umum presiden (Pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rupiah nampak mendapatkan tenaga untuk menguat.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Senin (21/7/2014), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 43 poin atau 0,37 persen ke Rp11.572 per USD. Hari ini, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp11.556-Rp11.596 per USD.

Sementara yahoofinance, mencatat Rupiah berada di kurs tengah Rp11.621 per USD. Adapun pergerakan harian Rupiah, berada pada kisaran Rp11.360-Rp11.564 per USD. Sedangkan Bank Indonesia (BI), lewat kurs spot Jisdor, mencatat Rupiah menguat ke Rp11.577 per USD, dengan pergerakan harian di Rp11.519-Rp11.635 per USD. Read the rest of this entry

Analis: Laba TLKM tertekan nilai tukar

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) [2,680 35 (+1,3%)] mencatat kenaikan pendapatan sekitar 8% sampai 9% ke posisi Rp 43 triliun di semester pertama ini. Sampai akhir tahun, TLKM [2,680 35 (+1,3%)] menargetkan pendapatannya dapat bertumbuh 10% dengan kenaikan laba 8% sampai 10%.

Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menilai, laba TLKM [2,680 35 (+1,3%)] akan terimbas depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pasalnya, emiten telekomunikasi memiliki pembelanjaan seperti pembelian baterai di Base Tranceiver Station (BTS) dalam mata uang dollar. Selain itu, adanya utang dollar pun bisa menekan laporan keuangan.

“Belum terlihat rupiah akan terapresiasi lebih jauh. Laba (TLKM) [2,680 35 (+1,3%)] moderat akan single digit,” ucap William.

Ia pun melihat bahwa tahun ini TLKM [2,680 35 (+1,3%)] tak banyak melakukan ekspansi dibanding emiten telekomunikasi lainnya. Satu hal yang baru terlihat cuma masuk ke PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) [795 -5 (-0,6%)] melalui anak usahanya PT Pins Indonesia.

Pekan ini, saham TLKM [2,680 35 (+1,3%)] tutup di harga Rp 2.680, naik 1,32% dibanding hari sebelumnya. William merekomendasikan hold dengan target harga Rp 2.850.

 

Sumber : ipotnews.com

http://cara-buat-website.com/konsultan-bisnis