Monthly Archives: September 2014

Harga Emas Jatuh ke Titik Terendah 2014, Waktu yang Tepat Investasi?

Harga logam mulia milik PT Antam (Persero) menyentuh level terendah selama 2014 di angka Rp 483.000/gram untuk pecahan 1 Kg pada Jumat (26/9/2014). Rendahnya harga emas dalam negeri dipengaruhi turunnya harga emas dunia yang mencapai harga US$ 1.200 per troy ons.

Manajer Pemasaran PT Logam Mulia Bambang Widjanarko mengatakan, rendahnya harga emas saat ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mulai menginvestasikan dananya ke instrumen emas.

Menurutnya, emas merupakan salah satu bentuk investasi jangka panjang. Membeli emas saat harga rendah, lalu disimpan dalam waktu lama untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. Read the rest of this entry

Advertisements

Daftar Swift Code Dan Kode Bank Transfer di Indonesia

Berikut  Swift Code Bank yang ada di Indonesia

Nama Bank Kode Swift Bank
ABN AMRO Bank ABNAIDJA
Hagabank HAGAIDJA
Bank Indonesia INDOIDJA
Bank Central Asia (BCA) CENAIDJA
Bank Rakyat Indonesia (BRI) BRINIDJA
Bank Mandiri (not Bank Syariah Mandiri) BEIIIDJA
Bank Syariah Mandiri (not Bank Mandiri) BSMDIDJA
Bank Negara Indonesia (BNI) BNINIDJA
Bank Bumiputera Indonesia BUMIIDJA
Bank Artha Graha ARTGIDJA
Bank Bumi Arta Indonesia BBAIIDJA
Bank Buana Indonesia BBIJIDJA
Bank Danamon BDINIDJA
Bank Bukopin BBUKIDJA
Bank Internasional Indonesia (BII) IBBKIDJA
Lippobank LIPBIDJA
Bank NISP NISPIDJA
Bank Tabungan Negara (BTN) BTANIDJA
Bangkok Bank BKKBIDJA
Bank Niaga BNIAIDJA
Bank BNP Paribas Indonesia BNPAIDJA
Bank Resona Perdania BPIAIDJA
Deutsche Bank AG DEUTIDJA
Bank Mizuho Indonesia MHCCIDJA
Hongkong and Shanghai Banking (HSBC) HSBCIDJA
Pan Indonesia Bank PINBIDJA
Bank Rabobank International Indonesia RABOIDJA
Bank UFJ Indonesia SAINIDJA
Bank Swadesi SWBAIDJA
Bank UOB Indonesia UOBBIDJA
Bank Permata BBBAIDJA
Bank Maybank Indocorp MBBEIDJA
Bank Chinatrust Indonesia CTCBIDJA
Woori Bank Indonesia HVBKIDJA
Bank Sumitomo Mitsui Indonesia SUNIIDJA
Bank Finconesia FINBIDJA
Bank OCBC Indonesia OCBCIDJA
Bank Kesawan AWANIDJA
Bank Commonwealth BICNIDJA
Bank Ekonomi Raharja EKONIDJA
Bank DBS Indonesia DBSBIDJA
Bank CIC International CICTIDJA
Bank Ekspor Indonesia BEXIIDJA
Bank Mega MEGAIDJA
Bank of China, Jakarta Branch BKCHIDJA

 

Berikut daftar kode bank transfer di Indonesia:
 
Nama Bank Kode Bank
Bank BNI 009
Bank Mandiri 008
Bank Syariah Mandiri 451
Bank Central Asia (BCA) 014
Bank BRI 002
Bank Danamon 011
Bank Permata 013
Bank Niaga 022
LippoBank 026
Bank NISP 028
Bank BII 016
Bank Bukopin 441
Bank Bumiputera 485
Bank Mega 426
Bank Panin 019
Bank Muamalat 147
Bank Syariah Mandiri 451
Bank Syariah Mega Indonesia 506
Bank UOB Buana 023
Bank UOB Indonesia 058
Bank Commonwealth 950
Bank Mayapada 097
Standard Chartered Bank 050
Bank DKI 111
Bank Jabar 110
Bank Riau 119
Bank Jatim 114
Bank Nagari 118
Bank Papua 132
Bank NTT 130
Bank BPD NTB 128
Bank Sulsel 126
Bank Sulut 127
Bank BPD Jambi 115
Bank Lampung 121
Bank BPD DIY 112
Bank Sumut 117
Bank Maluku 131
Bank BPD Bali 129
Bank BPD Kaltim 124
Bank Kalsel 122
Bank Sultra 135
Bank Bengkulu 133
Bank BPD Aceh 116
Bank Nusantara Parahyangan 145
Bank Mestika 151
Bank IFI 093
Bank Ina Perdana 513
Bank Agroniaga 494
Bank Saudara 212
Bank Eksekutif 558
Bank Arta Niaga Kencana 020
Bank Ganesha 161
Bank Mayora 553
Bank Artos Indonesia 542
BPR KS 558
Bank BPD Kalteng 125
Bank Swadesi 146
Bank Jateng 113
ABN AMRO Bank 052
American Express Bank 030
Bank of China Limited 069
BPD Aceh 116
BPD Bali 129
BPD Bengkulu 133
BPD Jambi 115
BPD Jawa Barat dan Banten 110
BPD Jawa Tengah 113
BPD Jawa Timur 114
BPD Kalimantan Barat 123
BPD Kalimantan Selatan 122
BPD Kalimantan Tengah 125
BPD Kalimantan Timur 124
BPD Lampung 121
BPD Maluku 131
BPD Nusa Tenggara Barat 128
BPD Nusa Tenggara Timur 130
BPD Papua (d/h BPD Irian Jaya) 132
BPD Riau 119
BPD Sulawesi Selatan 126
BPD Sulawaesi Tengah 134
BPD Sulawesi Tenggara 135
BPD Sulawesi Utara 127
BPD Sumatera Barat (Bank Nagari) 118
BPD Sumatera Selatan 120
BPD Sumatera Utara 117
BPD Yogyakarta 112
Citibank 031
Deuthche Bank 067
JP. Morgan Chase Bank 032
Anglomas Internasional Bank 531
ANZ Panin Bank 061
Bank Agroniaga 494
Bank Akita 525
Bank Alfindo 503
Bank Antardaerah 088
Bank Arta Niaga Kencana 020
Bank Artha Graha Internasional 037
Bank Artos Indonesia 542
Bank Bintang Manunggal 484
Bank Bisnis Internasional 459
Bank BNP Paribas Indonesia 057
Bank Bukopin 441
Bank Bumi Arta 076
Bank Bumiputera Indonesia 485
Bank Capital Indonesia 054
Bank China Trust Indonesia 949
Bank Credit Agricole Indosuez 039
Bank Danamon Indonesia 011
Bank Dipo International 523
Bank DKI 111
Bank Ekspor Indonesia 003
Bank Haga 089
Bank Lippo 026
Bank Maspion Indonesia 157
Bank Mayapada International 097
Bank Maybank Indocorp 947
Bank Syariah Mega Indonesia 506
Bank Tabungan Negara (BTN) 200
ING Indonesia Bank 034
Bank Victioria International 566
Bangkok Bank 040

Terus Tertekan, Emas Bahkan Bisa Jatuh di Bawah USD1.200 Per Ounce

Penguatan dolar yang dipicu prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) terus menekan harga emas, bahkan kini logam mulia itu disebut-sebut masuk ke uji harga di bawah USD1.200 per ounce.

Seperti dilansir Reuters, Senin (22/9), pelemahan harga emas, juga diikuti penurunan harga perak dan logam mulia lain seperti platinum. Harga spot emas di Singapura hari ini tenggelam di angka USD1.208,36 per ounce, perak turun ke USD17,30 per ounce, platinum ke tingkat terendah 9 bulan yakni USD1.322,30 per ounce, juga palladium anjok ke titik USD100 sejak menyentuh harga tertinggi dalam 13,5 tahun pada 1 September.

“Sulit mendapatkan gairah pasar untuk kelompok logam mulia pada situasi saat ini, harga akan terus tertekan,” ujar analis INTL FCStone, Edward Meir, dalam catatannya kepada investor.

Menurut dia, emas rentan terhadap sisi negatif, “Support terdekat berada di USD1.200, juga level psikologis, untuk selanjutnya ke USD1.180.”

Penurunan harga emas belakangan ini telah menghapus hampir seluruh kenaikan yang didapat sepanjang tahun 2014 ini, sehingga hanya tersisa kenaikan 0,7 persen. Padahal tahun 2013, emas kehilangan 28 persen nilai. Read the rest of this entry

Pemulihan Ekonomi Eropa Telah Kehilangan Momentum: Mario Draghi

Kepala Bank Sentral Eropa (ECB), Mario Draghi, membela program stimulus baru yang ia luncurkan, dengan mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi Zona Euro “kehilangan momentum”. Selain menawarkan pinjaman murah dan jangka panjang, ECB juga akan membeli saham berbasis aset mulai Oktober mendatang.

Di depan parlemen Eropa, Senin (22/9), Draghi menyatakan bahwa belum ada tanda-tanda terhentinya penurunan indikator ekonomi pada Agustus. Ke-18 negara yang menggunakan euro belum menunjukkan pertumbuhan sama sekali pada kuartal kedua tahun ini, yang ia nilai sebagai peringatan setelah hanya empat kuartal mengalami pertumbuhan yang lemah.

“Pemulihan ekonomi di kawasan euro kehilangan momentum,” ujar Draghi dalam testimoni rutin di depan Komite Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa. Menurut dia, ekonomi berisiko terus mengalami penurunan.

Seperti diketahui, pemulihan perekonomian Zona Euro sangat lambat setelah dilanda krisis utang pada 2009 yang membawa sejumlah anggotanya menjalani program bailout dari Eropa dan IMF. Pengeluaran pemerintah yang terus dipangkas makin memperparah pemulihan dan pengangguran tinggi.

Draghi menilai, pemulihan juga terancam oleh ketegangan geopolitik, terutama konflik Rusia dan Ukraina, serta kegagalan pemerintah di kawasan mereformasi dan mengefisienkan ekonomi.

Karenanya, Draghi membela program stimulus – dengan menawarkan pinjaman murah dan jangka panjang ke perbankan. Namun, perbankan hanya menyerap 82,6 miliar euro pada penawaran pertama 18 September, kurang dari perkiraan banyak analis.

ECB juga menyiapkan program stimulus lain, dengan rencana pembelian obligasi berbasis pinjaman bank kepada perusahaan dan rumah tangga, dengan tujuan mengalirkan kredit.

Pihak bank sentral sebelumnya mengatakan bahwa pembelian obligasi – dikenal dengan saham berbasis aset – akan menstimulus pasar untuk membeli obligasi sejenis. Pasalnya, pasar untuk obligasi itu turun drastis setelah terjadi masalah rumit dan obligasi tersebut telah memicu krisis di Amerika Serikat.

Draghi menambahkan, pembelian tersebut akan dimulai Oktober. Namun ECB akan membatasi risiko dengan hanya membeli obligasi yang sederhana dn berperingkas bagus. Pembelian obligasi berperingkat bawah hanya jika pemerintah di negara anggota euro menjamin pembayarannya. Read the rest of this entry

`Badai Besar` Akan Menghajar China Pada 2016

Data positif China akhir-akhir ini sejatinya mampu mengempiskan keraguan akan kelanjutan pertumbuhan ekonomi negara dengan perekonomian keuda terbesar di  dunia itu. Namun PNC Financial Services Group malah mengkhawatirkan kemungkinan munculnya “badai besar”di China dalam dua tahun ke depan.

“Sejumlah masalah lama dalam mesin pertumbuhan China kemungkinan akan muncul kembali pada 2016,” ungkap Stuart Hoffman, ekonom kepala PNC Financial Services Group dalam laporannya pekan lalu. Dia memaparkan sejumlah tantangan, termasuk pelemahan pasar kredit, perlambatan reinvestasi laba korporasi, dan koreksi di semua pasar perumahan.

Laporan Hoffman menyebutkan, rintangan-rintangan tersebut bisa memperlambat pertumbuhan PDB riil China menjadi sekitar 6 persen pada 2016, paling lambat sejak 1990.

Pada kuartal kedua tahun ini, ekonomi China tumbuh 7,5 persen, melebihi ekspektasi dan lebih tinggi dari 7,4 persen pada kuartal pertama lalu, saat langkah-langkah stimulus terarah yang ditempuh Beijing mulai memberikan hasil.

Menurut laporan Hoffman, “badai besar” itu akan terjadi bersamaan dengan perlambatan dramatis aliran kredit investasi. Laporan itu menyebutkan, perlambatan terutama berasal dari pemberi pinjaman non tradisional, seperti trust company, serta pemburukan kualitas kredit korporasi.

“Bila kredit trust company sudah benar-benar mengering, para peminjam uang di China harus berjuang untuk memperpanjang masa perlunasan utangnya. Atau terpaksa default sehingga memberi masalah baru pada mesin intermediasi keuangan,” papar Hoffman, seperti dikutip CNBC, (25/7).

PNC mengatakan, pengurangan kredit pada gilirannya akan memaksa terjadinya perlambatan yang ekstrim pada belanja modal. Padahal belanja di sektor manufaktur padat modal sudah melambat lantaran kenaikan upah buruh dan apresiasi yuan.

“Perusahaan swasta China yang mempunyai dana menganggur tidak dapat memanfaatkan peluang berinvestasi di sektor jasa yang berorientasi domestik karena batasan peraturan yang melindungi BUMN dari kompetisi swasta,” ungkap PNC.

PNC menambahkan, setiap koreksi besar di pasar perumahan China, sebagai pilar ekonomi yang mempengaruhi 40 sektor lainnya, bisa memperberat masalah. Sejauh ini, sejumlah sinyal pelemahan sudah tampak di sejumlah sektor. Pada Juni lalu, rata-rata harga rumah baru di 70 kota utama China melorot 0,5 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi tersebut mempertegas tren penurunan yang tampak  pada Mei lalu sebesar 0,2 persen.

“Sektor perumahan dan konstruksi China semakin terpuruk karena kejatuhan harga akan mengurangi minat membeli dan membangun rumah,” kata Hoffman. “Koreaksi sektor perumahan cenderung akan berlanjut dan mendorong perlambatan investasi bisnis secara keseluruhan.”

Tentu saja tak semua orang sependapat dengan kemungkinan melesunya perekonomian China. Ekonom China di HSBC, John Zhu menyatakan, tidak melihat kemungkinan deselerasi pertumbbuhan China secara dramatis menjadi 6 persen.

“Banyak analisis ekonomi yang mencoba mengekstrapolasi analisis di level mikro ke level makro. Padahal banyak sekali variabel lain dan kebijakan yang akan mempengaruhi,” kata Zhu. Ia memperkirakan pertumbuhan China akan berada di atas 7 persen hingga dua tahun ke depan.

Menurutnya, investasi infrastruktur oleh pemerintah dan swasta cenderung akan dapat menutupi kekurangan akibat perlambatan di konstruksi perumahan. “Ada banyak infrastruktur berguna yang masih diperlukan China, mulai dari jalur kereta hingga fasilitas kesehatan penduduk usia lanjut,” ujarnya.

Bila pemulihan di AS dan Eropa mendapatkan traksi, ujarnya, permintaan akan ekspor China akan melanjutkan penguatan. Selama beberapa bulan terakhir, ekspor China mulai meningkat dari 7 persen pada Mei lalu, menjadi 7,2 persen pada Juni. Read the rest of this entry

Waspadai Saham-saham Ini Jika Harga BBM Subsidi Jadi Naik

Inflasi bulan Agustus diperkirakan melanjutkan trend lambat mengingat situasi agak tenang pasca musim liburan sebagaimana pula ekspektasi konsensus inflasi sebesar 0,42% (MoM) dan 4,01% (YoY) versus inflasi Juli 0,93% (MoM) dan 4,53% (YoY).

Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan berlanjut lesu selama Juli sebagaimana ekspektasi defisit yang berlanjut sebesa 406 juta USD versus defisit bulan Juni sebesar 305 juta USD.

Hal ini tampaknya menjadi sesuai dengan estimasi Bank Indonesia yang memperkirakan defisit current account (CA) di kuartal terakhir tetap tinggi sekitar 8 miliar USD di kuartal III/3Q14) versus 2Q sebesar 9 miliar USD dan pada 1Q senilai 4 miliar USD dan sebesar 6 miliar USD pada 4Q.

“Jika hal ini terbukti akurat, ini akan mengantarkan defisit CA sekitar 27 miliar USD di tahun 2014,” demikian menurut PT Indo Premier Securities dalam risetnya, Senin (1/9). Defisit CA 2013 senilai 29 miliar USD. Data CA tersebut hanya akan menjadi kenaikan yang marjinal menjadi 3,2% terhadap GDP di tahun 2014 versus 3,3% di tahun 2013.

Menurut Indo Premier, kini pasar fokus pada implikasi rencana Joko Widodo untuk menaikkan harga BBM subsidi yang diperkirakan pada Nopember mendatang. Presiden terpilih tersebut mengindikasikan alokasi belanja APBN pada pos subsidi BBM kepada pembiayaan program populisnya. Kenaikan BBM subsidi antara Rp 500 – Rp3.000 per liter diterapkan secara bertahap. “Kami perkirakan paling mungkin harga BBM subsidi akan naik Rp1.500 per liter (naik 23%),” tulis Indo Premier.

Pemerintah memperkirakan tiap kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp500 per liter berdampak pada kenaikan CPI inflasi 0,6%. Ini berarti potensi kenaikan inflasi 1,8 ppt di bawah skenario ini yang berpotensi mendongkrak inflasi akhir tahun 7% di tahun 2014 versus tahun 2013 sebesar 8,38% berdasarkan ekspektasi konsensus inflasi pra kenaikan BBM subsidi saat ini sebesar 5,1%. Dengan demikian BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 7,5%. Menurut Indo Premier, kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap keberhasilan neraca fiskal dan neraca eksternal secara berkelanjutan.

Kinerja Emiten
Meskipun kenaikan harga BBM subsidi berdampak positif terhadap makroekonomi Indonesia, pasar akan fokus pada dampak negatif terhadap laba emiten dibanding perbaikan makro ekonomi. Dampak terhadap laba emiten akan tercermin tahun depan.

Diperkirakan dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi pada sebagian besar sektor dan emiten di Indonesia di berbagai tingkatan. Dampak yang terasa pada laba karena kenaikan inflasi/kenaikan harga, biaya/margin karena naiknya biaya transportasi/logistik/energi atau karena faktor keduanya. Transportasi, otomotif, semen, konsumer sebagai berpotensi sensitif terhadap kenaikan harga BBM.

Sementara sektor lainnya seperti banking, komoditas, telekomunikasi, utility (distribusi gas, jalan tol) dan properti/konstruksi akan netral terhadap kenaikan harga BBM dengan asumsi tidak ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di sektor konsumer, emiten dengan harga yang kuat, merek terkenal dan atau karena elastis terhadap demand akan kurang terkena dampak negatif kenaikan harga BBM subsidi. Sedangkan emiten dengan target market low-end seperti ritel low-end dan produsen dengan bahan baku massal mungkin akan terkena dampak negatif dengan adanya kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Indo Premier menyarankan pasar fokus pada dampak potensi kenaikan harga BBM pada saham transportasi seperti Express Transindo [TAXI 1,320 10 (+0,8%)] (rekomendasi Buy), produsen otomotif Astra International [ASII 7,625 50 (+0,7%)] (Buy) dan juga saham-saham semen seperti Semen Indonesia [SMGR 16,250 25 (+0,2%)] (Buy) dan Indocement Tunggal Prakarsa [INTP 24,125 -125 (-0,5%)] (Buy).

Sektor consumer, Indofood CBP [ICBP 10,900 400 (+3,8%)] (Hold), Ramayana [RALS 1,020 25 (+2,5%)] dan Mayora Indah [MYOR 30,875 250 (+0,8%)] relatif paling rentan terhadap rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Read the rest of this entry