Monthly Archives: October 2014

Produksi CPO AALI Q3 Tumbuh 24%

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit sebesar 24% menjadi 1,29 juta ton.

Buletin AALI edisi Oktober 2014, sejalan dengan peningkatan produksi harga rata-rata turut meningkat sekitar 19,3% menjadi Rp8.474 /kg.

“Capaian ini seiring dengan kenaikkan produksi TBS AALI yang sampai dengan bulan September 2014 juga meningkat 13,8% atau menjadi 4,18 juta ton dari 3,67 juta ton tahun lalu,” demikian ulas tim manajemen AALI.

AALI turut mencatat pertumbuhan produksi dan harga penjualan kernel masing-masing 19,6% dan 77,7% atau menjadi 276.261 ton dan Rp5.487 /kg. Read the rest of this entry

Advertisements

Laba Semen Indonesia Q3 Naik Tipis

PT Semen Indonesia tbk (SMGR) mencatat laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas publik pada sembilan bulan pertama tahun ini sektiar Rp4,070 triliun, naik 4,6% dari periode serupa tahun lalu Rp3,890 triliun.

Direktur Utama SMGR Dwi Soetjipto menuturkan, capaian ini didukung oleh peningkatan pendapatan sebesar 11,25% menjadi Rp19,348 triliun dari Rp17,390 triliun. Seiring dengan kenaikan pendapatan, beben pokok pendapatan turut naik 12,36% menjadi Rp10,898 triliun dari Rp9,550 triliun.

Di sisi lain, volume penjualan dalam sembilan bulan pertama tahun ini meningkat tipis sekitar 3,8% menjadi 18,922 juta ton, dibandingkan periode yang sama tahun lalu 18,231 juta ton. Read the rest of this entry

Saham TLKM tergerus dalam, ada apa?

Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) pagi ini (28/10) tampak terkulai. Data RTI menunjukkan, pada pukul 09.43 WIB, saham TLKM merosot 3,39% menjadi Rp 2.710. Bahkan saham perusahaan halo-halo ini sempat turun ke level Rp 2.700.

Mengutip data Bloomberg, tiga sekuritas yang paling banyak melepas saham ini di antaranya:

Disinyalir, pergerakan saham TLKM terkait dengan kinerja TLKM di kuartal III yang kurang menyenangkan. Riset KONTAN menunjukkan, laba bersih TLKM terbilang stagnan, yakni Rp 11,47 triliun per 30 September 2014. Ini tak jauh berbeda dengan laba akhir kuartal III 2013 yang tercatat Rp 11,06 triliun. Read the rest of this entry

Kenaikan BBM ditunda, rupiah keok tajam

Rupiah mencatatkan pelemahan terbesar dalam sebulan terakhir pada transaksi hari ini (28/10). Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.51 WIB, rupiah melemah 0,5% menjadi 12.169 per dollar AS. Ini merupakan pelemahan terbesar sejak 29 September lalu.

Jika ditotal, mata uang rupiah sudah melemah hingga 1,5% dalam lima hari terakhir. Sementara itu, di pasar offshore, nilai tukar non deliverable forwards rupiah untuk pengantaran satu bulan ke depan melemah 0,4% menjadi 12.218. Dengan demikian, posisi rupiah di pasar offshore lebih lemah 0,4% dibanding nilai tukar di pasar spot.

Sedangkan nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pagi ini berada di level 12.158, melemah dari posisi kemarin yang berada di posisi 12.042. Read the rest of this entry

Setelah Rilis Kinerja Kuartal III, Analis Dongkrak Target Harga BBRI

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba bersih yang kuat naik 10,5% pada kuartal III/2014 (QoQ) dan 17,5% (YoY) dalam 9 bulan di tahun 2014 (9M14). Pencapaian tersebut di atas estimasi meskipun sebagian ditopang oleh pendapatan non recurring, termasuk anggaran penyisihan tahun sebelumnya untuk biaya insentif pemasaran yang dilaporkan sebagai laba non operasional sebesar Rp1,2 triliun pada 3Q14 (pada 2Q Rp0,5 triliun).

Pencapaian tersebut ditambah dengan naiknya pendapatan lain yang lebih besar dibanding kenaikan pertumbuhan biaya operasional yang kuat sebesar 24% (QoQ) pada kuartal terakhir. Dengan demikian [BBRI 10,800 -50 (-0,5%)] mampu melanjutkan kenaikan ROAE-nya sebesar 29% pada 9M14 meskipun terdapat sentimen indikator makro ekonomi seperti kenaikan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat tahun ini.

Pertumbuhan kredit BBRI melambat menjadi 12,3% (YoY) pada 3Q14, sejalan dengan pertumbuhan kredit sektor yang tumbuh secara moderat (13,5% YoY per Agustus). Walaupun begitu, marjin kredit mikro BBRI tetap tinggi masih tumbuh kuat sebesar 15,8%. Sementara deposit tumbuh 11% (QoQ) pada 3Q (20% YoY), melampaui industri yang tumbuh 11,6 persen.

Meskipun demikian dengan pertumbuhan deposit yang kuat yang sebagian besar didanai oleh deposito berbunga tinggi (22% QoQ), NIM perseroan telah menyempit 36bps menjadi 8,04% pada 3Q14 walaupun ini telah memperkuat rasio likuiditas BBRI seiring naiknya LDR menjadi 85% yang lebih baik dibanding industri rata-rata sebesar 94%.

Biaya kredit (setelah dikurangi pemulihan) sudah normal naik 106bps  di 9M14 setelah 2 tahun berada di level sangat rendah pada tahun 2012-2013 verys 32bps pada tahun lalu. Sementara NPL baru dalam tren naik baru-baru ini. Adapun kualitas aset tidak memburuk pada 3Q seperti ditunjukkan provisi kredit yang lebih rendah dan rasio NPL stabil (1,9%) dan cakupan provisi/NPL coverage sebesar 183% pada kuartal terakhir.

Kualitas aset portfolio mikro dan konsumer yang menyumbang hampir setengah total kredit masih stabil dengan rasio NPL yang rendah 1,38% dan 1,49% masing-masing, kontras dengan memburuknya rasio NPL pada kredit UKM dan medium yang masing-masing 4,05% dan 6,46%.

Kepala Riset PT Indo Premier Securities Stephan Hasjim memperkirakan laba BBRI pada 2014-2015 masing-masing naik 9% dan 6% ditopang naiknya NIM. Selain itu ditunjang asumsi fee based dan pendapatan non recurring serta asumsi naiknya biaya kredit konsumsi.

Dalam riset yang dipublikasikan, Jumat (24/10), Stephan menaikkan target harga (TP) menjadi Rp12.900 dari sebelumnya Rp10.250/saham. TP tersebut merefleksikan target rasio P/B dan P/E d tahun 2015 masing-masing 2,6 kali dan 11,5 kali. Stephan mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI.  Read the rest of this entry

Bank Mandiri Cetak Laba Rp 14,5 triliun

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) [10,125 -50 (-0,5%)] mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 14,5 triliun pada kuartal III 2014. Laba tersebut tumbuh 12,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, selain mampu membukukan laba positif, Bank Mandiri juga mampu meningkatkan aset menjadi Rp 798,2 triliun.

“Ini menjadi pertama kali dalam sejarah aset Bank Mandiri hampir menyentuh Rp 800 triliun‎, berarti kami tumbuh 14 persen secara year on year,” kata Budi di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (23/10/2014).

Sayangnya, pertumbuhan laba pada kuartal III ini jika dibandingkan dengan pertumbuhan laba ‎di kuartal II mengalami perlambatan. Pada Juni 2014 lalu, pertumbuhan laba perseroan sebesar 15,6 persen.

Budi menjelaskan, kinerja yang dibukukan oleh perseroan pada kuartal III termasuk bagus mengingat kondisi ekonomi nasional dan juga global masih belum pasti.

“Bank Mandiri itu bank terbesar di Indoensia, strategi kami di tengah ekonomi seperti ini itu tidak terlalu agresif, kalau kepleset sedikit saja itu bisa bahaya, jadi tumbuh di double digit itu sudah sangat bagus,” tegas Budi.

Pertumbuhan Kredit

Penyaluran kredit Bank Mandiri pada September 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 12,4 persen menjadi Rp 506,5 triliun dibandingkan dengan September 2013 yang tercatat Rp 450,8 triliun.

Penyaluran kredit tersebut dibarengi dengan kehati-hatian. Terbukti, Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah secara gross dapat dikendalikan dengan hanya mengalami kenaikan tipis dari 1,9 persen menjadi 2,16 persen. Kenaikan NPL tersebut dikatakan Budi lebih disebabkan kenaikan NPL di anak usaha mereka yaitu PT Bank Syariah Mandiri.

Secara sektoral kredit sektor produktif tercatata tumbuh 14,3 persen menjadi Rp 389,4 triliun, kredit investasi sebesar 10,8 persen dan kredit modal kerja sebesar 16,4 persen, sedangkan sektor konstruksi tumbuh sebesar 23,9 persen‎.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun Bank Mandiri tumbuh 14,9 persen menjadi Rp 590,9 triliun pada September 2014 dari di periode yang sama tahun lalu Rp 514,2 triliun.

Dari capaian itu, total dana murah (giro dan tabungan) yang berhasil dikumpulkan Bank Mandiri sampai dengan triwulan ketiga 2014 mencapai Rp 361,8, terutama di dorong oleh pertumbuhan giro sebesar 16,4 persen atau Rp 18,5 triliun hingga mencapai Rp 131,5 triliun.
Read the rest of this entry

Dolar AS Diperkirakan Masih Berkutat di Rp 12.000 Akhir Tahun Ini

Akhir tahun lalu dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 12.000-an. Setelah mengalami berbagai gejolak sepanjang 2014, dolar AS akan berada di kisaran berapa akhir tahun ini?

“Prediksi saya akhir tahun ini dolar As masih di angka Rp.12.000-an,” kata Pengamat Pasar Uang Farial Anwar ketika dihubungi detikFinance, Sabtu, (18/10/2014).

Prediksi ini disebabkan impor Indonesia yang masih terlalu tinggi, tak sebanding dengan ekspornya. Pembayaran utang berbentuk valuta asing juga salah satu sebabnya.
Read the rest of this entry

Emas Global Naik ke USD1.223,61/Ons

Harga emas global naik ke level tertinggi dalam hampir dua minggu. Hal ini sebagai harapan kenaikan awal suku bunga AS mereda dan dolar kehilangan traksi setelah rilis minutes dari pertemuan kebijakan Federal Reserve lalu.

Mengutip laman Reuters, Singapura, Kamis (10/8/2014), harga emas di pasar Spot naik menjadi USD 1.223,61 per ons. Namun, sebelum kenaikan tersebut harga emas sempat terkupas perdagangan, dengan penurunan 0,2 persen di USD1.219,30 per ons.

Harga logam telah naik selama tiga hari Logam telah naik selama tiga hari. Emas berjangka AS melonjak lebih dari 1 persen menjadi USD1.224,30. Read the rest of this entry

Besaran Utang Luar Negeri Indonesia Sangat Mengkhawatirkan : Gubernur BI

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowadodjo mengatakan, besaran utang luar negeri Indonesia sudah sangat menghawatirkan. Hingga Juli 2014 jumlah utang luar negeri RI sudah lebih dari Rp3.000 triliun.

Salah satu yang dikhawatirkan dalam pengelolaan utang luar negeri, kata Agus, adalah timbulnya beda prediksi atau missmatch pada nilai tukar, suku bunga dan lain sebagainya. Apalagi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika saat ini masih dalam kondisi tertekan.

“Indonesia ada resiko – meski total utang pemerintah terhadap PDB sangat rendah – karena dampak krisis global membuat ekspor menurun, dan rasionya terhadap utang meningkat. Kita perlu waspadai ini agar tidak menimbulkan masalah,” kata Agus dalam sambutan acara Ocean Investment Summit di Jakarta, Rabu (1/10).

Agus menuturkan, penurunan nilai ekspor dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan penurunan rasio utang terhadap ekspor. Ekspor yang menurun juga menyebabkan defisit transaksi berjalan semakin melebar dan membuat nilai tukar rupiah terus melemah. Hal tersebut patut diwaspadai oleh pemerintah dan pelaku usaha agar tidak terjadi missmatch nilai tukar dan bunga dalam utang luar negeri.

“Defisit transaksi berjalan sudah terjadi sejak kuartal IV 2011. Sekarang kita uapayakan pengendalian. Tahun 2014 sedikit lebih baik 2013. Pada 2014 defisit transaksi berjalan 3,2 persen dari PDB. Idealnya bisa ditekan di bawah 2,5 persen. Dari total transaksi berjalan, ekspor barang dan jasa lebih kecil dibanding impor,” paparnya.

Agus menambahkan, defisit transaksi berjalan terjadi karena besarnya nilai impor BBM, yang kemudian memberi tekanan besar pada transaksi berjalan. “Kita juga perlu menyoroti nilai transaksi berjalan Indonesia pada neraca jasa dan pendapatan,” imbuhnya.

Berdasarkan Data BI, posisi utang luar negeri (ULN) hingga Juli 2014 mencapai US$290,56 miliar atau meningkat 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2014, komposisi ULN yakni pemerintah dan bank sentral mencapai US$134,15 miliar, sedangkan swasta yang terdiri industri perbankan mencapai US$29,16 miliar dan industri bukan bank mencapai US$127,24 miliar. Read the rest of this entry

Ellen May: IHSG Akhiri Masa Konsolidasi Dengan Breaking Down

Indeks Dow Jones ditutup di level 16,801.05 melemah 3.66 point (-0.02%) . IHSG 2 Oktober 2014 ditutup di level 5,000.81 turun 140.10 point (-2.73%), breakdown dari suport 5100. Pola double tops & suport 5000 seperti telah disebutkan dalam Kopipagi (Update Market Harian) 29 Sept 2014 terkonfirmasi. Range IHSG saat ini 5000-5100. Ada potensi hari ini IHSG tertahan di area suport 5000 dan mengalami pantulan.

Jika gagal bertahan di atas 5000, IHSG berpotensi turun ke ruang di bawahnya, uji suport berikutnya di area 4850 dan 4650. Weekly dan monthly chart menunjukkan tanda bearish.

ASII breakdown dari suport kuat 7000, turun dengan volume besar, next suport 6000. Batasi resiko. BBNI breakdown 5500, next suport area 5150. BMRI breakdown 1000 batasi resiko, next suport 9600. INTP on suport 21000, waspada breakdown ke next suport 19500-20000. KLBF on suport 1650, wait and see waspada breakdown.

MEDC dari #kopipagi kemarin masih di atas suport 3650, jika di bawah itu batasi resiko !

Cara menggunakan range Kopipagi : best buy di range bawah, dekat range atas waspada profit taking, di bawah range bawah stop loss.

Area 5000 adalah suport kuat, jika terjadi teknikal rebound manfaatkan untuk membatasi resiko / mengurangi posisi. Membatasi resiko 100x lebih penting daripada mengejar keuntungan. Demikian Kopipagi (Update Market Harian) 3 Oktober 2014 semoga mencerahkan. Salam profit! Read the rest of this entry