Monthly Archives: February 2015

Gara-gara Minyak, Analis Mengkhawatirkan Kinerja PGN

Perusahaan Gas Negara (PGN) menghabiskan anggaran US$1,2 miliar pada bisnis hulu migas ketika harga minyak di atas US$100 per barel. Tiba-tiba terjadi kejutan saat harga minyak jatuh ke level US$50 per barel yang akan berdampak signifikan terhadap nilai aset hulu tersebut.

Nilai Aset PGN ( [PGAS 5,375 -100 (-1,8%)]) turun pada tahun buku 2014 tanpa merilis tolok ukur. Tetapi hal ini tidak berdampak terhadap pada kas perseroan. Fair value aset tersebut akan ditentukan oleh nilai masing-masing aset saat ini. Nilai aset migas akan menjadi sangat sensitif terhadap perbedaan asumsi harga minyak dan tingkat diskonto.

Proyek Transmisi Gas
PGN telah memulai pembangunan jaringan transmisi baru, Kalija tahap I, pipanisasi sepanjang 200 km di Jawa Tengah dengan kapasitas 200 mmscfd. Nilai investasi proyek baru ini mencapai US$200 juta.

Proyek ini diperkirakan selesai pada akhir tahun 2015. Sedangkan pendapatan baru akan dibukukan pada tahun 2016. Fee transmisi akan didasarkan pada ROI WACC ditambah marjin sebesar 1% hingga 2%.

Analis PT Indo Premier Securities Chandra Pasaribu memperkirakan, fee transmisi sekitar US$0,685 per MMBTU dibandingkan dengan rata-rata fee transmisi saat ini sekitar US$0,55.

FSRU Lampung
Sementara fasilitas LNG apung di Lampung sudah selesai proses uji coba operasionalnya dan siap beroperasi secara komersial pada 2015. Fasilitas ini akan meningkatkan pasokan gas dari 60-80 mmscfd di tahun 2015 sampai ke kapasitas penuh 240 mmscfd pada 2018.

Tetapi kemampuan jual LNG mengkhawatirkan karena harga rata-rata lebih tinggi sebesar US$17-19 per MMBTU dibandingkan dengan harga gas transmisi pipa sebesar US$0,24 per MMTBU.

“Kita asumsikan fasilitas ini hanya akan beroperasi 80% dari kapasitas terpasang (190 mmscfd) pada 2018 dan seterusnya,” kata Chandra dalam riset yang dipublikasikan, Rabu (25/2).

Rekomendasi Hold
Target price saham PGN dipangkas menjadi Rp5.900/saham karena faktor memasukkan proyek transmisi pipa Kalija. Faktor lain menambahkan pendapatan dari FSRU Lampung dari apa yang sebelumnya dianggap sebagai proyek yang berdiri sendiri.

Faktor lain adalah turunnya nilai aset migas akibat turunnya harga minyak dan turunnya nilai FSRU Jawa Barat karena laba bersih yang di bawah ekspektasi. Oleh karena itu, masuknya proyek Kalija tidak cukup untuk mengimbangi penurunan nilai aset migas dan FSRU Jawa Barat. (mk)

Read the rest of this entry

Advertisements

Utang Pemerintah Naik Hampir Rp 100 T di Januari, Jadi Rp 2.700 T

Hingga Januari 2015, total utang pemerintah pusat tercatat Rp 2.702,29 triliun. Naik 3,7% dibandingkan posisi bulan sebelumnya yaitu Rp 2.604,93 triliun.

Sebagian besar utang pemerintah adalah dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN). Sampai Januari 2015, nilai penerbitan SBN mencapai Rp 2.021,02 (74,8% dari total utang pemerintah). Read the rest of this entry

Meneropong Saham Terbaik dari Segi Pertumbuhan

Berinvestasi reksa dana, maka tidak hanya akan memperoleh dividen, namun keuntungan dalam satu tahun akan dikurangi management fee sebesar 1 – 2%.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menuturkan, jika memperoleh keuntungan 20% per tahun, maka realisasinya kurang lebih hanya 17%.

PT Astra International Tbk (ASII) dengan CAGR 27,7%, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan CAGR 27,5%. Dia mengatakan perusahaan ini cukup royal dalam membagikan dividen.
Read the rest of this entry

KASUS OBAT ANESTESI: Investor “Buang” Saham Kalbe Farma

Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan kasus penarikan obat anestesi Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat Generik, keluaran PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) [1,805 -5 (-0,3%)] memengaruhi minat investor pada saham emiten perusahaan farmasi tersebut.

Investor khawatir hal itu bakal berdampak negatif bagi kinerja keuangan perusahaan farmasi tersebut. Mereka memilih melepas kepemilikan saham tersebut sementara waktu. “Dalam kondisi tersebut, panic selling memang wajar terjadi,” katanya kepada TEMPO seperti dikutip Rabu (18/2/2015).

Lanjar menjelaskan bagi setiap emiten sentimen negatif memang cenderung memicu aksi jual. Alasannya, sentimen negatif akan mengancam penurunan kinerja keuangan di masa mendatang, sehingga membuat investor khawatir potensi profit dari kepemilikan saham bakal berkurang.

Namun demikian, menurut Lanjar, prospek saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] tetap sangat menarik. Pasalnya, dengan produk farmasi yang cukup variatif, penarikan dua obat tersebut dinilai takkan terlalu menganggu prospek bisnis yang dimiliki KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. “Penarikan dua obat yang bukan produk umum, tentu takkan menganggu bisnis KLBF [1,805 -5 (-0,3%)],” sambungnya.

Secara teknikal, harga saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] pada level Rp1.800-an per lembar juga dianggap Lanjar sesuai dengan ekspektasi pasar. Alasannya, titik resisten KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] dalam jangka pendek memang berada pada kisaran level Rp1.870–Rp1.880 per lembar saham. “Secara teknikal, tak jauh dari target price,” tuturnya.

Pada perdagangan hari ini, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] memang cenderung tertekan. Hingga pukul 15.30 WIB, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] terkoreksi 5 poin (0,3%) ke level Rp1.805 per lembar saham. Dengan nilai perdagangan sebesar Rp157 miliar, KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] menjadi salah satu saham yang mencatatkan kerugian terbesar (Top 10 losers).

Senin, 16 Februari 2015 lalu, seiring dengan koreksi IHSG sebesar 0,91 persen, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] juga anjlok 70 poin (3,74%) menjadi Rp1.800 per lembar saham. Lanjar mensinyalir aksi jual tersebut juga berkaitan dengan aktivitas penarikan obat yang dilakukan KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. Read the rest of this entry

Wall Street merespon negatif keputusan The Fed

Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah setelah menyentuh rekor. Menyusul penurunan saham-saham energi, juga terkena sentimen dari hasil pertemuan Bank Sentral Amerika (The Fed) yang memilih untuk mempertahankan untuk tidak menaikkan suku bunga.

Indeks S&P 500 tergelincir 0,4% ke level 2,099.68 pada penutupan pukul 04.00 waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 17,73 poin atau 0,1% ke level 18,029.85.

Transaksi ini melibatkan 6,2 miliar saham. Angka tersebut 11% di bawah volume rata-rata per tiga bulan.

Bursa AS merespon negatif terhadap pertemuan The Fed yang berpendapat untuk untuk memilih suku bunga rendah lebih lama lagi. “Kami masih belum sampai pada titik di mana ekonomi yang lebih kuat dan The Fed mempertimbangkan hal tersebut,” kata Richard Sichel. chief investment officer Philadelphia Trust Co.

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/

ACES tahun ini targetkan kinerja tumbuh 15%

PT Ace Hardware Indonesia, Tbk (ACES) memperkirakan, kinerja di tahun ini akan tumbuh moderat. Imelda Widjojo, Hubungan Investor ACES, memproyeksikan, tahun ini pendapatan dan laba bersih masing-masing bisa tumbuh 10%-15%.

Sementara tahun lalu, Imelda memprediksi, bisa mengantongi pendapatan Rp 4,42 triliun atau tumbuh 15% dibandingkan tahun 2013. Begitu juga laba bersih ACES diharapkan bisa naik 15% menjadi Rp 585,2 miliar.

Ini artinya, tahun ini, pendapatan ACES bisa mencapai sebesar Rp 4,86 triliun-Rp 5,08 triliun dengan laba bersih antara Rp 643,72 miliar sampai Rp 672,98 miliar. Demi mencapai target itu, manajemen ACES akan menggenjot penjualan di setiap gerai yang sudah ada. Selain itu, emiten ini juga akan membuka sejumlah gerai baru.

Read the rest of this entry

Stimulus menekan yen

Mata uang Negeri Sakura loyo di hadapan mata uang pasangannya. Ini karena rencana stimulus dan belum banyak data positif.

Mengutip Bloomberg, Kamis (5/2) hingga pukul 18.30 WIB, pasangan EUR/JPY naik 0,89% dibanding hari sebelumnya ke 134,2400. Pasangan USD/JPY naik 0,14% menjadi 1174400. Sementara pasangan AUD/JPY naik 0,87% ke 91,7230.

Ariston Tjendra, Head of Research and Analysis Division PT Monex Investindo Futures bilang, pelemahan yen terjadi lantaran Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) baru saja merekrut anggota baru yang pro terhadap kebijakan stimulus moneter. Kondisi ini mengukuhkan yen melemah terhadap seluruh mata uang. Read the rest of this entry

Sampai Kapan Harga Minyak Dunia ‘Terjun Bebas’?

Anjloknya harga minyak dunia saat ini di bawah US$ 50 per barel membuat banyak perusahaan minyak kelabakan. Sampai kapan kondisi ini berlangsung?

Dengan kondisi harga minyak dunia di bawah US$ 50 per barel, banyak proyek-proyek minyak dan gas bumi (migas) dihentikan, bahkan tidak sedikit perusahaan yang memberhentikan karyawannya untuk mengurangi besarnya dana operasional.

President Director and CEO PT Medco Energi Internasional Tbk, Lukman Mahfoedz mengatakan, beberapa pihak memperkirakan harga minyak akan kembali naik tahun ini. Seiring meningkatnya konsumsi energi akibat pertumbuhan ekonomi dunia.
Read the rest of this entry