Daily Archives: February 20, 2015

KASUS OBAT ANESTESI: Investor “Buang” Saham Kalbe Farma

Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan kasus penarikan obat anestesi Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat Generik, keluaran PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) [1,805 -5 (-0,3%)] memengaruhi minat investor pada saham emiten perusahaan farmasi tersebut.

Investor khawatir hal itu bakal berdampak negatif bagi kinerja keuangan perusahaan farmasi tersebut. Mereka memilih melepas kepemilikan saham tersebut sementara waktu. “Dalam kondisi tersebut, panic selling memang wajar terjadi,” katanya kepada TEMPO seperti dikutip Rabu (18/2/2015).

Lanjar menjelaskan bagi setiap emiten sentimen negatif memang cenderung memicu aksi jual. Alasannya, sentimen negatif akan mengancam penurunan kinerja keuangan di masa mendatang, sehingga membuat investor khawatir potensi profit dari kepemilikan saham bakal berkurang.

Namun demikian, menurut Lanjar, prospek saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] tetap sangat menarik. Pasalnya, dengan produk farmasi yang cukup variatif, penarikan dua obat tersebut dinilai takkan terlalu menganggu prospek bisnis yang dimiliki KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. “Penarikan dua obat yang bukan produk umum, tentu takkan menganggu bisnis KLBF [1,805 -5 (-0,3%)],” sambungnya.

Secara teknikal, harga saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] pada level Rp1.800-an per lembar juga dianggap Lanjar sesuai dengan ekspektasi pasar. Alasannya, titik resisten KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] dalam jangka pendek memang berada pada kisaran level Rp1.870–Rp1.880 per lembar saham. “Secara teknikal, tak jauh dari target price,” tuturnya.

Pada perdagangan hari ini, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] memang cenderung tertekan. Hingga pukul 15.30 WIB, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] terkoreksi 5 poin (0,3%) ke level Rp1.805 per lembar saham. Dengan nilai perdagangan sebesar Rp157 miliar, KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] menjadi salah satu saham yang mencatatkan kerugian terbesar (Top 10 losers).

Senin, 16 Februari 2015 lalu, seiring dengan koreksi IHSG sebesar 0,91 persen, saham KLBF [1,805 -5 (-0,3%)] juga anjlok 70 poin (3,74%) menjadi Rp1.800 per lembar saham. Lanjar mensinyalir aksi jual tersebut juga berkaitan dengan aktivitas penarikan obat yang dilakukan KLBF [1,805 -5 (-0,3%)]. Read the rest of this entry

Advertisements

Wall Street merespon negatif keputusan The Fed

Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah setelah menyentuh rekor. Menyusul penurunan saham-saham energi, juga terkena sentimen dari hasil pertemuan Bank Sentral Amerika (The Fed) yang memilih untuk mempertahankan untuk tidak menaikkan suku bunga.

Indeks S&P 500 tergelincir 0,4% ke level 2,099.68 pada penutupan pukul 04.00 waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 17,73 poin atau 0,1% ke level 18,029.85.

Transaksi ini melibatkan 6,2 miliar saham. Angka tersebut 11% di bawah volume rata-rata per tiga bulan.

Bursa AS merespon negatif terhadap pertemuan The Fed yang berpendapat untuk untuk memilih suku bunga rendah lebih lama lagi. “Kami masih belum sampai pada titik di mana ekonomi yang lebih kuat dan The Fed mempertimbangkan hal tersebut,” kata Richard Sichel. chief investment officer Philadelphia Trust Co.

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/