Daily Archives: February 27, 2015

Gara-gara Minyak, Analis Mengkhawatirkan Kinerja PGN

Perusahaan Gas Negara (PGN) menghabiskan anggaran US$1,2 miliar pada bisnis hulu migas ketika harga minyak di atas US$100 per barel. Tiba-tiba terjadi kejutan saat harga minyak jatuh ke level US$50 per barel yang akan berdampak signifikan terhadap nilai aset hulu tersebut.

Nilai Aset PGN ( [PGAS 5,375 -100 (-1,8%)]) turun pada tahun buku 2014 tanpa merilis tolok ukur. Tetapi hal ini tidak berdampak terhadap pada kas perseroan. Fair value aset tersebut akan ditentukan oleh nilai masing-masing aset saat ini. Nilai aset migas akan menjadi sangat sensitif terhadap perbedaan asumsi harga minyak dan tingkat diskonto.

Proyek Transmisi Gas
PGN telah memulai pembangunan jaringan transmisi baru, Kalija tahap I, pipanisasi sepanjang 200 km di Jawa Tengah dengan kapasitas 200 mmscfd. Nilai investasi proyek baru ini mencapai US$200 juta.

Proyek ini diperkirakan selesai pada akhir tahun 2015. Sedangkan pendapatan baru akan dibukukan pada tahun 2016. Fee transmisi akan didasarkan pada ROI WACC ditambah marjin sebesar 1% hingga 2%.

Analis PT Indo Premier Securities Chandra Pasaribu memperkirakan, fee transmisi sekitar US$0,685 per MMBTU dibandingkan dengan rata-rata fee transmisi saat ini sekitar US$0,55.

FSRU Lampung
Sementara fasilitas LNG apung di Lampung sudah selesai proses uji coba operasionalnya dan siap beroperasi secara komersial pada 2015. Fasilitas ini akan meningkatkan pasokan gas dari 60-80 mmscfd di tahun 2015 sampai ke kapasitas penuh 240 mmscfd pada 2018.

Tetapi kemampuan jual LNG mengkhawatirkan karena harga rata-rata lebih tinggi sebesar US$17-19 per MMBTU dibandingkan dengan harga gas transmisi pipa sebesar US$0,24 per MMTBU.

“Kita asumsikan fasilitas ini hanya akan beroperasi 80% dari kapasitas terpasang (190 mmscfd) pada 2018 dan seterusnya,” kata Chandra dalam riset yang dipublikasikan, Rabu (25/2).

Rekomendasi Hold
Target price saham PGN dipangkas menjadi Rp5.900/saham karena faktor memasukkan proyek transmisi pipa Kalija. Faktor lain menambahkan pendapatan dari FSRU Lampung dari apa yang sebelumnya dianggap sebagai proyek yang berdiri sendiri.

Faktor lain adalah turunnya nilai aset migas akibat turunnya harga minyak dan turunnya nilai FSRU Jawa Barat karena laba bersih yang di bawah ekspektasi. Oleh karena itu, masuknya proyek Kalija tidak cukup untuk mengimbangi penurunan nilai aset migas dan FSRU Jawa Barat. (mk)

Read the rest of this entry

Advertisements