Monthly Archives: April 2015

IHSG Anjlok, Bulan Madu Jokowi dan Investor Berakhir?

Bulan madu Presiden Joko Widodo dan investor global berakhir dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang anjlok dalam dan rupiah yang kian terpuruk dengan penurunan terdalam di Asia. Bobot politik Jokowi dinilai kurang, terlihat dari pencalonan Kapolri yang bermasalah, dan yang terakhir soal eksekusi mati yang mengagetkan masyarakat internasional, meski tak adil untuk menilai kinerjanya hanya dalam enam bulan masa kepresidenan.

Seperti dilansir Bloomberg, Kamis (30/4), setelah memulai masa jabatan presiden Oktober lalu dengan kebijakan ramah pasar lewat pemangkasan subsidi BBM, Jokowi kini dalam kecaman lewat  pengangkatan calon Kapolri bermasalah dan kini eksekusi warga asing penyelundup narkoba yang dinilai merugikan hubungan dengan mitra dagang. Hal itu diperparah dengan posisi Jokowi yang minim dukungan di parlemen yang bisa mempersulit dirinya menghidupkan kembali perekonomian.

Situasi itu, lanjut Bloomberg, menipiskan kesabaran pengelola dana asing yang sempat mendorong IHSG ke posisi tertinggi pada 7 April dan hingga kemarin anjlok 7,6 persen seiring penarikan dana oleh asing. Pada bagian lain, pemerintah hanya mendapatkan kurang separoh dari target lelang obligasi pada Selasa lalu. Tambahan lagi, para pemain mata uang bersikap bearish pada rupiah ketimbang mata uang regional.

“Sangat sulit menemukan hal-hal positif jika bicara ekonomi dan politik Indonesia saat ini,” ujar Michael Every, kepala riset pasar finansial Rabobank Group yang berbasis di Hong Kong. “Makin sulit untuk menjustifikasi apapun faktor premium Jokowi.”

Kekhawatiran investor asing paling terlihat di pasar saham pada Rabu (29/4) kemarin, dengan penurunan IHSG mencapai 2,6 persen hingga ditutup di posisi terendah sejak 17 Desember. Meski,  rupiah menguat 0,3 persen menjadi 12.944 terhadap dolar AS, namun tetap saja penurunan tahun ini mencapai 4,3 persen, sedangkan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun lima basis poin menjadi 7,74 persen. Dan, hari ini, di awal perdagangan nilai tukar rupiah tergelincir  0,1 persen.

Pada hari puncak kekhawatiran itu, Indonesia mengeksekusi tujuh warga asing penyelundup narkoba, yang mendorong Australia menarik duta besarnya dan memperingatkan gangguan hubungan kedua negara. Perdagangan kedua negara mencapai USD9,7 miliar pada tahun lalu yang berakhir 30 Juni. “Eksekusi tersebut sangat tidak ramah bagi investor asing,” kata Every.

Sebelumnya, popularitas Jokowi merosot tajam dengan pencalonan Komjen Budi Gunawan yang memicu konflik kepolisian dan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), dan kini berujung pada keraguan atas kredibilitas KPK dengan pengangkatan orang-orang yang dinilai tak berkompeten, menggantikan pimpinan lama yang harus dinonaktifkan. Citra Jokowi sebagai pemimpin yang bisa melanjutkan reformasi dan memberantas korupsi makin dipertanyakan.

“Pesan yang didapat investor, Presiden (Jokowi) belum memiliki bobot politik,” tegas Paul Rowland, analis politik independen yang berbasis di Jakarta, dalam sebuah wawancara. “Ada tanda tanya atas kemampuannya untuk menuntaskan berbagai program reformasi.”

Menanggapi pandangan asing itu, Direktur Eksekutif Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Juda Agung, menilai apa yang terjadi pada pasar saham hanya bersifat “musiman” sehingga tak terkait dengan kebijakan pemerintah, apalagi eksekusi mati. “Investor menunggu dan ingin melihat  laporan keuangan perusahaan kuartal pertama yang di bawah target. Tapi kami berharap dengan PDB yang kuat dan fundamental yang lebih baik pada kuartal kedua, investor akan kembali,” harap Juda.

Tantangan politik Jokowi telah meningkat sejak muncul kekhawatiran atas kekuatan pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan. Target pemerintah meningkatkan ekspansi 5,7 persen tahun ini, dari posisi terendah lima tahun sebesar 5,02 persen pada 2014, akan sulit dicapai. Hal ini diakui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil pada 21 April lalu.

Di pihak lain, mayoritas emiten, termasuk konglomerat PT Astra International Tbk [ASII 7,025 -75 (-1,1%)], telah melaporkan anjloknya laba pada kuartal pertama.

Namun, sebagian pengamat mengingatkan bahwa dampak kebijakan Jokowi harus dinilai selama bertahun-tahun, tidak dalam hitungan bulan. Menurut Alan Richardson, manajer investasi di Samsung Asset Management Co, Jokowi sudah bertekad mengakumulasi anggaran untuk membangun pelabuhan, jalan, dan rel kereta api. Program yang tentu butuh waktu untuk diterjemahkan ke angka pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, ada beberapa tanda-tanda keberhasilan awal. Investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia pada kuartal penuh pertama sejak Jokowi menjadi presiden, naik 14 persen dibandingkan kuartal yang sama 2014. Jokowi juga dinilai berhasil menekan subsidi energi yang selama ini sangat membebani anggaran pemerintah. “Berharap hasil hanya dalam enam bulan masa kepresidenan tentu tidak realistis,” ujar Richardson.

Kerentanan ekonomi

Hal yang pasti, perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap prospek kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dalam tahun ini. Neraca transaksi berjalan Indonesia telah mengalami defisit 13 kuartalan berturut-turut hingga akhir 2014. Sedangkan ratio cadangan devisa terhadap produk domestik bruto hanya kurang dari separuh jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan Filipina.

Hal itu tentu menambah risiko di pasar mata uang, di mana para pemain yang disurvei Bloomberg telah memangkas estimasi rata-rata mereka untuk nilai tukar pada akhir 2016 turun 9 persen dibanding tahun ini menjadi Rp13.700 per dolar. Penurunan terbesar jika dibandingkan mata uang Asia lain.

Di pasar obligasi, investor ternyata juga berbalik arah. Hal ini terlihat dari lelang obligasi dengan target Rp10 triliun pada 28 April lalu, pemerintah hanya mendapatkan kurang dari separuh target. Ini adalah penjualan terlemah sejak Juni 2013, di saat pasar juga dikhawatirkan oleh berakhirnya program stimulus moneter di AS.

“Orang-orang (investor) sedikit terlalu optimistis tahun lalu,” ujar Divya Devesh, pakar strategi valuta asing di Standard Chartered Plc di Singapura. “Sejumlah optimisme yang tampaknya kini harus diturunkan.” Read the rest of this entry

Advertisements

Inilah Laba-Rugi Bersih Emiten Kuartal I-2015

Berikut ini adalah hasil rekapitulasi laba atau rugi bersih emiten kuartal I-2015 dibandingkan kuartal I-2014 hingga 27 April 2015. Seperti apa?

1. PT Astra Agro Lestari (AALI) [20,125 -1875 (-8,5%)] Rp156 miliar pada kuartal I-2015 dibandingkan Rp784 miliar pada kuartal I-2014;

2. PT Timah (TINS) [855 -40 (-4,5%)] -Rp19,1 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp95 miliar kuartal I-2014;

3. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) [6,725 -225 (-3,2%)] Rp2,82 triliun kuartal I-2015 dibandingkan Rp2,39 triliun kuartal I-2014;

4. PT Astra Graphia (ASGR) [2,140 -60 (-2,7%)] Rp47,5 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp33,1 miliar kuartal I-2014;

5. PT Astra Otopart (AUTO) [3,200 -55 (-1,7%)] Rp87,4 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp265,5 miliar kuartal I-2014;

6. PT Siloam International Hospital (SILO) [14,200 175 (+1,2%)] Rp34,5 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp26,9 miliar kuartal I-2014;

7. PT Bank CIMB-Niaga (BNGA) [690 -5 (-0,7%)] Rp82,7 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp1,09 triliun kuartal I-2014;

8. PT Arwana Citramulia (ARNA) [530 -5 (-0,9%)] Rp39,6 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp77,1 miliar kuartal I-2014;

9. PT Unilever Indonesia (UNVR) [42,750 -250 (-0,6%)] Rp1,59 triliun kuartal I-2015 dibandingkan Rp1,36 triliun kuartal I-2014;

10. PT Elnusa (ELSA) [575 -10 (-1,7%)] Rp65 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp54 miliar kuartal I-2014;

11. PT AKR Corporindo (AKRA) [5,075 -75 (-1,5%)] Rp295 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp180 miliar kuartal I-2014;

12. PT Logindo Samuderamakmur (LEAD) [1,370 -40 (-2,8%)] US$1,09 juta kuartal I-2015 dibandingkan US$5,69 juta kuartal I-2014; dan

13. PT Nirvana Development (NIRO) [203 -3 (-1,5%)] Rp19,7 miliar kuartal I-2015 dibandingkan Rp3,8 miliar kuartal I-2014. Read the rest of this entry

Uang muka kredit rumah akan diperlonggar

Efek aturan pembatasan minimal uang muka alias loan to value  (LTV) atas kredit pembelian properti bak pisau bermata dua. Di satu sisi, efek aturan tersebut mampu menahan kenaikan harga hunian khususnya di atas 70 meter per segi (m²).

Tapi di sisi lain, efek aturan pembatasan uang muka atau down payment sebesar 30% untuk rumah pertama dan 40% untuk rumah kedua membuat kredit properti melambat.

Data Otoritas Jasa Keuangan menyebut  pasca kebijakan LTV dirilis tahun 2012 dan 2013, kredit properti mengalami perlambatan, baik kredit rumah maupun apartemen.  Jika ada kenaikan permintaan kredit properti 2013, itu  adalah kredit carry over dari tahun sebelumnya, saat aturan LTV belum keluar. Read the rest of this entry

PGAS Bagikan Dividen Rp144,84 Per Lembar Saham

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp144,84 per lembar saham dari laba bersih 2014 yang mencapai US$722,75 juta.

“Hari ini RUPS PGN memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2014 sebesar Rp144,84 per lembar saham,” kata Vice President Corporate Communication PGN [PGAS 4,830 35 (+0,7%)], Ridha Ababil, di Jakarta, Senin (6/4).

Dia menyebutkan, laba bersih perseroan di 2014 mencapai US$722,75 juta yang ditopang kenaikan pendapatan neto sebesar US$3,41 miliar atau mengalami kenaikan 13,6 persen dibandingkan 2013.

Sementara itu, jelas dia, laba operasi PGAS di 2014 mencapai US$982,06 juta atau mengalami kenaikan 5,2 persen dibandingkan setahun sebelumnya.

Ridha menyebutkan, EBITDA perseroan di 2014 mencapai US$1,16 miliar atau meningkat dibandingkan dengan periode yang sama di 2013 yang sebesar US$1,12 miliar.

Lebih lanjut Ridha mengatakan, rapat hari ini juga memutuskan untuk mengubah susunan komisaris. “Ada enam komisaris, ada lima komisaris yang baru,” katanya sembari menyebutkan bahwa M Zamkhani tetap menjabat sebagai komisaris.

Berikut ini susunan komisaris dan direksi PGN berdasarkan hasil keputusan RUPST 2015:

Komisaris

Komisaris Utama (Independen): Iman Sugema
Komisaris: Tirta Hidayat
Komisaris: Mohammad Ikhsan
Komisaris: Paiman Rahardjo
Komisaris (Independen): IGN Wiratmaja Puja
Komisaris: M Zamkhani

Direksi

Direktur Utama: Hendi Prio Santoso
Direktur: M Wahid Sutopo
Direktur: Jobi Triananda Hasjim
Direktur: Djoko Saputro
Direktur: M Riza Pahlevi Tabrani
Direktur: Hendi Kusnadi Read the rest of this entry

Tahun Ini Marjin Emiten Semen Diperkirakan Tergerus 3%

Awal Januari 2015 pemerintah mengumumkan harga jual semen turun Rp3000 per sak. Sebagai akibatnya PT Semen Indonesia Tbk [SMGR 13,650 0 (+0,0%)] dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk [INTP 21,925 0 (+0,0%)] menurunkan harga jual produk masing-masing 5% dan 4% di awal tahun 2015.

Intervensi pemerintah tersebut diyakini terutama karena kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga BBM pada awal Desember 2014. “Dengan inflasi yang terkontrol, diperkirakan tidak akan ada lagi intervensi pemerintah lebih lanjut. Diperkirakan produsen semen akan menikmati lagi kekuatan harga di tahun ini,” kata analis Indo Premier Securities Chandr Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.

Meskipun harga jual turun, produsen semen dapat menghindari penciutan marjin berdasarkan manfaat penurunan biaya energi. Biaya energi, batu bara dan listrik dihitung sekitar 30%-35% dari biaya jual produk.

Harga patokan batu bara dan tarif listrik turun masing-masing 1,6% dan 2,7% (QoQ). Tarif listrik tidak mendapat subsidi dan akan fluktuatif bersamaan dengan harga minyak, nilai tukar dan inflasi.

Biaya Logistik
Diperkirakan terjadi pengurangan biaya logistik karena turunnya harga bbm subsidi dan non subsidi. Sebagian logistik diangkut dengan BBM subsidi, khususnya transportasi darat. Sementara transportasi laut memakai BBM non subsidi.

Subsidi BBM mesin diesel (high speed diesel/HSD) turun 12,3% (QoQ) menjadi Rp11.338 per liter per Maret 2015. Sedangkan BBM non subsidi bagi HSD turun 3,2% (QoQ) menjadi Rp6.400 per liter. Biaya transportasi dihitung sekitar 15%-17% dari total biaya. Penurunan harga BBM subsidi dan non subsidi akan melonggarkan tekanan terhadap marjin.

Faktor Volume
Industri semen sudah menikmati marjin tinggi paa beberapa tahun terakhir seiring keseimbangan suplai and demand. Saat ini sebagian besar pabrikan semen telah menambah kapasitas. Tingkat Kapasitas terpasang industri yang sehat 80% sampai 85%. Namun hal ini akan mengenyahkan kekuatan harga yang dinikmati oleh pabrikan semen dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan marjin yang relatif sudah normal, industri semen di Indonesia akan kurang menarik bagi pemain baru, jadi menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan bagi industri semen. Namun demikian, ini berarti bawah pertumbuhan produsen semen akan tergantung pada volume daripada pertumbuhan marjin.

“Kami perkirakan perimintaan terhadap semen tumbuh 5,5% di tahun 2015 dan kemudian naik 10% di tahun 2016 dengan asumsi investasi di sektor infrastruktur membaik. Diperkirakan marjin emiten semen akan melemah 2% hingga 3% di tahun ini,” kata Chandra. (mk)Â

Read the rest of this entry