Daily Archives: April 2, 2015

Tahun Ini Marjin Emiten Semen Diperkirakan Tergerus 3%

Awal Januari 2015 pemerintah mengumumkan harga jual semen turun Rp3000 per sak. Sebagai akibatnya PT Semen Indonesia Tbk [SMGR 13,650 0 (+0,0%)] dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk [INTP 21,925 0 (+0,0%)] menurunkan harga jual produk masing-masing 5% dan 4% di awal tahun 2015.

Intervensi pemerintah tersebut diyakini terutama karena kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga BBM pada awal Desember 2014. “Dengan inflasi yang terkontrol, diperkirakan tidak akan ada lagi intervensi pemerintah lebih lanjut. Diperkirakan produsen semen akan menikmati lagi kekuatan harga di tahun ini,” kata analis Indo Premier Securities Chandr Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.

Meskipun harga jual turun, produsen semen dapat menghindari penciutan marjin berdasarkan manfaat penurunan biaya energi. Biaya energi, batu bara dan listrik dihitung sekitar 30%-35% dari biaya jual produk.

Harga patokan batu bara dan tarif listrik turun masing-masing 1,6% dan 2,7% (QoQ). Tarif listrik tidak mendapat subsidi dan akan fluktuatif bersamaan dengan harga minyak, nilai tukar dan inflasi.

Biaya Logistik
Diperkirakan terjadi pengurangan biaya logistik karena turunnya harga bbm subsidi dan non subsidi. Sebagian logistik diangkut dengan BBM subsidi, khususnya transportasi darat. Sementara transportasi laut memakai BBM non subsidi.

Subsidi BBM mesin diesel (high speed diesel/HSD) turun 12,3% (QoQ) menjadi Rp11.338 per liter per Maret 2015. Sedangkan BBM non subsidi bagi HSD turun 3,2% (QoQ) menjadi Rp6.400 per liter. Biaya transportasi dihitung sekitar 15%-17% dari total biaya. Penurunan harga BBM subsidi dan non subsidi akan melonggarkan tekanan terhadap marjin.

Faktor Volume
Industri semen sudah menikmati marjin tinggi paa beberapa tahun terakhir seiring keseimbangan suplai and demand. Saat ini sebagian besar pabrikan semen telah menambah kapasitas. Tingkat Kapasitas terpasang industri yang sehat 80% sampai 85%. Namun hal ini akan mengenyahkan kekuatan harga yang dinikmati oleh pabrikan semen dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan marjin yang relatif sudah normal, industri semen di Indonesia akan kurang menarik bagi pemain baru, jadi menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan bagi industri semen. Namun demikian, ini berarti bawah pertumbuhan produsen semen akan tergantung pada volume daripada pertumbuhan marjin.

“Kami perkirakan perimintaan terhadap semen tumbuh 5,5% di tahun 2015 dan kemudian naik 10% di tahun 2016 dengan asumsi investasi di sektor infrastruktur membaik. Diperkirakan marjin emiten semen akan melemah 2% hingga 3% di tahun ini,” kata Chandra. (mk)Â

Read the rest of this entry

Advertisements