Monthly Archives: May 2015

Ada peluang di saham bagus berharga murah

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, yang harus diingat adalah buy on weakness. Membeli ketika turun dan bukan sebaliknya. Kalau kita panik dan ikut menjual saham ketika pasar turun, kemudian pasar berbalik arah, kita akan rugi. Demikian nasihat investor kenamaan Lo Kheng Hong kala berbincang dengan Tabloid KONTAN, Selasa, 5 Mei 2015 lalu.

Lo yakin, ketika IHSG turun, suatu hari nanti akan kembali naik, bahkan kenaikannya lebih tinggi dari IHSG sebelumnya. Buktinya, posisi IHSG saat ini jauh lebih tinggi dari sebelum krisis 1998 dan 2008.

Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) investor adalah menemukan emiten berkinerja baik dan bertumbuh namun harga sahamnya murah, lepas dari kondisi pasar tengah naik atau turun. “Saya membeli saham dalam kondisi saya tidak tahu pasar akan naik atau turun,” ujar Lo, yang mendapat julukan Warren Buffett Indonesia itu.

PR untuk menemukan dan berinvestasi di saham-saham bagus berharga murah sejatinya menjadi kepentingan setiap investor, bukan cuma Lo.

Repotnya, ketika IHSG berada dalam tekanan seperti saat ini, banyak saham yang harganya sudah terbanting namun tidak semua memiliki fundamental bisnis bagus dan kinerja terus bertumbuh.

Setiap orang tentu punya cara pandang yang berbeda-beda soal bagus tidaknya sebuah saham. Tabloid KONTAN mencoba menyodorkan beberapa saham pilihan dengan fundamental bagus dan berharga murah. Sudah pasti, pilihan investasi tetap di tangan Anda.
• Consumer goods

Selama ini sektor consumer goods dianggap sebagai salah satu tembok pertahanan terbaik di bursa saham. Sifat defensif ini berkat sokongan konsumsi domestik yang tinggi.

Namun, daya beli masyarakat kini sudah banyak tergerus.  Buktinya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dibuat berdasar survei Bank Indonesia. Pada empat bulan pertama 2015, meski masih di atas level 100, IKK terus merosot. Per April, IKK hanya 107,4 turun 9,5 poin ketimbang Maret 2015.

Faktor lainnya, bahan baku impor, seperti gandum yang menjadi komponen utama banyak produk konsumsi, harus ditebus lebih mahal akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat kinerja sebagian emiten barang konsumsi di bursa saham di kuartal I–2015 tak sejalan dengan ekspektasi para analis.

Nama-nama besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami penurunan laba bersih yang cukup signifikan, masing-masing 37% (year-on-year/yoy) dan 9,5%. Namun emiten primadona lainnya, seperti UNVR dan ROTI memperlihatkan kinerja yang kinclong. Misalnya, laba bersih ROTI yang naik 9,6% menjadi Rp 67,12 miliar.

Steven Satya Yudha, Associate Director Marketing and Distribution Ashmore Asset Management Indonesia, tak terlalu tertarik dengan sektor defensif macam consumer goods. Salah satu alasannya, kebijakan pencabutan subsidi meski bagus untuk sektor infrastruktur, tapi tidak mendukung sektor konsumsi.

Namun, Harry Su, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menilai, sektor barang konsumsi masih punya potensi pertumbuhan yang bagus di masa depan. Jika disimak, konsumsi rumahtangga memang masih jadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Bermodal jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, posisinya juga belum akan tergantikan dalam tempo beberapa tahun mendatang.

Harry merekomendasikan beberapa saham yang bisa dicermati, di antaranya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan target harga 2015 di Rp  48.500 per saham. Reza Nugraha, analis MNC Securities, merekomendasikan posisi beli UNVR di Rp 44.900 per saham.

Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat juga merekomendasikan saham UNVR. Rekomendasi posisi masuk ke saham ini secara teknikal di 40.000–41.000. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5), UNVR ditutup turun 3,93% ke Rp 43.400 per saham.

Mandiri juga merekomendasikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 16.800 per saham. Pintu masuk ke saham ICBP bisa di 13.000–13.300. Sementara Harry memproyeksikan target harga di Rp 18.200 per saham. Pada perdagangan Kamis, ICBP naik 1,65% ke Rp 13.900 per saham.

Sementara Henan Putihrai Sekuritas menjagokan saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dengan target harga Rp 1.600 per saham. Nah, jika ingin mengoleksi saham perusahaan roti massal terbesar di Indonesia ini, analis Henan Putihrai, Boy Ariandi, menyarankan posisi beli di 1.160–1.140.

Bahana Sekuritas merekomendasikan target harga Rp 1.750 per saham. Posisi beli, kata Reza, disarankan di Rp 1.300 per saham. Kamis, selembar saham ROTI ditutup turun 1,28% di Rp 1.155 per saham.
• Perbankan

Kinerja emiten sektor perbankan di kuartal I–2015 memang tidak menggembirakan. Pertumbuhan laba bersih rata-rata perbankan lebih lambat ketimbang sebelumnya, hanya satu digit. Ambil contoh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang labanya cuma naik 3,52% menjadi Rp 6,14 triliun  dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang untung bersihnya cuma naik 4,34% jadi Rp 5,13 triliun.

Namun, Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menilai perbankan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih jika ada perbaikan ekonomi. “Ketika kembali ke bursa saham lokal, para investor asing biasa melihat sektor bank dulu,” kata Tommy, sapaan akrabnya.

Dari jajaran bank kelas menengah,  Irwan Ariston Napitupulu menyebut PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) layak dicermati. Di kuartal I–2015, laba BBTN naik 18% menjadi Rp 402 miliar.

Nah, investor saham kawakan ini menilai, target pertumbuhan laba bersih BBTN 40% sepanjang tahun ini bisa tercapai. Salah satunya lewat program satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. “Harga Rp 1.500 per saham–Rp 2.000 per saham di akhir tahun enggak sulit tercapai,” katanya. Kamis, harga BBTN turun 0,45% ke Rp 1.110 per saham.

Sementara Muhammad Al Fatih, analis Samuel Sekuritas, menyebut saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Secara teknikal, level support  kuat BMRI ada di 10.950. Sementara resistance di 11.775. “Harga ideal untuk membeli saham berada pada level 10.700–10.900,” kata Al Fatih. Pada perdagangan 7 Mei, saham BMRI turun 2,97% ke 11,175.

Analis Danpac Sekuritas Teuku Hendry Andrean mematok target harga BMRI di Rp 13.600 per saham. Cuma, ia tidak merekomendasikan level harga yang bisa menjadi titik masuk bagi investor. “Tren akan terus cenderung menurun, sehingga ketika melakukan akumulasi harus hati-hati karena sangat rawan,” terangnya.

Untuk masuk ke saham perbankan, investor sebaiknya memang berhati-hati.

Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, mengingatkan, jika The Federal Reserve (The Fed) jadi menaikkan suku bunga, saham-saham perbankan bisa mengalami koreksi signifikan. “Tunggu sampai tanggal 21 Mei saat Amerika kasih keputusan,” ujar Toga.
• Jasa konstruksi

Pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ekspektasi investor terhadap emiten jasa konstruksi melambung, terutama sejak anggaran subsidi dialihkan untuk pembangunan infrastruktur. Namun kenyataannya, pengerjaan proyek-proyek infrastruktur tidak berjalan cepat. Saat ini, sekitar 80% kontrak proyek sudah diteken, namun banyak di antaranya yang masih terkendala masalah pembebasan lahan.

Tak aneh jika harapan tinggi investor tidak sejalan dengan hasil kinerja emiten jasa konstruksi, terutama pelat merah pada kuartal I–2015.

Laba bersih PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) longsor 63,2% (yoy) jadi tinggal Rp 61,5 miliar. Sementara untung bersih PT Adhi Karya Tbk (ADHI) anjlok 34,5% menjadi Rp 10,6 miliar. Hanya saja, dalam tempo yang sama, laba bersih PT PP Tbk (PTPP)  justru melonjak 52% menjadi  Rp 93,6 miliar.

Kini, investor tengah menanti apakah proyek-proyek infrastruktur pemerintah bisa segera berjalan pada kuartal II. Soalnya, kalau proyek infrastruktur baru akan digelar mulai kuartal III, dikuatirkan anggaran yang sedemikian besar, mencapai Rp 290,3 triliun, tidak terserap sepenuhnya. “Setelah melihat kuartal I, investor jadi ragu apakah dana infrastruktur segitu bisa digunakan sebagai spending 100%,” kata Steven.

Namun Irwan sedikit lebih optimistis. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, belanja pemerintah akan menjadi trigger bagi pertumbuhan. “Arah belanjanya sudah terlihat ke infrastruktur. Perusahaan yang banyak menikmati pasti BUMN,” kata Irwan.

Jika sesuai rencana, ada harapan saham-saham di sektor jasa konstruksi bakal segera kembali melambung. Toga Yasin Panjaitan, analis Bumiputera Sekuritas, merekomendasikan posisi beli ADHI di 2.750–2.815. Berdasar data Bloomberg, analis Danareksa Joko Soegi merekomendasikan target harga ADHI di Rp 3.700 per saham. Perdagangan Kamis, saham ADHI naik 0,89% ke Rp 2.825 per saham.

Sementara, analis teknikal Sucorinvest Central Gani, Achmad Yaki, menyarankan buy on weakness WSKT di 1.305–1.875. Ia mematok target harga WSKT di 2.100. Kamis (7/5) WSKT ditutup di Rp 1.775 per saham.

Untuk emiten swasta, analis Henan Putihrai, Johanes, merekomendasikan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) dengan target harga 12 bulan di Rp 1.600  per saham. Kontrak baru yang dikantongi NRCA pada kuartal I 2015 mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara sepanjang tahun ini target kontrak baru mereka Rp 4,1 triliun. “NRCA speculative buying jika di atas harga Rp 1.045 per saham,” tambah Boy. Pada 7 Mei lalu NRCA ditutup naik 2,90% ke Rp 1.065 per saham.

Mau ikutan koleksi?

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/
http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Advertisements

Indofood Bagi Dividen Rp220/Saham

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2014 senilai Rp220 per saham atau sekitar Rp1,94 triliun.

Presiden Direktur INDF, Anthoni Salim, kepada pers di Jakarta, Jumat (8/5), mengatakan pembagian dividen ini merupakan 50% dari raihan laba bersih sepanjang 2014 lalu senilai Rp3,88 triliun.

“Pembayaran dividen akan dilakukan pada 11 Juni 2015 mendatang,” katanya. Read the rest of this entry

Harga Saham PGAS Terjun -33,7 Persen, Ini Kata Analis

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (kode saham PGAS) membukukan laba bersih Rp109 miliar atau turun -38,1% (YoY) per akhir triwulan pertama 2015 (1Q15). Penurunan laba ini karena harga jual gas yang melemah kepada PT PLN (persero).

Volume distribusi gas turun menjadi 796 mmscfd atau drop -9,1% (YoY) dan -9,8% (QoQ) karena faktor perlambatan ekonomi yang merupakan akibat dari demand terhadap suplai listrik yang melemah.

Hal itu diperburuk, penaikan tarif listrik sekitar 30%-40% yang terjadi pada akhir tahun 2014 seiring usaha pemerintah mengurangi subsidi. Demand terhadap energi listrik hanya tumbuh 2,5% (YoY) pada 1Q15, relatif melemah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 7,6% (Yoy). Sebagai akibatnya laba PGN lebih rendah dibandingkan estimasi para analis.

Konsolidasi Distribusi
Dengan tujuan lebih tangguh terhadap standar akuntansi yang baru, PGN telah melakukan dekonsolidasi 60% sahamnya di anak usaha, Transportasi Gas Indonesia (TGI) mulai 1 Januari 2015. Ini telah berdampak terhadap laporan rugi laba perseroan.

“Kami telah mengubah perkiraan laba PGN guna mereflesikan implementasi tersebut tetapi perubahan perlakuan standar akuntansi akan berdampak netral terhadap fundamental perseroan,” demikian riset analis PT Indo Premier Securities Chandra Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan pekan kemarin.

Laba Turun
Laba [PGAS 4,045 65 (+1,6%)] diperkirakan turun -29,6% pada tahun ini dan -23,8% pada tahun 2016. Hal ini merupakan cermin dari pertama: turunnya volume distribusi. Kedua de-konsolidasi TGI dan ketiga: biaya pengembangan aset migas di sektor hulu yang disertai penurunan pendapatan menjelang tahun 2016-2017.

Menurut Chandra, penurunan asumsi volume distribusi 11,9% di tahun 2015 dan 15,3% pada 2016 untuk menggambarkan demand terhadap listrik yang melemah. Namun demikian marjin distribusi tetap di sekitar US$3,5 per MMBTU.

Upgrade ke Buy
Pelemahan kinerja tersebut sudah dicerminkan pada harga pasar saham PGAS saat ini yang sudah terkoreksi -33,7% (ytd) versus IHSG yang turun -1,5%. Sentimen pelemahan harga dari hasil operasional perseroan yang melemah dan kedua faktor harga minyak yang turun sehingga mempengaruhi prospek aset migas di sektor hulu.

Meski begitu, Chandra mengubah pendapat secara positif terhadap saham PGAS meskipun perseroan menghadapi kendala saat ini. Prospek positif tersebut seiring perkiraan demand terhadap listrik pada 2016 sebagai dampak kebijakan fiskal dan moneter yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan.

Selain itu harga minyak juga akan meningkat sehingga akan membantu pemulihan revenue PGAS dan valuasi aset migas di sektor hulu.

“Secara keseluruhan kami yakin fundamental PGAS tetap solid tetapi perseroan memang menghadapi ketidakpastian akibat perlambatan ekonomi,” tambahnya. Ia merekomendasikan buy saham PGAS dari sebelumnya hold dengan target harga (TP) Rp5000 per saham.  (mk)

Read the rest of this entry

Pasar Saham Sempat Jeblok, Begini Cara Atur Investasinya

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date (ytd) mencatatkan pertumbuhan minus.

Dalam periode 30 Desember 2014 hingga 30 April 2015, IHSG sudah turun 2,69%. Lantas, bagaimana mengatur portofolio investasi saat pasar dalam kondisi seperti ini?

Head of Corsec & Business Support Mandiri Investasi Mauldy R Makmur mengatakan, adalah hal yang wajar apabila market berfluktuasi. Yang perlu diperhatikan, bagaimana agar portofolio investasi saat ini, tidak rugi terlalu dalam.
Read the rest of this entry

Ini Daftar Laba 41 Emiten Bluechips LQ-45

Laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ-45 pada kuartal I/2015 jeblok alias turun 5,15% dengan pendapatan hanya tumbuh 2,57% pada periode yang sama. Simak daftar lengkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sebanyak 41 emiten LQ-45 telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I/2015.

Sedangkan, empat emiten yang belum merilis kinerja adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Excel Axiata Tbk. (EXCL), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).

Dari 41 emiten tersebut, sebanyak 40 emiten membukukan laba bersih dengan total Rp42,64 triliun pada periode Januari-Maret 2015, dibandingkan dengan tahun lalu Rp44,96 triliun. Read the rest of this entry

Ekonomi lambat, kinerja Grup Lippo justru melesat

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, grup Lippo masih mampu mencatatkan kinerja yang cukup positif meski ekonomi domestik mengalami perlambatan. Lihat saja, laporan keuangan sektor properti dan bisnis ritel grup milik keluarga James Riady masih mampu menuai pertumbuhan.

Dari sektor properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) [1,185 -25 (-2,1%)] memperlihatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 23% secara year on year (yoy) menjadi Rp 417,36 miliar. Ini seiring dengan kenaikan pendapatan sebesar 22,5% menjadi Rp 2,44 triliun dari Rp 1,99 triliun pada kuartal I 2014.

Kontribusi terbesar pendapatan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] bersumber dari pendapatan berulang atau recurring income yakni mencapai 53% atau sebesar Rp 1,28 triliun. Pendapatan ini tumbuh 21% yoy.

Hampir seluruh lini bisnis LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] mengalami pertumbuhan. Divisi residential dan urban development menyumbang Rp 1,16 triliun terhadap pendapatan atau tumbuh 22% yang terdiri dari unit usaha township Rp 705 miliar dan unit usaha scale integrated development Rp 455 miliar. Divisi bisnis healthcare menyumbang kontribusi Rp 976 miliar atau naik 30% secara yoy dan asset management tumbuh 7% atau menyumbang Rp 177 miliar.

Hanya saja, pendapatan dari divisi komersial yang terdiri dari mall ritel, hotel dan township management melorot 7% menjadi Rp 135 miliar. Ini lantaran pendapatan sewa menurun setelah Lippo Kemang Mall dijual.

Adapun dari sektor ritel, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) [17,500 500 (+2,9%)] mencatatkan pertumbuhan laba bersih 50,3% secaya yoy menjadi Rp 185 miliar meskipun pendapatanya hanya naik tipis 9,4% menjadi Rp 1,61 triliun. Laba perusahaan ini tersokong setelah beban keuangannya turun menjadi Rp 19,2 miliar dari sebelumnya Rp 57,5 miliar dan beban pajak penghasilan turun dari Rp 66,6 miliar ke Rp 55,5 miliar.

Analis BNI securities, Thendra Chrisnanda mengatakan kinerja grup lippo masih terjaga di tengah perlambatan bisnis konglomerasi lainnya lantaran memiliki lini bisnis yang memiliki prospek cukup baik terutama dari bisnis health care, lahan industri dan bisnis ritel. “Lippo tumbuh karena bisnis mereka terdiversifikasi dengan baik sekali,” kata Thendra pada KONTAN, Kamis (30/4).

Meskipun sektor properti mengalami perlambatan sepanjang kuartal I seiring dengan penurunan daya beli masyarakat, Thendra bilang LPCK [11,975 250 (+2,1%)] dan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] masih tumbuh karena menerapkan strategi aliansi dengan baik yakni menjual properti ke investor strategis, seperti Jepang, yang memiliki daya beli tinggi.

Thendra memandang prospek bisnis grup Lippo masih cukup positif tahun ini. Menurutnya, sektor utama yang akan menjadi tumpuan Lippo tahun ini adalah health care yakni dengan pertumbuhan usaha SILO [14,200 225 (+1,6%)] dan bisnis properti.

Kendati demikian, Lippo masih harus menghadapai tantangan yakni kepastian penerapan PPnBM untuk properti dan perlambatan daya beli masyarakat. Menurut Thendra, jika hunian di atas Rp 2 miliar akan dikenakan pajak mewah maka dampaknya akan sangat besar terhadap Lippo karena LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] maupun LPCK [11,975 250 (+2,1%)] bermain di segmen properti menengah ke atas.

Sedangkan di bisnis ritel, kebutuhan bahan pokok masih memang masih tetap besar meskipun daya beli masyarakat turun. Hanya saja, kata Thendra, Lippo tidak mengerek pertumbuhan margin dari potensi kenaikan harga produk. “Selama ini keuntungan mereka banyak dengan menaikkan harga produk. Kalau daya beli turun mereka akan susah menaikkan harga,” jelas Thendra.

Di grup ini, Thendra merekomendasikan buy untuk LPCK [11,975 250 (+2,1%)] dan SILO [14,200 225 (+1,6%)] dengan target harga masing Rp 13.800 dan Rp 15.400. Sedangkan LPKR [1,185 -25 (-2,1%)] direkomendasikan hold dengan target Rp 1.225. Read the rest of this entry