Surplus dagang yang justru bikin waswas

Neraca dagang Indonesia memang surplus besar pada mei 2015. Tapi, surplus kali ini justru memberi rasa waswas karena menunjukkan kelesuan ekonomi dan industri di Tanah Air.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang bulan Mei mencatatkan surplus sebanyak US$ 955 juta. Bahkan, jika dihitung sejak awal tahun hingga Mei 2015, neraca dagang Indonesia surplus hingga US$ 3,75 miliar.

Namun, bila ditelisik lebih dalam, laju impor turun lebih dalam ketimbang ekspor, menjadi penyebab  terjadinya surplus neraca dagang kali ini.  Secara tahunan, impor kita  terkoreksi  cukup dalam, yakni 21,4% year on year menjadi US$ 11,61 miliar. Sementara nilai ekspor sekitar US$ 12,56 miliar, turun 15,24% ketimbang Mei 2014.

Torehan angka ini pula menjadi bukti bahwa ekonomi kita memang tengah berkontraksi. Apalagi, penurunan impor terjadi di sektor non migas, utamanya impor bahan baku industri. Sepanjang Januari hingga Mei,  impor non migas turun 17,9%.  “Penurunan impor non migas ini menjadi penting karena komponen ini jadi penentu pertumbuhan ekonomi,” tandas Kepala BPS Suryamin, kemarin (15/6).

Sebut saja, impor besi dan baja yang pada Mei 2014 mencapai US$ 681,3 juta kini hanya menyisakan US$ 392,2 juta pada Mei 2015.  Penurunan signifikan juga terjadi di impor mesin dan peralatan mekanik sebesar 23,6% menjadi US$ 1,57 miliar. Adapun, industri mesin dan peralatan listrik turun 13,9% dari US$ 1,4 miliar ke US$ 1,21 miliar.

Dari klasifikasi impor, semua laju impor baik impor bahan baku atau bahan penolong, barang modal dan barang konsumsi turun. Impor barang modal menurun 14,6% menjadi US$ 10,47 miliar pada lima bulan pertama tahun ini. “Jika tidak diantisipasi oleh produk dalam negeri, ini  berdampak pada laju investasi,” tandas Suryamin, Senin (15/6).

BPS mengingatkan agar pemerintah segera mencari produk ekspor alternatif agar kinerja ekspor naik.

Saran  BPS, pemerintah harus  genjot ekspor kopi yang tumbuh gemilang 40,31% sejak awal tahun. “Ekspor harus didorong agar surplus neraca kembali sehat,” Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro bilang, impor barang modal bisa jadi karena pengusaha mencari dari pasar lokal. Makanya, ia tetap optimis di semester kedua, impor barang modal akan naik sehingga perekonomian akan tumbuh. Penggerak pertumbuhan ekonomi di akhir tahun berasal dari investasi, belanja pemerintah, dan perbaikan daya beli masyarakat. “Kami harapkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I kemarin itu adalah titik terendah atau the bottom, setelah itu akan perlahan naik,” tutur Bambang.

Namun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Natsir Mansyur ragu pengusaha mencari bahan baku tembaga, besi, baja dan aluminium ke pasar lokal. Sebab produksi lokal masih minim sehingga belum bisa menggantikan produk impor. Jika produk lokal bisa menggantikan impor, itu memang salah satu strategi pengusaha (lihat analisis)

Alhasil Natsir melihat, pertumbuhan ekonomi masih akan melambat pada semester II tahun ini. Para pengusaha masih akan mengerem impor. Selain daya beli belum pulih,  nilai tukar rupiah juga masih terus melemah sehingga menambah biaya impor.

Sumber : kontan.co.id

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Posted on June 16, 2015, in Ekonomi Dan Investasi and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: