Monthly Archives: July 2015

Antam Ciputra Terlempar, Ini Daftar Saham LQ-45 Agustus 2015-2016

PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan daftar baru anggota 45 saham paling likuid dalam Indeks LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016. Dua emiten terlempar dan dua lainnya masuk sebagai anggota baru.

Eko Siswanto, Kepala Divisi Operasional Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengatakan perubahan Indeks LQ45 berlaku untuk periode perdagangan Agustus 2015 sampai Januari 2016.

Dua emiten yang terlempar dari Indeks LQ45 yakni PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) [525 -5 (-0,9%)] dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) [1,070 -85 (-7,4%)]. Adapun, dua anggota baru indeks bergengsi ini adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) [455 5 (+1,1%)] dan PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) [1,020 -5 (-0,5%)].

Berikut daftar lengkap saham LQ-45 periode Agustus 2015-Januari 2016:

Read the rest of this entry

Advertisements

Laba Bersih BTN Melonjak 54,25% Jadi Rp831 Miliar

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) hingga semester I-2015 membukukan laba bersih mencapai Rp831 miliar atau melonjak 54,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp539 miliar.

Direktur Utama BBTN Maryono kepeda pers pers, Jakarta, Senin (27/7) mengatakan pertumbuhan laba yang sangat agresif tersebut ditopang perolehan Net Interest Income (NII) sebesar Rp3,18 triliun, naik 19,06% dari periode yang sama 2014 senilai Rp2,67 triliun.

“Laba semester I-2015 tumbuh tinggi, karena kami memiliki target sampai‎ dengan akhir tahun diatas 40%,” katanya.
Read the rest of this entry

Ellen May: Beruangnya benar-benar Mengamuk!

SSEC, Indeks Komposit Shanghai China rontok -8.5 %, tepat di area suport kuatnya. Hal ini terjadi karena perlambatan perekonomian di China, di mana laba industri di China merosot apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Indeks Dow Jones ditutup di level 17,440.59 melemah 127.94 poin (-0.73%). EIDO ditutup di level 22.02 melemah 0.54 poin (-2.39%)

Sementara itu, bursa lokal kita kemarin juga mengalami koreksi yang cukup tajam dan menjebol pertahanan pada monthly chart, merespons crash di China. Indeks Harga Saham Gabungan 27 Juli 2015 ditutup di level 4,771.29 melemah 85.31 poin (-1.76%).

Hari ini IHSG masih berpotensi melemah menguji area suport berikutnya sekitar 4.584, bahkan potensi menguji suport 4.000 dalam jangka menengah. Read the rest of this entry

Investasi Ini Paling Tepat Ketika Perekomian Anjlok

Perekonomian Indonesia hingga kini masih mencatatkan pelemahan, bahkan banyak yang meramalkan tren lesunya perekonomian ini diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun.

Lalu apakah masih tepat jika memulai investasi di saat keadaan perekonomian sedang melemah.

Menurut Perencana Keuangan dari MRE Financial & Business Advisory Andy Nugroho, justru ada beberapa jenis investasi yang tepat diambil saat ini, seperti reksa dana saham.

Anjloknya keadaan ekonomi tentu berimbas langsung terhadap kinerja seluruh jenis perusahaan yang ada. Hal itu tentunya membuat nilai saham emiten yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) menurun.

Alhasih Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut merosot. Belum lagi pengaruh anjloknya nilai mata uang Rupiah. Read the rest of this entry

Tahun Keberuntungan bagi WIKA

Pemerintah RI menyatakan bahwa kondisi fiskal pada semester I 2015 telah berjalan dengan baik dan optimis bahwa pada semester II tahun ini pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi didorong oleh peningkatan penerimaan, pengerjaan proyek dan kenaikan pada investasi.

Menteri Keuangan RI memperikirakan penerimaan negara pada 1H15 mencapai 40% dari APBN-P 2015, sementara untuk belanja telah mendekati 39% dari APBN-P.

Penerimaan negara ditargetkan mencapai Rp1.761,6 triliun, terutama dari pajak sebesar Rp1.489,3 triliun, disusul oleh penerimaan negara bukan pajak sejumlah Rp269,1 triliun dan hibah Rp3,3 triliun.

Sementara target belanja negara mencapai IDR1.984,1 triliun dengan target defisit anggaran antara 1.9% – 2,2% dari PDB 2015. Read the rest of this entry

China Bisa Jerumuskan Dunia Ke Dalam Resesi: Morgan Stanley

Bukan hanya sepatu, barang elektonik, mainan, dan berbagai produk lain yang diekspor China ke seluruh dunia. China juga akan segera mengekspor resesi ke dunia.

Prediksi tersebut diungkapkan Ruchir Sharma, kepala emerging market Morgan Stanley Investment Management yang memperkirakan bahwa perlambatan China tahun depan bisa menyeret pertumbuhan ekonomi global ke bawah 2 persen. Ia menilai kondisi tersebut akan setara dengan resesi dunia. Sekaligus akan menjadi kemerosotan global yang pertama dalam 50 tahun terakhir, tanpa dibarengi dengan kontraksi ekonomi AS.

“Resesi global selanjutnya akan dibuat oleh China,” kata Sharma, dalam wawancara dengan Bloomberg (14/7). “Hingga beberapa tahun ke depan, China cenderung menjadi sumber terbesar kerentanan ekonomi global,” imbuhnya.

Meskipun pertumbuhan China menurun, pengaruh negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu terus meningkat. Menurut Morgan Stanley, tahun lalu China berperan terhadap pertumbuhan global sebesar 38 persen, tahun lalu. Naik dari 23 persen pada 2010. China adalah importir terbesar tembaga, alumunium dan serat katun, serta mitra dagang terbesar beberapa negara, mulai Brazil hingga Afrika Selatan.

Pekan lalu IMF memangkas prediksi pertumbuhan global tahun ini menjadi 3,3 persen, lebih rendah dari prediksi April lalu sebesar 3,5 persen. IMF menuding lemahnya perekonomian AS sebagai penyebab utama penurunan pertumbuhan global. Namun IMF tetap mempertahankan prediksi pertumbuhan China sebesar 6,8 persen, terendah sejak 1990. Disebutkan bahwa “kesulitan yang lebih besar” dalam transisi negara itu ke model pertumbuhan yang baru beresiko bagi pemulihan global.

Sharma berpendapat, perekonomian China akan terus melambat sejalan dengan upaya untuk mengurangi utang. Tambahan pelemahan sebesar 2 persen sudah cukup untuk menjerumuskan dunia ke dalam resesi.

Ekspansi global, yang diukur berdasarkan pasar valuta asing, sudah tergelincir ke bawah 2 persen dalam lima periode berbeda selama 50 tahun lalu, terakhir pada 2008-2009. Semua resesi dunia yang terjadi, selama ini berkaitan dengan kontraksi ekonomi AS.

“Untuk beberapa tahun ke depan, China kemungkinan akan menjadi sumber terbesar kerentanan ekonomi dunia,” ujar Sharma yakin.

Selama beberapa pekan terakhir pasar saham China telah menggulung dana investor global senilai US$6,8 triliun setelah mengalami reli bertahun-tahun yang berkaitan dengan rekor pinjaman dan peningkatan valuasi yang berakhir di pasar yang bearish.

Indeks Shanghai Composite amblas lebih dari 30 persen dalam empat pekan hingga 8 Juni, menghapuskan sekitar US$4 triliun nilai pasar. Intervensi pemerintah China, yang di luar dugaan, digunakan untuk memperkuat kembali pasar, gagal menumbuhkan kepercayaan hingga pekan lalu. Gejolak pasar mereda setelah regulator melarang pemilik saham besar untuk menjual saham selama enam bulan dan mengizinkan lebih dari separuh perusahaan untuk menghentikan perdagangan sahamnya.

Sharma mengatakan, kejatuhan pasar saham China menggoyang kepercayaan sejumlah investor yang sudah berlangsung lama bahwa otoritas China mempunyai cengkeraman yang kuat terhadap perekonomian dan pasar, dan pemerintah selalu mampu untuk mencapai sasarannya.

“Apa yang terjadi di China pekan lalu sangatlah signifikan untuk pertama kalinya, kita telah mendapatkan sinyal bahwa sesuatu sudah terjadi di luar kontrol,” kata Sharma. “Kerusakan kepercayaan akan berlangsung untuk beberapa lama.” Read the rest of this entry

Kegagalan Yunani Mengenali Populisme Semu

“Two opposite towards the Greeks are common at the present day. One, as the inventors all that is best, and as men of superhuman genius whom the moderns cannot hope to equal. The other attitude… maintains that most of their contributions of thought are now best forgotten.”

Kalimat di atas bukanlah dikutip dari sumber media massa saat ini, di mana bangsa Yunani pada Minggu (5/7/2015) berbondong-bondong menuju bilik suara untuk berpartisipasi dalam referendum yang akan menentukan nasib negara akar filsafat Barat itu ke depan.

Namun, kalimat yang ditulis dalam buku “History of Western Philosophy” oleh Bertrand Russel pasca-Perang Dunia II itu dinilai masih terasa relevan dengan kondisi perekonomian Yunani yang karut marut seperti sekarang ini.

Sebagaimana telah banyak diulas di berbagai pemberitaan, negara dengan populasi sekitar 11 juta orang itu harus memilih antara “Ya” guna mengikuti aturan pengetatan anggaran yang diajukan Uni Eropa, atau “Tidak”.

Mengapa aturan pengetatan anggaran yang diajukan Uni Eropa menjadi penting? Hal itu karena kondisi Yunani sekarang telah bangkrut akibat selama bertahun-tahun hidup dengan anggaran yang berbasis utang dari luar negeri.

Kantor berita AFP memberitakan, di Yunani sendiri suara masyarakat juga terpecah secara tajam menjadi dua belah pihak, antara yang memilih Ya (menyetujui syarat Uni Eropa), dengan yang memilih Tidak (dengan konsekuensi Yunani dapat keluar dari Uni Eropa).

Seorang pengusaha jam tangan, Nikos Vichos (62) memutuskan memilih Ya karena kepemimpinan pemerintahan Yunani saat ini yang menolak renegosiasi pemberian bantuan dari Uni Eropa membuat kondisi bisnis menjadi tidak pasti dan dirinya telah memotong gaji para pekerjanya agar bisnisnya bisa bertahan.

Sedangkan seorang pengangguran, Yanis (29) menyatakan memilih Tidak karena menilai hanya itulah satu-satunya cara agar Yunani terbebas dari krisis ekonomi yang telah melanda negara tersebut selama enam tahun terakhir. “Solusinya berada di luar Uni Eropa dan (mata uang) euro,” katanya sebagaimana dikutip AFP.

Berbeda dengan Yanis, seorang pensiunan Giorgos Trentsios (66) mengemukakan bahwa bila Yunani ke luar dari euro dan kembali ke drachma (mata uang lama Yunani), maka kondisinya akan semakin memburuk. “Saya tidak mau masa depan cucu saya hancur. Mereka punya hak untuk hidup secara normal,” katanya.

Namun senada dengan Yanis, seorang guru Corina Iliadou (50) mengatakan memilih Tidak antara lain karena untuk kebanggaan nasional.

Populisme Kebanggaan nasional merupakan salah satu retorika yang digunakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras saat ini, yang berasal dari partai Syriza yang berhaluan populisme kiri ekstrem.

Populisme itu sendiri dapat diartikan sebagai doktrin politik yang menekankan kepada kepentingan rakyat kebanyakan tetapi rata-rata hanya menawarkan orasi retorika belaka atau mengajukan proposal yang tidak realistis.

Sebagai sebuah partai ekstrem kiri yang populis, Syriza memiliki landasan program yang mengedepankan “rakyat” dalam retorika mereka serta kampanye yang menitikberatkan kepada “Kita/rakyat melawan mereka/kaum mapan”.

Namun, retorika seperti “kebanggaan nasional” dan “semua untuk rakyat” yang kerap digunakan para politisi populis tidak hanya terbatas pada kiri ekstrem, tetapi juga partai kanan ekstrem populis di Yunani seperti partai Fajar Keemasan (“Golden Dawn”).

Sebagai partai ekstrem kanan yang populis, “Golden Dawn” mengajukan usulan untuk menganeksasi kawasan di Albania dan Turki, termasuk kota Istanbul dan Izmir yang saat ini berada di dalam kedaulatan Turki, karena secara historis kota itu dahulunya berada di bawah kekuasaan Yunani.

Dalam hal referendum untuk setuju atau tidak sepakat dengan pengajuan persyaratan pengetatan anggaran Yunani yang diajukan Uni Eropa, baik Styriza maupun “Golden Dawn” sama-sama memainkan kartu populisme dengan mengedepankan bahwa Uni Eropa adalah sang kolonialis atau teroris (seperti diucapkan Menkeu Yunani Yanis Varoufakis).

Mereka mengambil alih ketakutan dari masyarakat Yunani bahwa dengan menyetujui persyaratan pengetatan anggaran, Yunani akan semakin menderita di bawah tekanan Uni Eropa. Mereka seakan-akan lupa bahwa Yunani selama beberapa tahun terakhir praktis hidup berdasarkan dana talangan yang diberikan oleh Uni Eropa.

Sosok utama yang mengemuka di tengah populisme semu yang merebak di Yunani saat ini tidak lain adalah sang Perdana Menteri, Alexis Tsipras.

Sebagaimana dikutip dari kantor berita AFP, lima bulan setelah menjadi kepala pemerintahan, Alexis Tsipras kerap membuat berbagai pihak baik di Yunani maupun di seluruh Eropa bertanya-tanya.

Tsipras dinilai sebagai seorang pakar strategi dalam memainkan gertakan kepada kreditor Yunani dengan memberikan kata akhir kepada rakyat melalui referendum. Namun yang lain menilainya berbeda.

Tsipras membantah bahwa dirinya sedang memainkan tarik ulur terhadap masa depan Yunani, dan menegaskan bahwa kemenangan “Tidak” dalam referendum akan memperkuat Yunani dalam negosiasi dengan Eropa.

Perdana Menteri juga menyatakan bahwa pembahasan mengenai “Grexit” (keluarnya Yunani dari Uni Eropa) hanyalah permainan menakuti-nakuti yang digunakan lawannya.

Menurut AFP, Tsipras telah menjadi sosok pemberontak sejak dahulu. Pada usia 17 tahun dia memimpin aksi demonstrasi untuk memperjuangkan hak murid agar memutuskan sendiri apakah mereka memilih masuk ke kelas atau membolos.

Hingga 23 tahun kemudian, Tsipras juga masih memegang teguh pergolakan dalam dirinya dan menyatakan kepada masyarakat Yunani untuk memilih Tidak karena, “Rakyat harus memutuskan bebas dari segala macam ancaman”.

Apapun idealisme yang dipegang oleh Tsipras, kepemimpinannya yang menekankan kepada kebanggaan rakyat Yunani juga telah mengakibatkan kepanikan yang terindikasi dengan banyaknya orang yang menyerbu ATM untuk mengambil uang tunai mereka dari bank.

Menkeu Yanis Varoufakis menyatakan bahwa pemerintahan pimpinan Tsipras akan mengundurkan diri bila yang menang adalah kelompok “Ya” Indonesia Indonesia sendiri dinilai tidak akan bernasib sama seperti Yunani yang saat ini mengalami kebangkrutan dan mendapatkan status “default” atau gagal bayar utang dari berbagai lembaga keuangan multilateral seperti IMF, kata Staf Khusus Kementerian Keuangan Arif Budimanta.

“Indonesia tak akan bangkrut seperti Yunani,” kata Arif Budimanta dalam diskusi yang digelar Humas MPR sebagaimana disampaikan dalam rilis MPR RI yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/7).

Arif yang merupakan mantan anggota MPR/DPR dari Fraksi PDIP itu membandingkan utang Yunani yang sudah mencapai 200 persen lebih, sedang utang Indonesia masih 25 persen.

Selain itu, ujar dia, defisit fiskal Yunani mencapai 60 persen, sedang Indonesia kurang dari 1,9 persen. “Dari sisi pertumbuhan ekonomi kita positif sedang Yunani negatif,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengajak berbagai pihak untuk optimistis dan tidak perlu ada ketakutan apalagi kebijakan pemerintah selama ini diakui pro-rakyat.

Arif mengemukakan, hal tersebut dapat dilihat antara lain dari politik anggaran yang berpihak pada pembangunan desa. Anggaran desa naik dari Rp9,7 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp21 triliun pada tahun ini.

Sebelumnya, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono menuturkan Indonesia kini masih jauh dari krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada 1998 akibat melemahnya mata uang rupiah.

“Kalau dilihat angka sepertinya sudah dekat, dulu Rp15.000 sekarang kita sudah Rp13.400. Meskipun angkanya mirip, tetapi situasinya sangat berbeda,” ujar dia di Jakarta, Kamis (2/7).

Pada 1998, kata dia, inflasi mencapai 78 persen karena rupiah melemah sehingga orang-orang berlomba menarik dana dari perbankan dalam bentuk tunai dan BI mencetak uang dalam jumlah besar.

Sedangkan sekarang, Tony mengatakan inflasi “year on year” sebesar 7,15 persen, jauh dibanding pada 1998.

Selanjutnya, suku bunga deposito pada 1998, tutur dia, mencapai 60 hingga 70 persen sehingga bunga deposito lebih tinggi dari bunga kredit yang hanya 24 persen.

“Akibatnya terjadi ‘negatif spread’, maka bank-bank kolaps, termasuk bank-bank besar pemerintah. Sedangkan sekarang tidak ada bank yang kolaps. Jadi kondisi 1998 jauh lebih dahsyat jeleknya dibandingkan 2015,” katanya.

Sementara itu, Bank Indonesia menilai dampak krisis di Yunani terhadap kondisi perekonomian Indonesia relatif tidak besar karena selain sudah dapat diantisipasi juga disebabkan membaiknya fundamental ekonomi domestik.

“Kita lihat sebetulnya dampak Yunani ke Indonesia di saat ini tidak besar, malah Yunani yang sudah makin timbulkan risk on dan risk off dunia, ada unsur price in juga. Negara Eropa percaya kalau dampak Yunani pun dapat diantisipasi,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (1/7).

Gubernur BI juga menuturkan, pihaknya selalu mengikuti perkembangan terbaru terkait kondisi perekonomian Yunani dan pihaknya merasa prihatin dengan apa yang terjadi di negara tersebut.

Agus mengingatkan pentingnya untuk terus memantau dan memerhatikan perkembangan ekonomi dunia seperti normalisasi kebijakan The Fed, pelemahan ekonomi Tiongkok, dan kondisi ekonomi Eropa, serta dampaknya terhadap ekonomi di Tanah Air.

“Ternyata di Indonesia saat ini harus diakui fundamentalnya cukup baik dari dua tahun lalu dan inflasi juga terjaga,” kata Agus.

Meski secara fundamental perekonomian Indonesia dinilai baik, tetapi pemerintah juga harus benar-benar bisa mengantisipasi efek dari referendum Yunani, apakah hasil yang akan muncul sebagai pemenang itu kelompok “Ya” atau “Tidak”.

Namun, hal yang terpenting adalah bagaimana agar populisme semu seperti terindikasi terjadi di Yunani juga tidak lolos ke dalam kancah perpolitikan Indonesia yang baru memasuki masa reformasi pada akhir abad ke-20.

Read the rest of this entry

Yunani Bangkrut, Wall Street Masih Bisa Naik Tipis

Bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup positif, setelah perdagangan berjalan naik-turun, karena investor berharap Yunani bisa menyelesaikan pembayaran utangnya kepada International Monetary Fund (IMF).

Namun ternyata, Yunani tidak sepakat dengan krediturnya di Eropa, untuk penarikan utang baru. Alhasil, Yunani dinyatakan gagal bayar (default) terhadap uang IMF yang nilainya 1,6 miliar euro (US$ 1,8 miliar) atau sekitar Rp 22 triliun. Utang ini jatuh tempo 30 Juni 2015.

“Saya pikir, dia (Tsipras) sedikit menantang dan arogan, dan dia sudah keterlaluan. Yunani masih membuat pelaku pasar saham gugup,” jelas Analis, Kenny Polcari, dilansir dari Reuters, Rabu (1/7/2015).

Perusahaan-perusahaan di AS memiliki hubungan yang kecil dengan Yunani. Namun investor saham khawatir efek apa yang akan terjadi di Eropa, bila Yunani keluar dari Uni Eropa. Read the rest of this entry