Monthly Archives: August 2015

Analis Sarankan Buy Saham WIKA, Tapi Ini Risikonya

Laba bersih Wijaya Karya (WIKA) melambat pada periode semester pertama 2015 (1H15), hanya sebesar Rp200 miliar atau turun 28% (YoY). Begitu pula pada pos revenue, melemah 18% (YoY) menjadi sebear Rp4,8 triliun. Perlambatan tersebut bersumber dari divisi properti dan precast.

Penundaan realisasi belanja infrastruktur pemerintah juga melemahkan pendapatan anak usaha perseroan, WIKA Beton. Sedangkan kebijakan uang muka telah berpengaruh terhadap proyek properti yang dikelola WIKA Realty.

Sebagai akibatnya, “diyakini divisi konstruksi akan menjadi kunci pendapatan dan laba perseroan tahun ini,” ujar Riset Analis PT Indo Premier Securities, Natalia Sutanto dalam risetnya, Jumat. Menurutnya laba WIKA diperkirakan turun 9% di tahun 2015 dan 7% pada setahun berikutnya.

Target Kontrak
Per Juni 2015, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp10 triliun yang berarti 32% lebih tinggi dari target tahun 2015 yang direvisi sebesar Rp31 triliun (sebelumnya Rp21 triliun).

Berbasis kepemilikan proyek, kontribusi utama kontrak baru adalah proyek swasta sebesar 67 persen lalu disusul proyek pemerintah sebesar 30 persen. Perseroan optimistis kontrak baru yang dibukukan naik pada bulan-bulan selanjutnya seiring pengumuman sebagai penawar terendah bagi proyek senilai Rp4 triliun. Manajemen [WIKA 2,635 -85 (-3,1%)] juga membukukan lebih banyak kontrak baru dari proyek pemerintah dan BUMN mulai kuartal ketiga 2015 (3Q15).

Persaingan Precast
Menurut Indo Premier, jika dipelajari, ekspansi BUMN konstruksi ini ke usaha precast telah mengendurkan market share WIKA Beton (WTON).

Meskipun demikian, dengan posisinya sebagai perusahaan berkapasitas terbesar sebanyak 2,3 juta ton (10 pabrik yang berlokasi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi), [WTON 960 -55 (-5,4%)], tetap pemasok utama precast di luar Pulau Jawa. Ke depan, seiring kelanjutan inovasi untuk menciptakan produk baru precast, hal itu akan menolong perseroan mempertahankan pangsa pasarnya.

Rekomendasi
Ke depan, WIKA akan melanjutkan investasi di proyek pembangkit dan transportasi (kereta cepat Jakarta-Bandung) untuk recurring income yang berkelanjutan. WIKA sudah mengajutkan suntikan modal Rp3 triliun kepada pemerintah tahun depan yang akan menolong itu sebagai pengarah proyek untuk mendukung program pemerintah.

Indo Premier Securities mempertahankan rekomendasi Buy terhadap saham WIKA dengan target price Rp3,100 per saham yang berarti turun dari target price sebelumnya Rp3.900 per saham. Target price tersebut mencerminkan rasio P/E 21 kali di level par terhadap sektor.

Risiko terhadap rekomendasi tersebut di antaranya naiknya piutang buruk (sebagian besar dari gedung akibat penjualan yang melambat sektor properti) serta pelemahan nilai tukar rupiah (kenaikan bahan baku yang bisa menghambat marjin, terutama dari kontrak proyek swasta).

Read the rest of this entry

Advertisements

Devaluasi Yuan: Memukul Asia, Jegal Rencana The Fed

Langkah bank sentral China mendevaluasi mata uang yuan (Selasa, 11/8) mengejutkan, sekaligus menimbulkan kekesalan pada banyak kalangan.

“Jelas sekali, langkah ini mengejutkan seluruh Asia. Jika melihat mitra dagang utama China – Korea Selatan, Jepang, AS dan Jerman – persaingan ini memukul ekspor negara-negara tersebut,” ungkap Callum Henderson, kepala Riset Valuta Asing global, Standard Chartered. “China mengekspor disinflasi ke negara-negara yang menerima ekspor China. Dampaknya sangat negatif bagi mata uang Asia,” imbuhnya, seperti dikutip CNBC, (11/8).

Para pedagang berpendapat, pengumuman bank sentral China untuk mendevaluasi yuan merupakan seri terakhir dari rangkaian persaingan devaluasi di Asia dan emerging market lainnya.

Kebijakan devaluasi China, menyebabkan pergeseran dan kejatuhan parah nilai tukar mata uang Asia. Penurunan nilai tukar yuan sebesar 1,8 persen terhadap dolar AS, menekan nilai tukar won Korsel, dolar Singapura, dolar Australia, dan dolar Taiwan hingga lebih dari 1 persen. Hari ini, semua mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS.

“Mata uang Asia sudah menghadapi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar. Pelemahan yuan menjadi sumber tekanan baru terhadap mata uang regional yang sensitif terhadap pergerakan yuan,” tulis Barclays dalama laporannya hari ini.

Dipicu oleh langkah Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneternya – setelah menjalani kebijakan pelonggaran kuantitatif selama dua putaran – bank sentral global terlibat dalam perang pelemahan mata uang dengan tujuan meredam deflasi dan melindungi perekonomian dari kejatuhan harga minyak dan penguatan dolar karena antisipasi kenaikan suku bunga AS pada tahun ini.

“Kita telah terlibat dalam persaingan pelonggaran sepanjang tahun dan pengumuman China hari ini mengindikasikan bahwa perang pelonggaran moneter sudah bergerak spiral sehingga tidak akan berakhir hingga pertumbuhan ekonomi global meningkat,” kata Nicholas Teo, analis pasar di CMC Markets.

Kendati demikian, perbankan termasuk Standard Chartered dan ANZ dengan cepat memperingatkan agar langkah bank sentral China hanya merupakan satu kali upaya penyesuaian dan menghindari devaluasi lanjutan, sehingga bisa mengurangi tekanan pada mata uang Asia.

“Dengan keyakinan bahwa China tidak bermaksud merekayasa pelemahan renminbi, tekanan tajam depresiasi pada mata uang Asia akibat perubahan penetapan yuan seharusnya memudar. Kami meyakini, kecenderungan peningkatan volatilitas transaksi dolar-yuan akan berimplikasi pada nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar sehingga menjadi lebih bergejolak,” papar HSBC dalam laporannya hari ini.

Langkah Bank Rakyat China hari ini, menurut sejumlah investor, juga akan mempengaruhi rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September nanti. Sejauh ini, yuan dan dolar AS merupakan mata uang yang mengalami penguatan di tengah berlangsungnya perang pelonggaran moneter global.

Menurut Jim Rickards, kepala strategi global West Shire Funds, setelah China melakukan pelonggaran, maka tinggal dolar AS yang belum melakukan selama beberapa tahun terakhir. “Dengan pergerakan yuan hari ini, berarti AS akan mendukung deflasi seluruh dunia. Ketika semua negara berupaya menumbuhkan inflasi melalui pelonggaran, berarti mereka mengekspor deflasi ke mata uang yang lebih kuat,” ujar Rickards.

Berlanjutnya penguatan dolar menjadi masalah bagi The Fed karena akan mencederai ekspor AS, inflasi yang lebih rendah dan mengurangi keuntungan perusahaan. Karena kenaikan suku bunga akan cenderung mendorong nilai tukar dolar menjadi lebih tinggi lagi, maka rencana tersebut akan menjadi dilema bagi The Fed.

“Kini, kenaikan suku bunga yang kecil sekalipun pada September nanti, bisa mempunyai efek memperbesar kenaikan nilai tukar dolar AS. Kita harus wait and see apa yang akan dilakukan The Fed,” tutur John Carey, manajer portofolio Pioneer Investment. Read the rest of this entry

Devaluasi yuan dan reshuffle bikin rupiah keok

Kurs rupiah kembali tak berdaya terhadap dollar Amerika Serikat. Mengacu data kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Rabu (12/8) rupiah berada pada posisi Rp 13.758 per dollar AS atau 1,6% dari penutupan kemarin Rp 13.541 per dollar AS

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan ke level terlemah baru semenjak 17 tahun terakhir.

Mata uang domestik terkena dampak buruk dari kebijakan pemerintah China yang melakukan devaluasi mata uang yuan.

“Posisi Indonesia sebagai salah satu rekan dagang utama China dan eksportir komoditas akan membuat prospek perekonomian secara keseluruhan terkena dampak buruk akibat kebijakan pemerintah China,” katanya dikuti dari Antara, Rabu (12/8). Read the rest of this entry

Profitabilitas ASII Pulih Meski Laba Bersih Tergerus 18 Persen

Laba bersih Astra International (ASII) turun 18% (YoY) menjadi Rp8,1 triliun selama semester I 2015 (1H15) karena faktor penjualan otomotif sebab perekonomian Indonesia memburuk.

Laba bersih dari divisi otomotif anjlok 15% (YoY) menjadi Rp3,4 triliun. Segmen lain seperti agribisnis, keuangan, infrastruktur dan ITU juga tumbuh negatif. Laba bersih dari divisi penjualan alat berat yang tumbuh positif, sebesar 3% (YoY) sebagai akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, laba bersih dari penjualan kendaraan roda 4 tumbuh 17,5% (QoQ) pada kuartal II 2015 (2Q15) karena pulihnya profitabilitas. Laba bersih dari agribisnis melonjak 85% (QoQ) ditopang oleh harga CPO yang naik pada periode 2Q15. Secara keseluruhan laba bersih konsolidasi naik tipis 1% (QoQ) merupakan indikasi yang sehat mengembalikan profitabilitas namun tidak tumbuh.

Sektor Komoditas
Secara alami, sektor komoditas berfungsi sebagai lindung nilai secara alamiah terhadap pendapatan [ASII 6,650 0 (+0,0%)], tetapi saat ini hal itu tidak terjadi. Laba bersih anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk ( [AALI 20,550 475 (+2,4%)]) turun 68% pada 1H15 karena harga rata-rata CPO turun 14 persen (Yoy). Sedangkan volume penjualan stagnan namun diimbangi oleh kenaikan volume penjuala olein.

Pelemahan nilai tukar rupiah tidak mampu mengimbangi harga CPO yang sedang lesu, tidak berfungsi sebagai hedging terhadap pendapatan ASII. Hanya PT United Tractor Tbk ( [UNTR 20,000 -200 (-1,0%)]) mampu meraih laba akibat depresiasi rupiah. Laba UNTR tumbuh 3 persen. Walaupun demikian matrik operasional UNTR tetap lemah seiring volume penjualan alat berat yang turun 38 persen (YoY). Sedangkan produksi batubara dan overburden turun masing-masing 8 persen.

Unit Usaha Finansial
Sementara itu, pendapatan konsolidasi dari unit usaha finansial (pembiayaa) turun 16 persen (YoY) menjadi Rp2,1 triliun. Jika kontribusi laba unit pembiayaan  terhadap laba bersih, maka laba bersih konsolidasi ASII naik 2% (YoY).

Laba bersih dari pembiayaan kendaraan rodal 4 melalui Astra Sedaya Finance ASF) turun 8 persen (YoY). Sedangkan pembiayaan melalui FIF tumbuh 8 persen. Sementara Laba bersih Bank Permata [BNLI 1,590 40 (+2,6%)] naik sebesar 4% (Yoy) pada 1H15. “Meskipun kinerja ASII grup variatif, diyakini bahwa kualitas aset dari bisnis jasa keuangan tetap utuh,” demikian menurut analis PT Indo Premier Securities Chandra Pasaribu dalam riset yang dipublikasikan pekan kemarin.

Adapun unit usaha otomotif masih jadi kontributor tersebut bagi ASII. Volume penjualan mobil turun 21% (YoY). Sedangkan roda 2 turun 19 persen (YoY). Sebagai akibatnya berdampak terhadap laba Astra Otoparts ( [AUTO 2,200 -200 (-8,3%)]) sehingga jatuh 67% (yOY). Namun demikian, marjin distribusi otomatif telah pulih seperti dari penjualan suku cadang asli sebesar 0,6 persen di 2Q15 dibanding 0,4% pada 1Q15.

GPM distribusi otomotif telah stabil sebesar 9,2 persen pada 2Q15, atau pulih dari sebelumnya 8,2 persen pada 4Q14. “Astra Grup sudah dapat mengembalikan profitabilitas meskipun pertumbuhan laba masih kurang karena kondisi makro ekonomi yang buruk,” kata riset tersebut. (mk)

Read the rest of this entry

Waspada…..Rollercoaster Bursa China Masih Sisakan Ruang Penurunan

Rollercoaster gejolak harga saham di bursa China memang sudah mereda, namun para analis meyakini masih tersisa ruang untuk terjadinya penurunan lebih lanjut. Gejolak lanjutan itu akan bergantung pada bagaimana Beijing mengelola upaya untuk keluar dari pasar dengan melepaskan saham-saham yang sudah dibeli.

Kejatuhan harga saham China hingga mendekati 8,5 persen pada Senin lalu – terdalam dalam delapan tahun – menimbulkan kembali kekhawatiran terhadap kemampuan manajemen pemerintah serta kesehatan basis perekonomian China. Apalagi pertumbuhan ekonomi China sudah melorot ke level terendah sejak krisis keuangan global, 2008 lalu.

Intervensi Beijing dengan mencegah sejumlah investor untuk menjual sahamnya – dengan membeli saham dan mengancam akan memenjarakan investor yang melakukan short-selling – menimbulkan hujan kritik dengan tudingan anti-pasar. Dan pasar tetap bertaruh bahwa harga saham masih akan melorot.

Setelah masa-masa ceria – berkat rekayasa pemerintah yang menghasilkan kenaikan sebesar 150 persen selama 12 bulan hingga pertengahan Juni lalu – dan koreksi 29 persen hingga Selasa kemarin, analis meyakini harga saham masih bisa melemah.

Rebound secara besar-besaran tampaknya tidak akan terjadi,” kata Zhang Gang, analis Central China Securities kepada AFP, (29/7). Dia mengekspektasikan pasar Shanghai akan menguji level support di posisi 3.500 poin dan kemudian di level 3.200. Indeks Shanghai Composite turun 0,21 persen ke posisi 3.633,27 pada akhir sesi pertama, hari ini.

“Secara umum, langkah pemerintah sudah di jalur yang benar, tapi butuh waktu hingga pasar memahaminya,” kata Zhang. “Seteleh risikonya teratasi, kinerja pasar akan membaik tahun depan,” imbuhnya seperti dikutip AFP, (29/7).

Kuncinya adalah bahwa pemerintah mengelola divestasi saham-saham yang baru dibeli tanpa menakut-nakuti investor “rumah tangga”, kekuatan utama pasar China yang bertransaksi berdasarkan rumor dan spekulasi.

“Saya pikir mereka akan mengurangi intervensi yang akhir-akhir ini ditakutkan pasar,” kata Steve Yang, ahli strategi UBS Group in Shanghai, kepada Bloomberg News.

“Prosesnya akan sangat panjang. Mereka tidak perlu terburu-buru menjual posisi mereka mereka dalam jangka pendek.”

Faktor negatif lain berada di luar kontrol regulator sekuritas, yaitu ekspektasi pengaruh kenaikan suku bunga AS terhadap aktivitas global dan perlambatan pertumbuhan China. Namun sampai dimana akhir dari tekanan jual itu, tak ada yang tahu.

Lembaga keuangan Nomura, Jepang meyakini bahwa kejatuhan harga saham yang terjadi belakangan ini merupakan kesempatan beli. Mereka menyerukan kepada kliennya untuk membeli saham secara selektif. “Konsolidasi pasar akan berlanjut hingga hasil sementara pra musim pada pertengahan Agustus setelah lebih banyak data positif di level makro dan mikro,” tulis tim riset Nomura.

“Kami anjurkan para investor mengambil manfaat dari akhir kemungkinan penurunan kedua ini untuk membeli saham dengan struktur fundamental yang cukup baik,” Nomura menambahkan.

Terlepas bahwa gejolak perdagangan akan muncul kembali dan dapat berdampak pada perekonomian China, “Pasar saham akan berlanjut menjadi lebih volatile meskipun ada paket penyelamatan bernilai tinggi,” papar ANZ Banking Group dalam laporan ristnya. “Volatilitas pasar saham mencerminkan sejumlah risiko penurunan proyeksi pertumbuhan China.”

Tom DeMark, pendiri DeMARK Analytics, AS berpendapat, perilaku pasar saham China merupakan cerminan dari kejatuhan bursa saham Wall Street tahun 1929, yang memicu Depresiasi Besar dalam perekonomian Amerika. Dia mengekspektasikan, pasar China akan melorot ke poisisi 3.200 dalam tiga pekan mendatang dan langkah Beijing untuk membendung penurunan akan sia-sia.

“Kita tidak bisa mendikte pasar. Fundamental yang mendikte pasar,” ujarnya. Read the rest of this entry