Devaluasi Yuan: Memukul Asia, Jegal Rencana The Fed

Langkah bank sentral China mendevaluasi mata uang yuan (Selasa, 11/8) mengejutkan, sekaligus menimbulkan kekesalan pada banyak kalangan.

“Jelas sekali, langkah ini mengejutkan seluruh Asia. Jika melihat mitra dagang utama China – Korea Selatan, Jepang, AS dan Jerman – persaingan ini memukul ekspor negara-negara tersebut,” ungkap Callum Henderson, kepala Riset Valuta Asing global, Standard Chartered. “China mengekspor disinflasi ke negara-negara yang menerima ekspor China. Dampaknya sangat negatif bagi mata uang Asia,” imbuhnya, seperti dikutip CNBC, (11/8).

Para pedagang berpendapat, pengumuman bank sentral China untuk mendevaluasi yuan merupakan seri terakhir dari rangkaian persaingan devaluasi di Asia dan emerging market lainnya.

Kebijakan devaluasi China, menyebabkan pergeseran dan kejatuhan parah nilai tukar mata uang Asia. Penurunan nilai tukar yuan sebesar 1,8 persen terhadap dolar AS, menekan nilai tukar won Korsel, dolar Singapura, dolar Australia, dan dolar Taiwan hingga lebih dari 1 persen. Hari ini, semua mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS.

“Mata uang Asia sudah menghadapi tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar. Pelemahan yuan menjadi sumber tekanan baru terhadap mata uang regional yang sensitif terhadap pergerakan yuan,” tulis Barclays dalama laporannya hari ini.

Dipicu oleh langkah Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneternya – setelah menjalani kebijakan pelonggaran kuantitatif selama dua putaran – bank sentral global terlibat dalam perang pelemahan mata uang dengan tujuan meredam deflasi dan melindungi perekonomian dari kejatuhan harga minyak dan penguatan dolar karena antisipasi kenaikan suku bunga AS pada tahun ini.

“Kita telah terlibat dalam persaingan pelonggaran sepanjang tahun dan pengumuman China hari ini mengindikasikan bahwa perang pelonggaran moneter sudah bergerak spiral sehingga tidak akan berakhir hingga pertumbuhan ekonomi global meningkat,” kata Nicholas Teo, analis pasar di CMC Markets.

Kendati demikian, perbankan termasuk Standard Chartered dan ANZ dengan cepat memperingatkan agar langkah bank sentral China hanya merupakan satu kali upaya penyesuaian dan menghindari devaluasi lanjutan, sehingga bisa mengurangi tekanan pada mata uang Asia.

“Dengan keyakinan bahwa China tidak bermaksud merekayasa pelemahan renminbi, tekanan tajam depresiasi pada mata uang Asia akibat perubahan penetapan yuan seharusnya memudar. Kami meyakini, kecenderungan peningkatan volatilitas transaksi dolar-yuan akan berimplikasi pada nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar sehingga menjadi lebih bergejolak,” papar HSBC dalam laporannya hari ini.

Langkah Bank Rakyat China hari ini, menurut sejumlah investor, juga akan mempengaruhi rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September nanti. Sejauh ini, yuan dan dolar AS merupakan mata uang yang mengalami penguatan di tengah berlangsungnya perang pelonggaran moneter global.

Menurut Jim Rickards, kepala strategi global West Shire Funds, setelah China melakukan pelonggaran, maka tinggal dolar AS yang belum melakukan selama beberapa tahun terakhir. “Dengan pergerakan yuan hari ini, berarti AS akan mendukung deflasi seluruh dunia. Ketika semua negara berupaya menumbuhkan inflasi melalui pelonggaran, berarti mereka mengekspor deflasi ke mata uang yang lebih kuat,” ujar Rickards.

Berlanjutnya penguatan dolar menjadi masalah bagi The Fed karena akan mencederai ekspor AS, inflasi yang lebih rendah dan mengurangi keuntungan perusahaan. Karena kenaikan suku bunga akan cenderung mendorong nilai tukar dolar menjadi lebih tinggi lagi, maka rencana tersebut akan menjadi dilema bagi The Fed.

“Kini, kenaikan suku bunga yang kecil sekalipun pada September nanti, bisa mempunyai efek memperbesar kenaikan nilai tukar dolar AS. Kita harus wait and see apa yang akan dilakukan The Fed,” tutur John Carey, manajer portofolio Pioneer Investment.

Sumber : ipotnews.com

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.com/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.com/p/jasa-pembukuan.html

Posted on August 13, 2015, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: