Daily Archives: August 24, 2015

Analis Sarankan Buy Saham WIKA, Tapi Ini Risikonya

Laba bersih Wijaya Karya (WIKA) melambat pada periode semester pertama 2015 (1H15), hanya sebesar Rp200 miliar atau turun 28% (YoY). Begitu pula pada pos revenue, melemah 18% (YoY) menjadi sebear Rp4,8 triliun. Perlambatan tersebut bersumber dari divisi properti dan precast.

Penundaan realisasi belanja infrastruktur pemerintah juga melemahkan pendapatan anak usaha perseroan, WIKA Beton. Sedangkan kebijakan uang muka telah berpengaruh terhadap proyek properti yang dikelola WIKA Realty.

Sebagai akibatnya, “diyakini divisi konstruksi akan menjadi kunci pendapatan dan laba perseroan tahun ini,” ujar Riset Analis PT Indo Premier Securities, Natalia Sutanto dalam risetnya, Jumat. Menurutnya laba WIKA diperkirakan turun 9% di tahun 2015 dan 7% pada setahun berikutnya.

Target Kontrak
Per Juni 2015, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp10 triliun yang berarti 32% lebih tinggi dari target tahun 2015 yang direvisi sebesar Rp31 triliun (sebelumnya Rp21 triliun).

Berbasis kepemilikan proyek, kontribusi utama kontrak baru adalah proyek swasta sebesar 67 persen lalu disusul proyek pemerintah sebesar 30 persen. Perseroan optimistis kontrak baru yang dibukukan naik pada bulan-bulan selanjutnya seiring pengumuman sebagai penawar terendah bagi proyek senilai Rp4 triliun. Manajemen [WIKA 2,635 -85 (-3,1%)] juga membukukan lebih banyak kontrak baru dari proyek pemerintah dan BUMN mulai kuartal ketiga 2015 (3Q15).

Persaingan Precast
Menurut Indo Premier, jika dipelajari, ekspansi BUMN konstruksi ini ke usaha precast telah mengendurkan market share WIKA Beton (WTON).

Meskipun demikian, dengan posisinya sebagai perusahaan berkapasitas terbesar sebanyak 2,3 juta ton (10 pabrik yang berlokasi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi), [WTON 960 -55 (-5,4%)], tetap pemasok utama precast di luar Pulau Jawa. Ke depan, seiring kelanjutan inovasi untuk menciptakan produk baru precast, hal itu akan menolong perseroan mempertahankan pangsa pasarnya.

Rekomendasi
Ke depan, WIKA akan melanjutkan investasi di proyek pembangkit dan transportasi (kereta cepat Jakarta-Bandung) untuk recurring income yang berkelanjutan. WIKA sudah mengajutkan suntikan modal Rp3 triliun kepada pemerintah tahun depan yang akan menolong itu sebagai pengarah proyek untuk mendukung program pemerintah.

Indo Premier Securities mempertahankan rekomendasi Buy terhadap saham WIKA dengan target price Rp3,100 per saham yang berarti turun dari target price sebelumnya Rp3.900 per saham. Target price tersebut mencerminkan rasio P/E 21 kali di level par terhadap sektor.

Risiko terhadap rekomendasi tersebut di antaranya naiknya piutang buruk (sebagian besar dari gedung akibat penjualan yang melambat sektor properti) serta pelemahan nilai tukar rupiah (kenaikan bahan baku yang bisa menghambat marjin, terutama dari kontrak proyek swasta).

Read the rest of this entry

Advertisements