Monthly Archives: November 2015

Harga Emas Jatuh ke Titik Terendah Sejak 2009

Harga emas dunia jatuh ke titik terendahnya dalam enam tahun terakhir. Emas tidak lagi jadi sarana investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, harga emas dunia mendarat di US$ 1.051,60 per ounce hampir setara harganya waktu 2009 lalu.

Harga emas memang sudah melempem sejak 2010 lalu ketika sempat jatuh sampai ke level US$ 1.045 per ounce. Jumat lalu sudah enam pekan berturut-turut harga emas melemah.

Biasanya, emas jadi idaman investor ketika ada guncangan di dunia, tapi zaman sekarang sudah beda lagi. Jatuhnya bursa China Agustus lalu ditambah aksi teror di Paris baru-baru ini tidak membuat emas jadi incaran investor.
Read the rest of this entry

Advertisements

Tertolong Laba, Bank Mandiri Mampu Mengatasi Risiko NPL

Dalam 9 bulan tahun ini (9M15), Bank Mandiri (BMRI) membukukan laba bersih Rp14,6 triliun yang berarti naik +0,9 persen (YoY). Pencapaian tersebut sesuai dengan ekspektasi (76% dari perkiraan laba tahun ini) meskipun sedikit di bawah konsensus para analis.

Laba inti Bank Mandiri sebelum provisi tumbuh kuat mencapai 22 persen ditopang oleh pertumbuhan pendapatan non bunga yang kuat (24%). Sementara operational cost tumbuh hanya 12 persen pada 9M15.

Kepala Riset PT Indo Premier Securities Stephan Hasjim menilai perkiraan laba Bank Mandiri tahun ini masih dapat tercapai. Laba terlihat rendah dalam kacamata risiko kredit macet dalam 3 kuartal ke depan. Rasio NPL yang ditetapkan perseroan 3,5% pada 2Q16 dari 2,4% pada 3Q15. Sementara rasio profitabilitas moderat relatif tinggi dengan ROAA 2,2 persen serta ROAE adalah 18,5 persen pada 9M15.

Laba inti Bank Mandiri tumbuh 22 persen pada 9M15 dengan pertumbuhan kredit paling moderat atau 11% (YoY). Pendapatan bunga bersih 5,55% (6bps) dan pertumbuhan pendapatan non bunga yang kuat sebesar 24 persen yang mana juga mendorong pendapatan transaksi yang muncul dari tingginya fluktuasi pasar finansial selama kuartal ini.

Di sisi lain biaya operasi hanya 12 persen karena pertumbuhan beban gaji yang melambat (tumbuh 5%) sebagian karena penyisihan bonus anak usaha syariah serta efisiensi biaya. Adapun pendapatan bunga bersih flat 5,6 persen pada 3Q15. Terdapat ruang pendapatan bunga bersih yang menguat pada 4Q15 karena bunga deposito turun.

Biaya kredit Bank Mandiri naik 311 bps pada 3Q15 (vs 2Q=169 bps) dan 197 bps per 9M15. Rasio NPL konsolidasi naik 2,8 persen sebagian besar karena memburuknya kualitas aset kredit komersial menengah (30% dari portfolio kredit).

Bank Mandiri mematok biaya kredit antara 2,0 persen hingga 2,1 persen pada 2015 dibanding periode sebelumnya 1,4 persen hingga 1,7 persen. Perseroan kini memperkirakan rasio NPL naik 3,5 persen pada 2Q16 (sebesar 2,4% pada 3Q15) sebelum kualitas aset mulai menguat pada semester II 2016 (2H16), sebagian besar karena rasio NPL yang berlanjut memburuk dari kredit komersial medium sebesar 4,9 persen versus 2,5 persen pada 3Q15.

Diyakini estimasi laba Bank Mandiri tercapai meskipun NPL naik. Hal itu karena laba inti yang lebih baik dari perkiraan meskipun laba rendah karena risiko NPL dalam 3 bulan ke depan. Kualitas aset yang memburuk sudah tercermin pada harga seiring pada valuasinya yang rendah. “Rekomendasi Buy pada saham Bank Mandiri tidak berubah,” kata Stephan seperti dikutip dari riset yang dipublikasikan, Jumat (30/10).  (mk)

Read the rest of this entry

Laba Kimia Farma per September Tumbuh 13%

PT Kimia Farma (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk periode yang berakhir September 2015 sekitar 13,7% menjadi Rp163,581 miliar, dari Rp143,825 miliar pada periode serupa tahun lalu.

Direktur Utama Rusdi Rosman menuturkan, capaian ini didukung oleh bertumbuhnya pendapatan sebesar 12,90% menjadi Rp3,474 triliun per akhir September 2015, dari Rp3,077 triliun periode serupa tahun lalu. Seiring dengan peningkatan tersebut, beban pokok pendapatan turut naik 12,3% menjadi Rp2,4 triliun.
Read the rest of this entry