Monthly Archives: December 2015

Rupiah Akan Menjadi Mata Uang Berkinerja Terburuk di Asia

Rupiah Indonesia diperkirakan akan menempati posisi sebagai mata uang Asia berkinerja terburuk akibat penyusutan cadangan devisa dan berisiko tinggi mengalami arus keluar modal. Survei Bloomberg terhadap sejumlah ahli strategi mata uang Asia mengungkapkan, nilai rupiah diperkirakan akan melorot 6,2 persen terhadap dolar sejak 30 November lalu hingga akhir 2016.

Sebelumnya, rupiah juga pernah mengalami penurunan terbesar diantara mata uang negara-negara emerging Asia pada 2012 dan 2013, masing-masing sebesar 5,9 persen dan 21 persen. Ketika itu, harga komoditas global berguguran, dan terjadi arus keluar dana dari negara berkembang akibat pengetatan kebijakan moneter AS.

“Rupiah menempati ranking tertinggi dalam kartu skor kami karena kerentanannya terhadap arus modal,” kata Jason Daw, kepala strategi valas Asia, Societe Generale AS, Singapura, seperti dikutip Bloomberg, (21/12).

Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan selama sembilan bulan berturut-turut hingga November lalu. Investor asing memiliki 38 persen obligasi pemerintah dalam rupiah, yang dinilai akan memperentan rupiah terhadap penarikan modal ketika suku bunga Federal Reserve AS naik dan ekonomi China melambat.

Meskipun pemerintah Indonesia tengah berupaya mengurangi ketergantungannya pada komoditas impor, namun transisi dari upaya tersebut akan membutuhkan waktu. Para ekonom memperkirakan hanya akan terjadi sedikit perbaikan pertumbuhan Indonesia pada tahun depan.

Societe Generale berpendapat, rupiah akan turun hingga 15.300 per dolar pada akhir 2016, lebih tinggi dibanding estimasi rata-rata hasil survei Bloomberg sebesar 14.750. Hanya mata uang Argentina dan Brazil yang akan mengalami penurunan lebih buruk dibanding rupiah, di antara 23 mata uang lain di emerging market.

Sepanjang tahun ini, cadangan devisa turun 10 persen, terendah sejak Desember 2013. Kondisi tersebut akan membatasi kemampuan Bank Indonesia untuk mempertahankan rupiah ketika menghadapi kenaikan suku bunga AS, dan perlambatan di China. Kedua kondisi eksternal itu akan makin menekan harga komoditas dan dapat menghasilkan pelemahan yuan secara signifikan, sehingga memicu arus keluar modal.

Kepemilikan obligasi rupiah oleh asing sudah meningkat dari 30 persen pada lima tahun lalu dan mencapai puncaknya menjadi 40 persen pada Januari lalu.

Hasil survei Bloomberg memperkirakan ekonomi Indonesia akan naik 4,7 persen pada tahun ini, dan 5,1% pada 2016. Kamis pekan lalu, Bank Indonesia memperkirakan angka pertumbuhan tahun depan dalam rentang 5,2 persen hingga 5,6 persen, sehingga memperbesar ruang untuk memangkas suku bunga. Penurunan suku bunga cenderung akan memperlemah rupiah.

Nomura Hodings Inc., pada bulan ini memperkirakan nilai tukar rupiah pada akhir 2016 akan mencapai 14.850 per dolar, lebih baik dari perkiraan sebelumnya 15.200. “Proyeksi kami terhadap Indonesia dan rupiah pada 2016, lebih optimistik,” kata Dushyant Padmanabhan, ahli strateng Nomura, Singapura.

“Secara lokal, kami melihat adanya perbaikan permintaan domestik dan kenaikan belanja modal publik karena stimulus fiskal dan moneter mulai membuahkan hasil,” imbuhnya.

Dalam pernyataannya pekan lalu, Bank Dunia menyatakan bahwa tahun 2016 akan lebih menantang bagi Indonesia. “Mungkin akan terjadi turbulensi,” karena permintaan China terus melemah dan terjadi kenaikan suku bunga AS.

Menurut Bank Dunia, meskipun belanja sektor publik telah meningkat namun penerimaan tetap menjadi tantangan yang dapat mengurangi pencarian rencana belanja pemerintah pada tahun depan. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia bisa mencapai 5,3 persen tahun depan.

“Rupiah lebih rentan jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya dalam menghadapi ketidakseimbangan eksternal, pelemahan harga komoditas dan penarikan dana asing pada obligasi pemerintah akibat pengetatan The Fed,” kata Roy Teo, ahli strategi valas ABN Amro Bank NV, Singapura. ABN Amro memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar pada akhir 2016, akan mencapai 15.000 per dolar. Read the rest of this entry

Advertisements

Merespons Rencana Stimulus ECB, Wall Street Berakhir di Zona Merah

Saham di bursa Amerika Serikat turun tajam pagi ini, mengikuti pasar ekuitas Eropa yang anjlok setelah rencana stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) mengecewakan para investor.

Pelemahan pasar ekuitas AS tidak separah di Paris atau Frankfurt, yang keduanya jatuh 3,6 persen, namun Wall Street menyelesaikan perdagangan Kamis di zona merah.

Dow Jones Industrial Average melorot 252,01 poin (1,42 persen) menjadi 17.477,67, demikian laporan AFP, di New York, Jumat (4/12) dini hari WIB.

Indeks berbasis luas, S&P 500, turun 29,89 (1,44 persen) menjadi 2.049,62, sedangkan Nasdaq Composite Index menyusut 85,70 (1,67 persen) dan ditutup pada posisi 5.037,53.

ECB, dalam pertemuan kebijakan moneter terakhirnya pada tahun ini, menurunkan suku bunga deposito lebih kecil dari ekspektasi, dan memperpanjang berakhirnya periode program pembelian obligasi, namun tidak meningkatkan ukurannya sesuai harapan.

“Pengumuman hari ini oleh ECB membuat investor menginginkan sedikit sentimen lagi,” ujar Jack Ablin, Chief Investment Officer BMO Private Bank.

Sementara, itu Institute for Supply Management mengatakan indeks pembelian manajer untuk sektor jasa AS turun tajam pada periode November, menyusul pertumbuhan yang kuat sepanjang Oktober.

Data tersebut dirilis menjelang laporan ketenagakerjaan untuk November yang bakal diumumkan Departemen Tenaga Kerja AS hari ini.

Saham yang terkait minyak melanjutkan pelemahan, termasuk anggota Dow, ExxonMobil dan Chevron, yang masing-masing turun 1,4 dan 1,6 persen. Apache anjlok 3,3 persen dan ConocoPhillips menyusut 1,8 persen. Penurunan ekuitas yang terkait dengan minyak terjadi di tengah penguatan harga minyak mentah dunia, pagi ini.

Saham perusahaan health care dan farmasi juga berakhir di teritori negatif, dengan UnitedHealth Group turun 2,2 persen, Merck (-2,3 persen) dan Celgene (-4,4 persen).

PVH, induk dari merek Calvin Klein dan Tommy Hillfiger, berkurang 11,1 persen setelah melaporkan pendapatan kuartal ketiga turun 1,7 persen menjadi US$221,9 juta. PVH mengatakan mencatatkan hasil yang kurang menggembirakan di pasar AS sepanjang belanja musim liburan.

Produsen chip, Avago Technologies, melambung 9,5 persen etelah melaporkan net income untuk kuartal yang berakhir pada 1 November sebesar US$429 juta, melonjak 79 persen dari periode yang sama setahun lalu.

General Electric naik tipis 0,2 persen menyusul pemberitaan telah mencapai kesepakatan untuk menjual bisnis equipment finance dan receivable finance di Prancis dan Jerman kepada Banque Federative du Credit Mutuel. Read the rest of this entry

IMF akhirnya sepakat yuan masuk keranjang SDR

Dewan eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF), akhirnya menyetujui masuknya mata uang China, yuan atau renminbi (RMB) dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR)-nya sebagai mata uang cadangan internasional.

Dewan IMF, yang mewakili 188 negara anggota dana, memutuskan bahwa RMB memenuhi seluruh kriteria yang ada.

“RMB akan dimasukkan dalam keranjang SDR sebagai mata uang kelima, bersama dengan dollar AS, euro, yen Jepang dan pound Inggris, mulai 1 Oktober 2016,” kata IMF dalam sebuah pernyataanya.

Christine Lagarde, Direktur Pelaksana IMF, mengatakan, keputusan dewan adalah tonggak penting dalam integrasi ekonomi China ke dalam sistem keuangan global. “Ini juga merupakan pengakuan atas kemajuan bahwa pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir telah banyak berbuat dalam mereformasi sistem moneter dan keuangan China,” katanya. Read the rest of this entry

Dari Rebalancing, Yuan, hingga Santa Claus

Semangat pagi, welcoming December! Indeks Dow Jones ditutup di level 17,719.92 melemah 78.57 poin (-0.44%)

IHSG kemarin ditutup di level 4,446.46 melemah 114.10 poin (-2.50%). Kembali di bawah area 4535, IHSG potensi untuk kembali terkoreksi dengan target suport 4354.

IHSG terkoreksi signifikan setelah beberapa fund manager melakukan rebalancing mengikuti rebalancing MSCI Indonesia Index.

MSCI melakukan rebalancing dengan mengeluarkan PTBA dan memasukkannya dalam Small Cap Index. PTBA diganti AKRA.

Institutional sponsorship alias dukungan dari uang besar memang sangat mempengaruhi pergerakan sebuah saham.
Read the rest of this entry