Monthly Archives: January 2016

Bursa saham Cina mengawali minggu dengan kejatuhan baru

Saham-saham Asia terus menurun pada Senin (11/1) seiring kecemasan akibat penjualan di bursa pekan lalu yang membuat investor terus waspada.

Pasar saham dunia menderita kerugian besar setelah perdagangan Cina dua kali dihentikan pekan lalu karena anjloknya nilai saham secara dramatis sehingga memicu mekanisme pemutus sirkuit, dan meningkatkan ketidakpastian.

Pada Jumat lalu, Cina menghentikan mekanisme tersebut, langkah yang meyakinkan para pialang. Read the rest of this entry

Advertisements

Wall Street Digempur Aksi Jual, Dow dan S&P 500 Cetak Tahun Terburuk Sejak 2008

Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 mencatatkan kinerja terburuk tahunan mereka dalam tujuh tahun pada pagi ini, setelah digempur aksi jual di sesi terakhir Wall Street untuk periode 2015.

Indeks berbasis luas, S&P 500, menyusut 0,9 persen menjadi 2.043,94, sehingga sepanjang 2015 tercatat melemah 0,7 persen, penurunan pertama sejak 2011, demikian laporan AFP, di New York, Jumat (1/1/2016) dini hari WIB.

Indeks blue-chip Dow anjlok 1,0 persen pada penutupan sesi tersebut menjadi 17.425,03, sehingga harus membukukan penurunan tahunan menjadi 2,2 persen.

Namun Nasdaq Composite Index tetap bersinar, setelah mengakhiri 2015 dengan kenaikan 5,7 persen, meskipun turun 1,2 persen menjadi 5.007,41 pada hari terakhir perdagangan, Kamis.

Para analis mengatakan pelemahan sesi Kamis didorong rendahnya volume perdagangan menjelang penutupan pasar pada hari ini untuk liburan Tahun Baru, dan insentif untuk menjual saham pada akhir tahun guna keperluan pajak.

Jack Ablin, Chief Investment BMO Global Asset Management, mengatakan dia “berharap” mengenai 2016, namun menyebutkan kemungkinan sejumlah kendala, mulai dari harga komoditas yang rendah hingga valuasi ekuitas yang masih tinggi dan langkah Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

“Ada risiko di luar sana dan masalahnya adalah pasar tidak murah, jadi, akan ada berita buruk yang menyulitkan,” kata dia.

Wall Street menunjukkan kedigdayaannya pada 2015 sebelum akhirnya mengalami tekanan hebat pada Agustus lalu ketika terjadi turbulensi di pasar ekuitas China yang memicu aksi jual secara global, bahkan mendorong S&P 500 di bawah level 1.900.

Saham kemudian relatif stabil, namun perdagangannya agak berombak sepanjang, didorong kejatuhan harga minyak dunia yang kerap memicu aksi jual ekuitas.

Saham energi mengalami tekanan paling kuat di antara sektor industri lainnya, setelah jatuh hampir 24 persen pada 2015, menurut data awal S&P Capital IQ.

Sektor yang membukukan kenaikan di antaranya consumer, menguat 8,4 persen, dan health care sebesar 5,2 persen setelah gelombang pengumuman merger, tutur S&P Capital IQ. Read the rest of this entry