Monthly Archives: March 2016

Selangkah lagi, lima fraksi harga berlaku di BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan usulan perubahan fraksi harga saham (tick price) menjadi lima kelompok.

Alpino Kianjaya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Bursa BEI, menyatakan, BEI sudah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun usulan ini masih menunggu keputusan OJK.

Saat ini, BEI menerapkan aturan tiga kelompok fraksi harga saham. Pertama, harga saham antara Rp 50-Rp 500 per saham memiliki fraksi harga Rp 1. Kedua, harga saham Rp 500 – Rp 5.000 memiliki fraksi harga Rp 5. Read the rest of this entry

Advertisements

Pekan Ketiga, WIKA Kantongi Kontrak Rp4,67 Triliun

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menorehkan pencapaian kontrak baru hingga pekan ketiga Maret 2016 sebesar Rp4,67 triliun atau 8,84% dari target kontrak baru sepanjang tahun ini, yakni Rp52,80 triliun.

“Perolehan kontrak baru tersebut meningkat 37,35% dibandingkan periode yang sama tahun 2015,” kata Sekretaris Perusahaan Suradi melalui siaran pers diterima Selasa (22/3).

Menurut dia, beberapa proyek yang telah diperoleh hingga pekan ketiga bulan ini antara lain pembangunan hotel, perkantoran dan Convention Hall Grup Puncak Surabaya (Rp1,45 triliun), Rusun Atlet Kemayoran (Rp978 miliar), flyover Semanggi (Rp313,69 miliar), jaringan gas Prabumulih (Rp296 miliar), proyek strategis Kementerian ESDM yang terdiri dari SPBG Bekasi, Fasilitas penerangan jalan umum, tank bahan bakar nabati, pembangunan pembangkit listrik mini hydro di Papua (Rp207,33 miliar). Read the rest of this entry

WIKA dan ADHI berburu kontrak baru

Tak ingin kehilangan momentum, emiten konstruksi menggeber ekspansi di awal tahun ini. Dua emiten konstruksi pelat merah, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) [2,550 0 (+0,0%)] dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) [2,730 20 (+0,7%)], mengantongi kontrak anyar senilai total Rp 6,37 triliun sekaligus mencatatkan pertumbuhan signifikan.

Hingga pekan kedua Maret 2016 misalnya, WIKA [2,550 0 (+0,0%)] meraih kontrak baru sekitar Rp 4,67 triliun. Pencapaian tersebut setara dengan 8,9% dibandingkan target kontrak anyar tahun ini yang mencapai Rp 52,2 triliun.

Pencapaian tersebut tumbuh 35,76% ketimbang perolehan kontrak baru di periode yang sama tahun lalu, Rp 3,44 triliun. Sedangkan ADHI [2,730 20 (+0,7%)] mengantongi kontrak anyar Rp 1,7 triliun per akhir Februari 2016.

Jumlah tersebut setara 6,7% target kontrak baru 2016 senilai Rp 25,1 triliun. Angka itu tumbuh 25,5% ketimbang kontrak baru di periode sama tahun lalu Rp 1,3 triliun.

Menurut Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA [2,550 0 (+0,0%)], sekitar 31% kontrak baru atau Rp 1,45 triliun disumbangkan anak usaha PT Wika Gedung. “Wika Gedung bekerjasama dengan Grup Puncak membangun sejumlah proyek di Surabaya,” kata Suradi, dalam keterangan resmi yang diperoleh KONTAN, Sabtu (12/3).

Wika Gedung mendapatkan kontrak dari Grup Puncak menggarap proyek pembangunan hotel, gedung perkantoran, convention hall dan apartemen di Surabaya. Penandatangan kerjasama berlangsung pada 12 Maret 2016.

Hotel yang akan dibangun terdiri dari 12 lantai, mal dan convention hall tiga lantai serta apartemen meliputi lima tower dengan kapasitas 4.320 unit. Lingkup pekerjaan Wika Gedung dalam proyek tersebut terdiri dari pekerjaan desain dan struktur, pekerjaan tiang pancang, arsitektur, mechanical, electrical, plumbing (MEP) sertaeskternal.

Pekerjaan tersebut direncanakan rampung selama 1.460 hari kalender kerja. Selain kontribusi dari anak usaha, perolehan kontrak baru perseroan antara lain didapat dari proyek pembangunan jaringan gas Prabumulih senilai Rp 296 miliar bersama konsorsium PT Rekayasa Industri dan NK.

Dalam proyek tersebut, WIKA [2,550 0 (+0,0%)] memegang porsi terbesar, yakni mencapai 60%. WIKA [2,550 0 (+0,0%)] juga dipercaya menggarap proyek strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang terdiri dari stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) Bekasi, fasilitas penerangan jalan umum, tanki bahan bakar nabati dan pembangunan pembangkit listrik minihidro di Papua senilai Rp 207,33 miliar.

Kemudian proyek lain yang sudah diperoleh WIKA [2,550 0 (+0,0%)] seperti pekerjaan pembangunan jalan tol Manado-Bitung senilai Rp 169,63 miliar, pembangunan elevated road Maros-Bone senilai Rp 91,46 miliar serta proyek jalan tol Bawen-Solo seksi II sebesar Rp 75,4 miliar.

Proyek swasta Sementara, ADHI [2,730 20 (+0,7%)] pada awal tahun ini mengantongi proyek antara lain Apartement Cinere Terrace Suites senilai Rp 315,2 miliar, jaringan pipa gas Kota Tarakan senilai Rp 199,2 miliar, pembangunan rumah susun Bojong senilai Rp 241,7 miliar di Bogor, pekerjaan struktur dan arsitektur pembangunan fasilitas produksi gedung Pharma I dan gedung Utility pabrik Kimia Farma senilai Rp 136,5 miliar di Bandung, serta pembangunan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin senilai Rp 129 miliar.

Kontrak baru yang berhasil diraih ADHI [2,730 20 (+0,7%)] sepanjang dua bulan pertama tahun ini didominasi oleh proyek swasta, dengan kontribusi Rp 875,5 miliar atau sekitar 51,5%. Kontribusi proyek swasta sejalan target ADHI [2,730 20 (+0,7%)].

Pada 2016, emiten ini menargetkan proyek swasta menyumbang 37,1% terhadap total target kontrak baru. Sementara proyek pemerintah menyumbang 25,3% dan proyek BUMN menyumbang 23,2%. Padahal, tahun ini ADHI [2,730 20 (+0,7%)] merancang proyek pemerintah bisa berkontribusi 37,2% dan BUMN menyumbang 25,7% terhadap perolehan kontrak anyar.
Read the rest of this entry

The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar AS Melemah ke Rp 13.071

Fluktuasi mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhdap rupiah masih terus terjadi. Pagi ini, mata uang Paman Sam bergerak melemah, bersamaan dengan keputusan FOMC (Rapat Dewan Gubernur The Fed) untuk menahan tingkat suku bunganya.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis (17/3/2016), dolar AS pagi ini bergerak melemah ke Rp 13.071, dibandingkan posisi sore kemarin di Rp 13.237.

Dolar AS mencoba menguat dan bergerak naik hingga ke level tertingginya di Rp 13.167 pagi ini.

Perlahan, dolar AS kembali melemah. Hingga pukul 09.26 WIB, mata uang Paman Sam tersebut bergerak ke Rp 13.155. Read the rest of this entry

Ini Penyebab Maraknya Aksi Beli Asing di Bursa Saham Indonesia

Meskipun banyak investor bersikap waspada terhadap bursa saham emerging market belakangan ini, namun tak sedikit pemburu saham global yang terpikat oleh kinerja bursa saham Indonesia. Kepercayaan investor asing terhadap pemerintah dan daya tarik potensi perekonomian Indonesia semakin meningkat.

“Untuk tahun 2016 Indonesia bisa beranjak menjadi bagaimana seharusnya India pada 2015,” kata Herald van der Linde, ahli strategi ekuitas Asia, di HSBC, seperti dikutip Financial Times, (9/3).

Sepanjang tahun ini, indeks harga saham acuan bursa Indonesia, IHSG, sudah memberikan gain hingga 4,8 persen, atau 9,7 persen dalam hitungan dolar. Masuk dalam jajaran 10 bursa saham bekerja terbaik di dunia.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah kecenderungan pelemahan di bursa saham Asia yang terbebani oleh kekhawatiran akan ekonomi China. Indeks MSCI Asia – tidak termasuk Jepang – turun 4 persen sejak awal tahun ini, tak jauh berbeda dengan bursa saham negara maju.

Penguatan bursa saham Indonesia, terjadi setelah mengalami turbulensi tahun lalu ketika kejatuhan harga komoditas menyeret turun pertumbuhan ekonomi ke bawah 5 persen, dan mata uang rupiah anjlok terhadap dolar. Namun dukungan reformasi kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo, menurut para analis, mampu menyegarkan kembali perekonomian untuk mendorong pertumbuhan.

“Pada dasarnya, orang berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut akan dapat dikerjakan – dan semua itu akan mendorong pertumbuhan,” kata David Mann, kepala ekonom Asia, Standard Chartered. “Di seluruh kawasan, negara-negara yang terlihat lebih baik dalam melakukan apa yang telah diucapkan, akan mendapatkan perhatian pasar,” imbuhnya.

Sejauh ini pemerintahan Jokowi telah menggulirkan sederet paket stimulus, memberantas pungutan liar, dan menggencarkan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur. Kenaikan belanja negara sebesar 7,3 persen diharapkan akan mendongkrak pertumbuhan hingga ke atas 5 persen pada akhir kuartal ini.

“Saat ini, semua orang bersikap bullish terhadap Indonesia,” kata Jehanzeb Naseer, di Credit Suisse. “Perubahan yang terjadi sejak tahun lalu adalah belanja pemerintah banyak meningkat, dan menjadi perangsang pertumbuhan,” Naseer menambahkan.

Analis mengatakan, proporsi terbesar dari kenaikan IHSG dirasakan di sektor konsumer karena proyek-proyek konstruksi besar menciptakan lapangan kerja bagi pekerja kasar, mendorong permintaan akan produk konsumsi dasar seperti rokok, makanan kecil, dan pulsa telepon.

“Anda harus masuk sejauh mungkin ke pasar-pasar sebagai taktik untuk menarik masyarakat Indonesia, karena itulah yang dilakukan Jokowi,” kata Harry Su, kepala riset Bahana Securities. “Jokowi mendapat dukungan dari banyak orang di lapisan bawah dengan penciptaan kerja melalui proyek-proyek infrastruktur,” lanjutnya.

Kondisi tersebut tercermin pada kenaikan harga saham-saham rokok dan makanan di bursa saham Indonesia, seperti HM Sampoerna [HMSP 102,400 900 (+0,9%)] dan Indofood [INDF 7,425 125 (+1,7%)]. Kenaikan juga terjadi pada harga saham media yang ikut menangguk keuntungan dari kenaikan belanja iklan perusahaan produk konsumsi, seperti Media Nusantara Citra [MNCN 1,980 80 (+4,2%)].

Selain kebijakan fiskal yang ekspansif, melambatnya inflasi dan prospek penurunan suku bunga juga menjadi pendorong minat investor. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan menjadi 7 persen dari 7,5 persen pada awal tahun ini. Bahana Securities memperkirakan, BI akan kembali memangkas suku bunga pada bulan-bulan mendatang menjadi 6,25 persen pada akhir tahun nanti.

Namun penurunan suku bunga acuan BI dinilai tak akan menguntungkan saham-saham keuangan, karena akan menekan net interest marjin perbankan. Harga saham sejumlah bank besar, seperti Bank Rakyat Indonesia [BBRI 11,175 50 (+0,4%)], Bank Mandiri [BMRI 10,175 25 (+0,2%)], dan Bank BCA [BBCA 13,500 50 (+0,4%)], mulai bergreak turun. Read the rest of this entry

Merespons Pelemahan Ekspor-Impor China, Yen Melambung

Nilai tukar yen menguat terhadap mata uang utama, siang ini, karena anjloknya ekspor China menawarkan dealer lebih banyak bukti mengenai perlambatan ekonomi dunia.

Dollar sempat menyentuh 112,75 yen, level terendah dalam sepekan terhadap yen–yang dipandang sebagai investasi yang aman (safe haven) saat terjadi gejolak–sebelum rilis data China yang menunjukkan pelemahan ekspor-impor melampaui perkiraan analis, demikian laporan AFP, di Tokyo, Selasa (8/3).

Nilai ekspor ekonomi terbesar kedua di dunia itu merosot lebih dari 25 persen (year-on-year) sepanjang Februari menjadi US$126,1 miliar, sementara impor turun hampir 14 persen menjadi US$93,6 miliar.

Di Tokyo, greenback merosot jadi 113,03 yen pada sesi perdagangan petang ini, dari 113,41 yen, di New York, dini hari tadi WIB.

Euro melemah jadi 124,56 yen dari 124,90 yen di perdagangan Amerika, sementara naik ke level US$1,1018 dari US$1,1013.

Para trader terus mengantisipasi pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa yang digelar Kamis–bank sentral utama pertama yang menghelat pertemuan bulan ini.

Pertemuan ECB diperkirakan menghasilkan langkah stimulus yang baru untuk zona euro–beranggotakan 19 negara–yang bisa mencakup penurunan suku bunga atau anggaran baru untuk pembelian obligasi.

Sementara itu, mata uang emerging market secara luas melemah terhadap dollar, dengan investor lebih berhati-hati tentang prospek ekonomi dunia.

“Tantangan global tetap menjadi ancaman bagi emerging market,” ucap Vishnu Varathan, Ekonom Mizuho Bank, di Singapura.

Rupiah tercatat melemah 0,34 persen terhadap greenback, sementara dollar Singapura menyusut 0,38 persen dan won Korea Selatan kehilangan 0,39 persen.

Ringgit Malaysia yang terkait minyak, dollar Taiwan, baht Thailand dan peso Filipina juga melemah terhadap mata uang Amerika itu. Read the rest of this entry

Mata Uang Emerging Market Menguat … Sampai Kapan?

Nilai tukar mata uang emergng market telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, ditopang oleh kenaikan harga komoditas.

Indeks mata uang emerging market versi JP Morgan pada awal perdagangan di pasar uang Eropa, Jumat ini (4/3), mencapai 66,2, level tertinggi sejak Desember lalu. Indeks terdongkrak oleh lonjakan nilai tukar won Korea Selatan, ringgi Malaysia, dan renminb China.

Mata uang emerging market menguat tajam sejak akhir Januari lalu, setelah indeks menyentuh titik terendah sepanjang masa. Pekan ini indeks naik 2,2 persen, disokong oleh reli harga minyak.

Sejak Senin lalu ringgit melesat 2,5 persen terhadap dolar, won melonjak 3,2 persen, dan renminbi di pasar uang internasional menguat 0,6%. Rupee India melaju 2,4 persen dan rupiah naik 1,9%. Stabilitas harga komoditas juga membantu mengangkat dolar Kanada – lebih dari 9 persen sejak 20 Januari lalu – dolar Australia melomapt 7,4 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, muncul pertanyaan apakah reli mata uang emerging market bakal berkelanjutan? Ahli strategi valas BNY Mellon, Neil Mellor memperingatkan bahwa kekhawatiran akan isu pasokan minyak global dan strategi ekonomi Chinamasih belum berakhir.

“Mata uang berbasis komoditas bergulir cepat selama beberapa pekan terakhir dan sementara ini dunia menjadi ‘tempat yang lebih baik’ … investor dapat diekspektasikan akan terus berjemur di bawah sinar matahari,” kata Mellor. “Tapi selama fundamental tak dapat mengejar ketertinggalannya dengan entusiasme pasar saat ini, hampir pasti awan gelap kembali dengan cepat,” imbuh Mellor, seperti dikutip Financial Times (4/3).

Ada juga kekhawatiran, jika rilis data penggajian AS Jumat ini memperlihatkan penguatan tajam, bisa  meningkatkan kembali ekspektasi  akan kenaikan suku bunga AS untuk kedua kalinya, sehingga dapat memukul aset dan mata uang emerging market.

“Bagi kami, kasus pengetatan moneter The Fed merupakan bola liar,” ungkap ahli strategi Brown Brothers Harriman dalam catatannya kepada klien. “Proyeksi likuiditas global saat ini sudah bergerak mendukung emerging market. Tapi meningkanya ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed akan mengecewakan pasar.”

Menurutnya, kondisi tersebut akan mendorong kembali dolar ke jalur penguatan. Gambaran pertumbuhan global masih belum menguntungkan bagai emerging market,” ujarnya. Read the rest of this entry

Laba Bukit Asam naik tinggi berkat efisiensi

Ketika awan mendung menggayuti emiten pertambangan lantaran harga komoditas ini anjlok, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) justru mencetak pertumbuhan laba bersih yang positif.

Sepanjang tahun 2015, laba bersih perusahaan tambang pelat merah itu naik 11% year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 2,04 triliun.

Joko Pramono, Sekretaris Perusahaan PTBA, mengatakan, kinerja masih tinggi karena perseroan ini mendorong beberapa langkah efisiensi. Hal ini sudah terlihat dari biaya produksi PTBA yang turun 10% sepanjang tahun lalu menjadi Rp 394.866 per ton.

Efisiensi juga dengan memperpendek jarak angkut di lokasi tambang, menurunkan angka nisbah kupas alias stripping ratio dan menggunakan tenaga listrik milik sendiri.

“Perusahaan menggunakan kontraktor jasa penambangan milik sendiri untuk menggantikan sebagian pekerjaan kontraktor penambangan dari luar,” ujar Joko, Rabu (2/3).

Pendapatan perseroan ini naik 6% menjadi Rp 13,82 triliun dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar Rp 13,08 triliun. Angka tersebut salah satunya berasal dari hasil penjualan batubara PTBA yang tumbuh 6% menjadi 19,1 juta ton.

Komposisinya, 53% untuk memenuhi pasar domestik dan 47% untuk permintaan ekspor. Peningkatan volume penjualan PTBA juga berasal dari kontribusi peningkatan produksi sebesar 18% menjadi 19,28 juta ton.

Nah, berkaca pada pencapaian sepanjang tahun lalu, PTBA menargetkan volume penjualan batubara yang lebih tinggi pada tahun ini, menjadi 29,17 juta ton. Jumlah itu naik 51% dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Volume produksi dan pembelian batubara ditargetkan sebesar 28,32 juta ton atau naik 37% dibandingkan tahun 2015. PTBA yakin, bisa memperoleh kinerja penjualan yang lebih tinggi di tahun ini.

Perseroan ini sudah meningkatkan kapasitas Pelabuhan Tarahan dari 13 juta ton menjadi 25 juta ton per tahun. Baru-baru ini, emiten BUMN ini meneken komitmen pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yakni PLTU Halmahera Timur 2×40 MW di Maluku Utara, dan PLTU Kuala Tanjung 2×350 MW di Sumatera Utara. PLTU Kuala Tanjung untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik pabrik smelter PT Inalum.
Read the rest of this entry

Banyak Dana Masuk RI, Sampai Level Berapa Rupiah Menguat?

Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir.  Mata uang Paman Sam tersebut sempat turun sampai kisaran Rp 13.200. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS sore ini ditutup di Rp 13.285.

Salah satu pemicunya memang datang dari kebijakan suku bunga negatif oleh Jepang dan Uni Eropa. Banyak investor yang kebingungan untuk menempatkan dananya agar tetap untung. Pasar keuangan Indonesia menjadi pilihan untuk saat ini.

Cerita ini hampir persis seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Saat AS juga memberlakukan hal yang sama. Indonesia ikut menikmati berkah, karena besarnya arus modal yang masuk membuat dolar AS turun ke level di bawah Rp 10.000.
Read the rest of this entry

Sekarang Saatnya Membeli Emas: Deutsche Bank

Harga emas saat ini masih terbilang mahal, namun meningkatnya risiko ekonomi dan gejolak pasar sebaiknya disiasati investor dengan membeli emas untuk berjaga-jaga.

“Ada kenaikan tekanan di sistem keuangan global; terutama meningkatnya risiko siklus gagal bayar korporasi AS dan risiko devaluasi tajam renminbi yang disebabkan oleh tingginya arus keluar modal China,” papar Deutsche Bank dalam catatannya, Jumat (26/2).

“Membeli emas sebagai `asuransi` sangat dianjurkan,” imbuh bank Jerman itu, seperti dikutip CNBC. Deutsche Bank berpendapat sinyal ekonomi akhir-akhir ini menunjuk ke emas sebagai safe haven.

Kendati harga emas sudah turun dari kisaran US$1.900 pada 2011, menjadi sekitar US$1.200 per ounce akhir-akhir ini, Deutsche Bank menilai harga emas masih cukup mahal. Emasa masih berada dalam peringkat komoditas paling mahal, selama 15 tahun historis perdagangan emas.

“Agak seperti asuransi, yang pembeliannya seringkali tidak disukai banyak orang, sejumlah investor kemungkinan akan menolak untuk membeli pada level harga saat ini,” ungkap Deutsche Bank.

“Kendati demikian, kami berpendapat bahwa dengan semakin banyaknya penerapan suku bunga negatif secara global, biaya kepemilikan emas kini bisa diabaikan di banyak yurisdiksi. Oleh karena itu, emas layak diperdagangkan di level yang tinggi dibandingkan banyak aset lain,” tulis Deutsche Bank

Salah satu argumen yang menolak investasi di emas adalah sifatnya yang tidak menghasilkan imbal hasil (zero-yielding). Namun dengan kondisi pemangkasan suku bunga hingga memasuki teritori negatif oleh sejumlah bank sentral – termasuk Bank Sentral Eropa, Bank of Japan, bank sentral Swedia – mengikis keuntungan dari kepemilikan dana tunai, bertolak belakang dengan emas.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, menurut Deutsche Bank, juga dapat meringankan sejumlah risiko kejatuhan harga emas.

“Risikonya sedang menurun. Emas cenderung berkinerja buruk dalam kondisi pertumbuhan global yang kuat, bukan ketika sedang banyak hambatan. Pelambatan pertumbuhan, pasti menurunkan tekanan pada emas,” Deutsche Bank menambahkan.

Sebelumnya, bank swasta terbesar Jerman itu mengekspektasikan harga emas akan jatuh ke bawah US$1.000 per ounce pada kuartal keempat tahun ini, seiring dengan meningkatnya suku bunga Federal Reserve AS. Namun, alih-alih kenaikan suku bunga hingga tiga kali pada tahun ini, Deustche Bank belakangan mengekspektasikan The Fed akan lebih lama lagi menahan kenaikan suku bunga.

Dengan memperhatikan adanya kontraksi di sektor manufaktur yang berisiko menyebar ke sektor jasa-jasa, Deutsche Bank mengantisipasi hanya akan ada sekali kenaikan The Fed rate pada 2016. Sebaliknya, Deutsche Bank menaikkan perkiraan harga emas hingga kuartal empat nanti sebesar 26 persen ke kisaran US$1.230 per ounce.

Sepanjang tahun ini, berdaarkan data BNY Mellon, harga emas sudah naik hingga 16 persen terhadap euro, 17,5 persen terhadap dolar AS, hampir 24 persen terhadap poundsterling. Bahkan dibanding yen Jepang yang tengah mengalami apresiasi terhadap dolar AS, harga emas masih nak 9 persen terhadap yen.

Deutsche Bank mencatat harga emas cenderung menguat selama kuartal pertama tahun ini. Emas diekspektasikan akan mengalami pelemahan musiman, pada kuartal kedua dan ketiga nanti. Read the rest of this entry