Mata Uang Emerging Market Menguat … Sampai Kapan?

Nilai tukar mata uang emergng market telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, ditopang oleh kenaikan harga komoditas.

Indeks mata uang emerging market versi JP Morgan pada awal perdagangan di pasar uang Eropa, Jumat ini (4/3), mencapai 66,2, level tertinggi sejak Desember lalu. Indeks terdongkrak oleh lonjakan nilai tukar won Korea Selatan, ringgi Malaysia, dan renminb China.

Mata uang emerging market menguat tajam sejak akhir Januari lalu, setelah indeks menyentuh titik terendah sepanjang masa. Pekan ini indeks naik 2,2 persen, disokong oleh reli harga minyak.

Sejak Senin lalu ringgit melesat 2,5 persen terhadap dolar, won melonjak 3,2 persen, dan renminbi di pasar uang internasional menguat 0,6%. Rupee India melaju 2,4 persen dan rupiah naik 1,9%. Stabilitas harga komoditas juga membantu mengangkat dolar Kanada – lebih dari 9 persen sejak 20 Januari lalu – dolar Australia melomapt 7,4 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, muncul pertanyaan apakah reli mata uang emerging market bakal berkelanjutan? Ahli strategi valas BNY Mellon, Neil Mellor memperingatkan bahwa kekhawatiran akan isu pasokan minyak global dan strategi ekonomi Chinamasih belum berakhir.

“Mata uang berbasis komoditas bergulir cepat selama beberapa pekan terakhir dan sementara ini dunia menjadi ‘tempat yang lebih baik’ … investor dapat diekspektasikan akan terus berjemur di bawah sinar matahari,” kata Mellor. “Tapi selama fundamental tak dapat mengejar ketertinggalannya dengan entusiasme pasar saat ini, hampir pasti awan gelap kembali dengan cepat,” imbuh Mellor, seperti dikutip Financial Times (4/3).

Ada juga kekhawatiran, jika rilis data penggajian AS Jumat ini memperlihatkan penguatan tajam, bisa  meningkatkan kembali ekspektasi  akan kenaikan suku bunga AS untuk kedua kalinya, sehingga dapat memukul aset dan mata uang emerging market.

“Bagi kami, kasus pengetatan moneter The Fed merupakan bola liar,” ungkap ahli strategi Brown Brothers Harriman dalam catatannya kepada klien. “Proyeksi likuiditas global saat ini sudah bergerak mendukung emerging market. Tapi meningkanya ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed akan mengecewakan pasar.”

Menurutnya, kondisi tersebut akan mendorong kembali dolar ke jalur penguatan. Gambaran pertumbuhan global masih belum menguntungkan bagai emerging market,” ujarnya.

Sumber : ipotnews.com

http://belajar-cara-membuat-website.blogspot.co.id/

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/jasa-pembukuan.html

http://ide-peluang-bisnis.blogspot.co.id/p/program-persediaan-otomatis.html

Posted on March 8, 2016, in Ekonomi Dan Investasi and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: