Monthly Archives: January 2017

Utang Trump Berceceran di Wall Street, Berpotensi Timbulkan Konflik

Utang Presiden AS terpilih, Donald Trump dan jaringan bisnisnya berceceran di bank, reksa dana dan institusi keuangan lainnya di sekitar Wall Street, memperbesar kerumitan yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam pemerintahan Trump.

Ratusan juta dolar utang tersebut melibatkan bisnis properti Trump, beberapa di antaranya didukung dengan jaminan pribadi Trump. Analisis Wall Street Journal (WSJ) terhadap dokumen legal dan properti Trump menemukan bahwa utang-utang tersebut dikemas dalam bentuk surat berharga dan dijual ke inevestor selama lima tahun terakhir.

Sebelumnya, Trump pernah mengungkapkan bahwa jaringan bisnisnya berutang sedikitnya US$315 miliar kepada 10 perusahaan. Namun menurut hasil analis WSJ, utang bisnis Trump berasal dari 150 institusi lebih. Mereka membeli utang-utang tersebut setelah dipecah-pecah dan dikemas kembali dalam bentuk obligasi (proses ini disebut sekuritisasi), yang diterapkan pada utang bernilai lebih dari US$1 miliar yang terkait dengan perusahaan-perusahaan Trump.

Akibatnya, semakin banyak intitisi keuangan yang kini mempunyai posisi kuat yang berpotensi mempengaruhi Trump. Jika bisnis Trumo mengalami gagal bayar utang, lembaga-lemabga keuangan raksasa yang bertindak sebagai “pemberi jasa khusus” dalam pembentukan “kolam utang” itu akan mempunyai kewenangan untuk mengambil alih sejumlah properti Trump atau mengupayakan puluhan juta dolar jaminan pribadi Trump terhadap berbagai pinjamannya.

“Permasalahan pada utang-utang itu adalah jika terjadi sesuatu yang tidak benar, dan jika terjadi situasi dimana secara tiba-tiba presiden AS terikat secara pribadi atau rentan terhadap ancaman dari para pemberi pinjaman,” kata Trevor Potter, yang bertindak sebagai konsultan umum kampanye pemilu calon presiden Republiken, George HW Bush dan John Mc Cain, seperti dikutip The Wall Street Journal (5/1).

Salah satu lembaga keuangan yang mempunyai keterkaitan besar dengan Trump adalah Wells Fargo & Co. Menurut analisis yangdilakukan Mornigstar untuk WSJ, Wells menyelenggarakan sedikitnya lima reksa dana yang mempunyai bagian dalam sekuritisasi utang bisnis Trump. Wells juga menjadi wali amanat atau administrator pengumpulan dana dari sekuritisasi pinjaman, termasuk pinjaman senilai US$282 juta untuk Trump.

Wells juga bertindak sebagai pemberi jasa khusus senilai US$950 juta berupa pinjaman untuk properti sebagian diantaranya dimiliki oleh perusahaan Trump. Segera seteolah dilantik menjadi Presiden AS, Trump akan menunjuk pimpinan dan kepala lembaga-lembaga regulator yang akan mengawasi perbankan.

Jaringan bisnis Trump juga tercatat memiliki sejumlah besar utang ke lembaga keuangan non-Amerika. Diantaranya total utang sebesar US$340 juta, termasuk US$170 juta pinjaman siaga ke Deutsche Bank. Bersama-sama dengan UBS Group AG, Goldman Sachs Group dan Bank of China, pada 2012 lalu Deutsche Bank menyepakati pemberian pinjaman sebesar US$950 juta ke sebuah perusahaan yang 30 persen sahamnya dimiliki Trump.

Lembaga keuangan lain yang disebut-sebut memiliki utang piutang dengan bisnis Trump antara lain  J.P. Morgan Chase & Co.,  BlackRock Inc., Fidelity Investments, Invesco Ltd., Pacific Investment Management Co., Prudential PLC and Vanguard Group. Namun para pembantu Trump, dan juru bicara lembaga-lembaga keuangan tersebut menolak mengomentari atau tidak merespon permintaan WSJ untuk mengklarifikasi.

Sebenarnya lumrah saja bila investor real estat besar di AS memiliki utang yang tersebar di lembaga-lemabga keuangan di seputaran Wall Street. Namun luasnya sebaran dan besarnya utang-utang jaringan bisnis Trump berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antara perannya sebagai presiden dan masalah keuangan pribadinya. Apalagi jika Trump memilih untuk melepas kepemilikan bisnis real estatnya.

“Potensi konfliknya sanga berbahaya dan benar-benar ada pada situasi saat ini,” kata Lawarenco Noble, mantan konsultan Federal Election Commission, yang kini bergabung di lembaa nonpartisan Campaign Legal Center.

Apalagi Trump belum mengumumkan rencananya untuk melepas kepentingannya di kerjaan bisnisnya sebelum dilantik menjadi presiden pada 20 Januari nanti. Meskipun sempat mengatakan telah  mengambil langkah dan akan mengumumkannya pada Desember lalu, namun rencana tersebut ditunda. Rencananya, Trump akan menggelar  konferensi pers pada 11 Januari nanti, namn tidak jelas apakah akan menjelaskan masalah bisnisnya di forum tersebut. Read the rest of this entry

Advertisements